Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan 16 Juni 2025 Senin harga minyak mentah WTI tercatat naik 0,91% ke US$ 73,64 per barel dalam 24 jam terakhir. Kenaikan ini menambah akumulasi penguatan 12,73% dalam sepekan.
BACA JUGA: IHSG Naik 0,29% Bertambah 20,83 Poin ke Level 7.186,90 Pagi Ini
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali mencatatkan kenaikan pada awal pekan ini, memperpanjang reli tajam yang terjadi sejak Jumat lalu.
Lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan udara antara Israel dan Iran semakin meluas.
BACA JUGA: Perang Israel vs Iran Memicu Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam
Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha menilai bahwa kondisi teknikal saat ini menunjukkan kecenderungan yang kuat terhadap tren bullish.
Sinyal teknikal ini diperkuat oleh volume transaksi opsi beli (call options) minyak senilai US$ 80 yang mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
Menunjukkan ekspektasi kuat dari para pelaku pasar bahwa harga minyak masih akan terus naik.
"Ini merupakan indikator bahwa banyak trader yang memperkirakan adanya potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah," ujarnya dalam risetnya.
Ia juga menambahkan bahwa jika tekanan bullish berlanjut, harga WTI berpotensi menguji area resistance di level US$ 77 per barel dalam waktu dekat.
Dari sentimen, faktor geopolitik menjadi pendorong utama dalam reli harga minyak saat ini.
Serangan balasan antara Israel dan Iran pada akhir pekan mengakibatkan korban sipil serta meningkatnya kekhawatiran akan konflik berskala lebih besar di kawasan.
Ketegangan ini mengarah pada risiko gangguan distribusi minyak, terutama di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilewati sekitar 20% dari konsumsi minyak global.
Maklum, Iran merupakan produsen utama OPEC dengan produksi sekitar 3,3 juta barel per hari dan ekspor lebih dari 2 juta barel.
Serangan terhadap infrastruktur energi Iran atau potensi blokade Selat Hormuz akan sangat mengganggu suplai global.
Meskipun OPEC dan sekutunya memiliki kapasitas cadangan untuk menutup kekurangan tersebut, pasar tetap merespons dengan kekhawatiran tinggi terhadap ketidakpastian pasokan.
Namun, Andy juga mengingatkan adanya potensi koreksi harga jika pasar mulai merespons secara berlebihan.
"Jika harga gagal mempertahankan tren naiknya dan terjadi tekanan jual, maka WTI berpotensi terkoreksi menuju support terdekat di level US$ 71," jelasnya.
Sentimen lainnya dipengaruhi oleh dinamika politik global. Pernyataan Trump yang menyarankan perlunya ‘pertarungan’ sebelum gencatan senjata tercapai menambah kompleksitas situasi. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas harga minyak diprediksi akan tetap tinggi.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
