Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Ekonom: Pergantian Kepemimpinan BI Tak Cukup Perkuat Rupiah ​

Ekonom Didik J Rachbini menilai pergantian pimpinan BI belum cukup memperkuat rupiah akibat tekanan struktural ekonomi Indonesia.

Bagikan:
Ekonom Senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina Prof Didik J Rachbini memberikan pemaparan analisis ekonomi terkait proyeksi nilai tukar rupiah dan kinerja Bank Indonesia di Jakarta, Minggu (30/8/2026). (foto: istimewa)
Ekonom Senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina Prof Didik J Rachbini memberikan pemaparan analisis ekonomi terkait proyeksi nilai tukar rupiah dan kinerja Bank Indonesia di Jakarta, Minggu (30/8/2026). (foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Pergantian kepemimpinan di tubuh () diperkirakan belum mampu mengubah fundamental nilai tukar secara signifikan dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Ekonom Senior sekaligus Rektor Prof , menilai rupiah masih akan terus dibayang-bayangi tekanan akibat persoalan struktural yang belum terselesaikan, baik pada sektor moneter, riil, domestik, maupun tekanan pasar luar negeri. 

"Keberadaan pasar domestik dan jumlah populasi Indonesia yang besar tidak otomatis menjadi jaminan mata uang nasional menguat, terlebih ketika aktivitas ekonomi nasional masih cenderung berorientasi ke dalam negeri () dengan tingkat ketergantungan industri yang tinggi terhadap pasokan bahan baku impor yang mendorong permintaan ," ujar Didik, Minggu (30/8/2026).

​Dalam analisisnya, Didik menyoroti keterbatasan instrumen BI yang dinilai terlalu konservatif lantaran kerap bertumpu pada penyesuaian suku bunga acuan semata. Langkah menaikkan suku bunga memang berpotensi menarik masuk modal asing, namun di sisi lain berisiko melambungkan biaya pembiayaan usaha, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), hingga iklim domestik. 

Selain itu, lanjutnya, kapasitas Indonesia per Juli 2026 yang tercatat sebesar 145,3 miliar dolar AS dinilai masih sangat terbatas sebagai penyangga eksternal negara sebesar Indonesia, jika dibandingkan dengan cadangan devisa yang mencapai 426,2 miliar dolar AS maupun yang menyentuh 279,2 miliar dolar AS.

​"Kondisi tersebut kian diperberat oleh tantangan ekosistem nasional, seperti maraknya praktik korupsi, kepastian hukum yang lemah, tingginya biaya transaksi, serta tingginya persepsi risiko investasi yang membuat aliran modal asing lebih memilih negara berkembang lainnya," ungkapnya.

Guna mengatasi krisis struktural ini, Didik mendesak pemerintah dan otoritas terkait untuk segera menggeser orientasi ekonomi menjadi melalui penguatan nonkomoditas, peningkatan daya saing sektor , serta penciptaan iklim investasi yang mampu menghasilkan devisa secara berkelanjutan.

​"Sampai lima tahun mendatang tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah," pungkasnya.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru