Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

8.000 Hektare Sawah di Sumsel Terendam Banjir, DPTPH: Belum Ada Gagal Panen

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Adetia Purwaningsih
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kepala DPTPH Sumsel, Bambang Pramono saat diwawancarai langsung di Griya Agung Palembang, Rabu (14/1/2026). (Foto: Tia/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Sumatra Selatan (Sumsel) menyebut sekitar 8.000 hektare lahan pertanian di wilayah itu terendam banjir akibat cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir.

Banjir tersebut melanda kawasan persawahan di dua wilayah lumbung pangan utama, yakni Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Kepala DPTPH Sumsel, Bambang Pramono menyampaikan, meski luasan lahan yang tergenang cukup besar, hingga saat ini belum ditemukan adanya kondisi gagal panen total atau puso.

Baca Juga : Bulog Pertebal Cadangan Pangan di Sumatra: Antisipasi Defisit Produksi Akibat Banjir 70 Ribu Hektare

“Per hari ini laporan yang kami terima luasan ada 8.000-an ha lebih lahan pertanian yang tergenang,” ujarnya saat diwawancarai di Griya Agung, Palembang, Rabu (14/1/2026).

Bambang merincikan, dari total lahan terdampak, terdapat 3.995 hektare tanaman yang mengalami kerusakan serius karena masih berada pada fase awal tanam.

Tanaman padi yang masih muda tersebut dinilai tidak memiliki daya tahan yang cukup kuat terhadap genangan air yang merendam batang dalam waktu lama.

Sebagai langkah penanggulangan, pemerintah segera menyiapkan bantuan benih untuk mengoptimalkan kembali lahan-lahan yang rusak tersebut agar petani dapat melakukan tanam ulang.

Baca Juga : Firman Soebagyo Usul Anggaran Dialihkan Beli Lahan Produktif untuk Mewujudkan Swasembada Pangan Nasional

“Kita akan melakukan percepatan untuk segera memberikan bantuan yang bisa dioptimalkan, yang rencananya itu bantuan benih,” jelasnya.

Di sisi lain, terdapat sekitar 4.000 hektare lahan lainnya yang dipastikan tetap aman dan berpotensi besar untuk diselamatkan dari ancaman gagal panen.

Hal ini disebabkan tanaman pada lahan tersebut sudah memasuki fase mendekati masa panen sehingga lebih tangguh terhadap kondisi air yang meluap.

“Mudah-mudahan tidak merusak hasil pertanaman tersebut,” imbuhnya.

Pada tahun 2026 ini, DPTPH Sumsel tetap mematok target kenaikan produksi sebesar 5 persen dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya.

Baca Juga : Komisi II Minta Kepala Daerah Tegas Tegakkan Aturan Imbas 554.000 Hektare Sawah Jadi Permukiman dan Industri

Untuk mencapai target itu, pemerintah fokus melakukan intensifikasi lahan serta menjaga konsistensi luas panen agar tidak menyusut akibat bencana alam.

Penyaluran benih unggul diharapkan tidak hanya mengganti kerugian petani yang terdampak banjir, tetapi juga mampu mendongkrak produktivitas secara keseluruhan sepanjang tahun.

“Jadi diharapkan di 2026 tidak hanya mengamankan luas panen 2025, tetapi bisa menambah produksi di 2026,” ucap dia.

(Tia/Nusantaraterkini.co)