Nusantaraterkini.co, TAPTENG - 18 hari sudah bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, khususnya di kecamatan Tukka, Simpang Hutanabolon, lorong 3 dan 4, Kelurahan Huatanbolon tampak cuma satu alat berat Dozer yang melakukan aktivitas, Sabtu (13/12/2025).
Hal ini menjadi perhatian yang serius buat Pemerintah Kabupaten Tapteng, disebabkan wilayah ini adalah lokasi yang terparah dan memakan puluhan korban jiwa.
Baca Juga : DPC HIMNI Tapteng Apresiasi Donatur atas Bantuan bagi Korban Bencana
Tampak lokasi yang awalnya padat penduduk, kini rata dengan material pasir, lumpur, batu besar dan potongan kayu, hanya beberapa rumah dan satu gereja berdiri, namun didalamnya penuh dengan timbunan pasir setinggi 100 Cm.
Beberapa warga mengeluhkan lambatnya penanganan dari pemerintah. Salah seorang warga, Hanimun Tampubolon mengungkapkan semenjak awal bencana baru satu alat berat yang diturunkan.
"Baru Dozer ini yang dikerahkan, itupun hanya untuk mendorong material pasir dan tanah di jalan," ucapnya.
Baca Juga : Kisah Pilu Rokki: Mencari Ayah di Desa Bair Tapteng yang Lenyap Ditelan Longsor Bandang
Ia berharap ada tambahan alat berat dalam mempercepat proses penanganan material yang menimbun wilayah Hutanabolon.
"Kiranya satu atau dua alat berat, seperti excavator (beko) harusnya dikerahkan, untuk mengangkut timbunan lumpur di sungai yang telah rata dengan pemukiman," jelas Hanimun Tampubolon.
"Bila aliran sungai tidak dikeruk terlebih dahulu, pastinya bila hujan tiba, air cepat naik kembali memenuhi jalan dan rumah serta pemukiman penduduk," timpalnya.
Baca Juga : Kisah Pilu Nasruddin Tanjung: Saksikan Rumah Lenyap Dihantam Banjir Kayu di Tapteng
Hanimun Tampubolon, salah satu korban yang rumahnya sudah hancur di porak porandakan banjir dan tanah longsor, 25 November 2025 lalu.
Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah untuk menambahkan alat berat, untuk mempercepat penanganan dan pemulihan kembali kelurahan Hutanabolon pascabanjir dan tanah longsor.
(Jjm/Nusantara terkini.co)
