Nusantaraterkini.co, MEDAN - Benturan di kepala sering dianggap sepele, apalagi jika tidak sampai menyebabkan pingsan atau luka terbuka. Padahal, efek jangka panjang benturan di kepala tidak selalu muncul seketika dan bisa berdampak serius pada kesehatan serta kualitas hidup seseorang di kemudian hari.
Benturan dapat terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, terjatuh, aktivitas olahraga, hingga kejadian sehari-hari di rumah. Meski tampak ringan, benturan tersebut berpotensi menyebabkan cedera pada otak, saraf, serta jaringan di sekitar kepala, bahkan tanpa gejala berat pada awal kejadian.
Karena itu, penting untuk memahami berbagai risiko dan tanda yang mungkin muncul setelah mengalami benturan kepala agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Baca Juga : Selama Ramadan, RS Adam Malik Lakukan Penyesuaian Jam Pelayanan, Catat Jadwalnya
Berbagai Efek Jangka Panjang Benturan di Kepala
Berikut sejumlah dampak jangka panjang yang perlu diwaspadai:
1. Gangguan fungsi kognitif
Baca Juga : Kemenkes Tegaskan Tak Ada Efek Samping Akibat Vaksin Covid-19 di Indonesia
Benturan kepala dapat memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, dan berkonsentrasi. Penderitanya bisa menjadi lebih mudah lupa, sulit fokus, serta lambat dalam memproses informasi. Kondisi ini kerap terjadi jika cedera mengenai area frontal atau temporal otak.
Nyeri kepala yang muncul berulang atau berlangsung lama merupakan keluhan yang sering dialami pasca-benturan. Rasa sakit dapat menyerupai migrain atau nyeri tegang akibat gangguan saraf, pembuluh darah, maupun otot di sekitar kepala dan leher.
Baca Juga : Program Berobat Pakai KTP, Pemerintah Imbau RS Sediakan 30 Persen Kamar Kelas 3 dan Jangan Tolak Pasien
3. Epilepsi pascatrauma
Benturan keras pada kepala dapat meningkatkan risiko epilepsi. Kerusakan atau perdarahan di otak dapat mengganggu aktivitas listrik sel-sel otak dan memicu kejang, bahkan muncul beberapa waktu setelah cedera terjadi.
4. Kelemahan hingga kelumpuhan anggota gerak
Baca Juga : Asam Urat Sebaiknya Konsumsi Vitamin Apa?
Cedera pada area otak yang mengatur gerakan bisa menyebabkan tubuh melemah atau lumpuh, baik sebagian maupun seluruhnya. Kondisi ini bisa bersifat sementara atau menetap, tergantung tingkat keparahan cedera, dan sering memerlukan rehabilitasi jangka panjang.
5. Gangguan tidur
Benturan di kepala dapat mengganggu pusat pengaturan tidur di otak. Akibatnya, penderita mengalami sulit tidur, sering terbangun, atau tidur tidak nyenyak. Gangguan ini dapat memperburuk kelelahan dan konsentrasi.
Baca Juga : Bakti Sosial Rail Clinic di Stasiun Baja Linggei, 200 Warga Dapat Layanan Kesehatan Gratis
6. Perubahan suasana hati dan perilaku
Perubahan emosi seperti mudah marah, cemas berlebihan, depresi, hingga perubahan kepribadian dapat terjadi akibat gangguan pada area otak yang mengatur emosi dan kontrol diri.
7. Gangguan keseimbangan dan koordinasi
Baca Juga : RSU Haji Medan Dorong Peningkatan Kapasitas SDM dan Penelitian
Benturan kepala dapat memengaruhi otak kecil dan sistem keseimbangan, sehingga menimbulkan pusing, rasa goyah, atau kesulitan berjalan. Kondisi ini meningkatkan risiko jatuh, terutama pada lansia.
8. Masalah pada leher dan saraf
Cedera kepala sering disertai trauma leher, seperti whiplash. Keluhan nyeri leher dapat menjalar ke bahu atau lengan dan disertai kesemutan akibat iritasi saraf di tulang leher.
9. Telinga berdenging (tinnitus)
Sensasi berdenging atau berdesing di telinga tanpa sumber suara jelas dapat muncul akibat gangguan saraf pendengaran atau pusat pendengaran di otak.
10. Gangguan penglihatan
Benturan kepala dapat menyebabkan penglihatan kabur, pandangan ganda, mata cepat lelah, hingga sensitif terhadap cahaya akibat gangguan pada saraf dan pusat visual otak.
11. Gangguan mental jangka panjang
Cedera kepala juga dapat meningkatkan risiko gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD), terutama bila disertai pengalaman traumatis.
12. Koma atau status vegetatif
Pada benturan yang sangat berat, kerusakan otak luas dapat menyebabkan koma atau status vegetatif jangka panjang, yang memerlukan perawatan intensif dan dukungan medis berkelanjutan.
Faktor Risiko yang Perlu Diperhatikan
Tidak semua orang mengalami efek jangka panjang, namun risikonya lebih tinggi pada:
Lansia
Riwayat benturan kepala berulang (misalnya atlet)
Pernah kehilangan kesadaran
Gangguan pembekuan darah atau riwayat operasi otak
Tidak mendapatkan penanganan medis segera setelah cedera
Efek jangka panjang benturan di kepala kerap berkembang perlahan. Oleh sebab itu, jangan mengabaikan perubahan kecil pada fisik, emosi, atau kemampuan berpikir setelah mengalami benturan, meski awalnya terasa ringan.
Jika muncul keluhan seperti sakit kepala berkepanjangan, gangguan penglihatan, perubahan perilaku, atau sulit berkonsentrasi, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
(Dra/nusantaraterkini.co).
