Indonesia Dihantui Inflasi Besar: Dampak Pelemahan Rupiah ke Komoditas Pangan Masih Minim
Inflasi nasional diprediksi naik. Benarkah dampak pelemahan Rupiah ke komoditas pangan masih minim? Simak ulasannya
Nusantaraterkini.co, MEDAN - Laju tekanan inflasi Nasional diproryeksikan akan naik mendekati 3% (2.92%) secara tahunban atau year on year di bulan Mei. Kenaikan laju tekanan inflasi tersebut akan membuat upaya pengendalian inflasi di tahun ini akan lebih rumit dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
"Karena realisasi inflasi nasional mendekati target batas atas BI di level 3.5%," ungkap Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin, Minggu (31/5/2026).
Gunawan memperkirakan, kenaikan laju tekanan inflasi di beberapa bulan yang akan datang masih akan berlangsung. Menurutnya, transmisi pelemahan Rupiah mulai dirasakan pada produk pertanian dalam bentuk lonjakan harga pokok produksi (HPP) pada bulan Juni.
"Di mana dampak dari pelemahan Rupiah belakangan ini telah mendorong kenaikan sejumlah biaya input produksi seperti pupuk, plastik mulsa, pestisida, herbisida, gaji buruh tani hingga biaya logistik," jelasnya.
Gunawan menyebutkan, ancaman kenaikan inflasi kebdepan juga masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah godzilla el nino yang bisa memicu gagal panen atau menekan produktivitas tanaman.
"Sementara di sisi lainnya pelemahan Rupiah sejauh ini telah ditransformasikan pada kenaikan sejumlah kebutuhan harian yang diproduksi oleh perusahaan manufaktur," ujarnya.
"Seperti kebutuhan kamar mandi, cuci pakaian, pembalut maupun popok, atau kebutuhan rumah tangga harian diluar kebutuhan pangan," sambungnya.
Gunawan mengatakan, dampak dari pelemahan Rupiah terhadap pembentukan harga komoditas pangan pokok belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat sejauh ini. Meskipun pada beberapa komoditas pangan seperti tempe, tahu serta komoditas pangan lain yang bahan bakunya didatangkan dari luar sudah mengalami penyesuaian harga maupun ukuran akibat penguatan US Dolar.
Karena itu, pemerintah harus mewaspadai potensi lonjakan inflasi yang bisa mengganggu pemenuhan dasar masyarakat.
"Sudah terlihat beberapa ancaman di depan mata yang membutuhkan mitigasi kebijakan guna meredam potensi lonjakan harrga. Pemerintah perlu menumpuk pasokan untuk komoditas penting untuk meminimalisir dampak negatif el nino serta ketidakpastian geopolitik," terangnya.
Dia menambahkan, bantuan sosial pangan pemerintah memang bisa menjadi bumper bagi sejumlah masyarakat, sehingga bisa terselamatkan dari potensi kenaikan inflasi. Namun potensi kenaikan laju tekanan inflasi ke depan berpeluang membuat kemampuan masyarakat menurun untuk memenuhi kebutuihan dasar.
"Disisi lain kebutuhan rumah tangga lainnya sudah naik terlebih dahulu," pungkasnya.
(Akb/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
-
NEWSVideo WBP Diduga Pesta Sabu Viral, Lapas Tebingtinggi Dirazia: Tim Gabungan Temukan Sajam Hingga Handphone
hendra·5 jam yang lalu -
SUMSELMenko Pangan Tinjau Pembakaran Perdana PSEL Palembang, Sampah Keramasan Mulai Diolah Jadi Listrik
hendra·5 jam yang lalu -
-
NASIONALTrump dan Xi Redakan Ketegangan, Dunia Menatap Babak Baru Hubungan AS-Tiongkok
hendra·6 jam yang lalu -
NEWSSurat Advokat Jadi Objek Perkara Pidana, Hasrul Benny: Ini Kriminalisasi Produk Advokat
hendra·7 jam yang lalu -
KRIMINALPolisi Gagalkan Pengiriman 296 Cartridge Etomidate dari Malaysia ke Medan, Nilainya Rp888 Juta
hendra·8 jam yang lalu -
INTERNASIONALKlaster Mewah Lapas Cibinong Diusut, Menteri Imipas Siapkan Sanksi hingga Pencopotan
hendra·8 jam yang lalu -
KRIMINALBea Cukai Gagalkan Peredaran 2,3 Juta Batang Rokok Ilegal di Kutai Kartanegara
hendra·8 jam yang lalu -
NEWS287,2 Ton Jagung Berhasil Dikirim Polres Binjai ke Bulog Medan Sejak Program Ketahanan Pangan Polri Diluncurkan
hendra·9 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan