Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Abad Pencerahan dan Bencana dari Akal Budi

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Ragil
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Mujahiddin, Associate Profesor Pada Bidang Studi Pembangunan di FISIP UMSU.(foto:istimewa)

Nusantaraterkini.co, Dalam kehidupan di bumi ini, manusia seringkali diposisikan sebagai makhluk yang dominan di antara makhluk hidup lainnya. Pandangan tersebut pada dasarnya dipelopori oleh filsafat antroposentrisme; yaitu satu pandangan filosofis yang menyakini bahwa manusia adalah entitas sentral dan paling penting dalam alam semesta. Di sini, nilai intrinsik hanya dimiliki manusia, sedangkan alam dan makhluk lain dinilai berdasarkan manfaatnya bagi manusia (nilai instrumental). 

Pandangan inilah yang sering kali menjadi dasar bagi eksploitasi sumber daya alam untuk keuntungan manusia dan pertumbuhan ekonomi, dan kemudian dikritik karena menjadi akar krisis ekologis. 
Secara historis, pandangan antroposentrisme ini tumbuh bersamaan dengan lahirnya abad pencerahan atau Renaisans. Satu abad di mana masyarakat eropa keluar dari segala bentuk kegelapan dan kesengsaraan. Pada abad ini pengetahuan muncul dan membantuk beragam inovasi yang mempelopori lahirnya revolusi industri. Ya, dengan kata lain, terjadi perubahan sosial dalam skala besar. 

Kemajuan pada abad pencerahan ini ditandai dengan penekanan kuat pada rasio (akal-budi) dan pemikiran kritis manusia. Para filsuf seperti Immanuel Kant, Voltaire, dan Jean-Jacques Rousseau menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya sendiri untuk memahami dunia dan memecahkan masalah kehidupan. Fokus pada kemampuan kognitif manusia ini secara inheren menempatkan manusia pada posisi sentral dalam tatanan eksistensi dunia. 

Baca Juga : Simon Bolivar ‘El Libertador’  

Sebelum abad pencerahan, masyarakat eropa terkukung dalam pandangan yang bersifat teosentris, di mana tuhan dan institusi agama adalah pusat dari segala sesuatu. Abad Pencerahan menantang dominasi ini dan mempromosikan sekularisme, yang melepaskan manusia dari belenggu dogma agama yang kaku dan menempatkan keputusan serta moralitas di tangan manusia itu sendiri. 

Abad Pencerahan  

Gerakan abad pencerahan tersebut kemudian mempromosikan banyak hal; tidak hanya paham sekulerisme, tetapi juga mempromosikan metode ilmiah dan bukti empiris; yang membawa manusia kearah revolusi ilmiah dan kemajuan teknologi yang signifikan. Keberhasilan manusia dalam memahami dan memanipulasi alam melalui sains dan teknologi semakin memperkuat keyakinan bahwa alam ada untuk dimanfaatkan demi kemakmuran manusia, sebuah inti dari pandangan antroposentrisme. 

Baca Juga : Bencana Sumatera: Kemanusiaan Di Atas Segala-galanya

Pada titik inilah awal mula potensi bencana di bumi ini lahir. Atas nama kemakmuran, atas nama kesejahteraan, manusia melakukan ekpoloitasi terhadap segala bentuk sumber daya alam.  Eksistensialisme akal budi manusia justru menafikan kepentingan ekologisnya. Karena keserakahannya, manusia lupa bahwa bumi yang menjadi tempat tinggal beragam makhluk hidup pada dasarnya memiliki keterbatasan atau dalam istilah lain disebut Finite Earth.

Keterbatasan dalam konsep Finite Earth menandakan bahwa sumber daya alam tidak dapat beregenerasi secepat laju konsumsi manusia. Beberapa sumber daya, seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam, bersifat tidak terbarukan dan akan habis. Sumber daya lain, seperti air bersih, hutan, dan keanekaragaman hayati, dapat diperbarui, tetapi hanya jika dikelola secara hati-hati; eksploitasi berlebihan telah mendorong banyak dari mereka ke ambang kehancuran. Di sisi lain, populasi global telah melonjak, dan standar hidup di banyak negara meningkat, mendorong permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk energi, makanan, air, dan barang konsumsi. 

Pola konsumsi yang didominasi oleh negara-negara maju dan negara berkembang sering kali melampaui kapasitas regeneratif alami Bumi. Hal ini yang kemudian sering memicu perdebatan di antara para ahli ekonomi publik dengan pertanyaan; “mungkinkah pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas terjadi di planet dengan sumber daya yang terbatas?”

Baca Juga : Kabupaten OKI Jadi Penyumbang Karhutla Terbesar di Sumatera Selatan Sepanjang 2025

Antroposentrisme Yang Keliru 

Kita boleh saja berdebat tentang jawaban pertanyaan di atas; yaitu paradoks antara mengejar pertumbuhan ekonomi dan keterbatasan ekologis. Tetapi secara faktual, sesungguhnya manusia itu tidak mempunyai daya upaya apapun ketika ia dihadapkan pada perlawanan alam (yang selalu disebut sebagai bencana). Banjir, tanah longsor, badai, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erupsi gunung berapai, gempa bumi dan lain sebagainya; kita tidak sanggup menghadapi Gerak alam tersebut. Yang bisa kita lakukan ketika itu semua terjadi adalah berlindung ke lokasi-lokasi yang kita anggap lebih aman. Bagi yang tidak sempat untuk menyelamatkan diri dari gejolak alam, maka akan menjadi korban. 

Fakta tersebut harusnya menyadarkan manusia tentang kelirunya pandangan antriposen yang memposisikan manusia sebagai sentral. Bencana antroposentris adalah cerminan dari pandangan yang terlalu fokus pada diri sendiri (antroposentrisme), yang menganggap alam dapat dikuasai, padahal tindakan tersebut justru merusak sistem pendukung kehidupan manusia.

Baca Juga : Belum Terima Pemberitahuan Resmi, PT Agincourt Resources Enggan Berkomentar

Maka secara jujur manusia harus membangun ulang kesadaran mereka untuk dapat hidup selaras bersama alam. Bukankah ada pepatah yang menyatakan “Alam Takambang Jadi Guru”; yang berarti segala sesuatu di alam dapat menjadi sumber pembelajaran dan petunjuk hidup. 

Bersandar Pada Teknologi? 

Para pengikut antroposentrisme juga memiliki dalil pembelaan terhadap kritik yang dihadapkan kepada mereka terkait krisis lingkungan. Kebanyakan dari pengikuti antroposenterisme menyandarkan diri pada inovasi-teknologi yang berhasil diciptakan oleh manusia. Kekuatan teknologi digunakan untuk mendematerialisasi ekonomi, memisahkan pertumbuhan dari dampak lingkungan, dan secara aktif berupaya untuk menciptakan bentuk antroposen “yang baik”. 

Pembelaan ini tidak selamanya benar dan bisa diterima. Pada beberapa kasus, kehadiran teknologi justru dapat menjadi petaka baru bagi keberlanjutan lingkungan. Revolusi pertanian yang didorong oleh inovasi teknologi bidang pertanian justru memberikan kontribusi signifikan terhadap krisis ekologis; mulai dari degradasi dan penipisan tanah, pencemaran air dan tanah, hilangnya kanekaragaman hayati, dan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK). Meskipun revolusi pertanian berhasil meningkatkan produksi pangan secara drastis untuk populasi manusia yang terus bertumbuh, tetapi metode yang digunakan sering kali tidak berkelanjutan secara ekologis. 

Refleksi Bencana Sumatera 

Berkaca dari bencana hidrometeorologi di Sumatera beberapa pekan lalu, perilaku antroposentrisme kita tampaknya memang harus segera dihentikan. Segala bentuk aktivitas penggundulan hutan harus segera di rem. Meski tidak memiliki dampak langsung terhadap pembentukan siklon tropis, tapi penggundulan hutan berkontribusi terhadap peningkatan suhu pemanasan global, sebagian besar panas tersebut diserap oleh laut dan dapat meningkatkan suhu air laut secara bertahap, yang pada akhirnya dapat menjadi sebab terbentuknya siklon tropis, karena siklon tropis membutuhkan suhu permukaan laut yang hangat, biasanya di atas 26.5°C. 

Kini, pascabencana, kita menyaksikan tidak hanya ratusan ribu rumah yang rusak, seribuan jiwa nyawa melayang, ratusan fasilitas pendidikan, kesehatan dan tempat ibadah yang rusak, tapi juga ada orangutan yang mati, ada keragaman hayati yang terancam punah. Bukankah itu merupakan tanggung jawab kita sebagai makhluk hidup yang punya pikiran? Namun sayangnya, pikiran dan akal-budi yang tumbuh secara modern itu justru menjadi mesin perusak ekosistem.

Penulis: Mujahiddin, Associate Profesor Pada Bidang Studi Pembangunan di FISIP UMSU