Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Warga Sebut yang Menghancurkan Rumah tak Hanya Banjir, Namun Hantaman Gelondongan Kayu

Editor:  Fadli Tara
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.co, TAPANULI TENGAH - Sedikitnya tujuh rumah warga di Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, hilang dan satu rumah rusak parah setelah banjir besar melanda pada Selasa (25/11/2025).

Peristiwa itu, disebut warga sebagai banjir paling dahsyat dalam riwayat banjir di Kecamatan Sorkam sebab, disertai hantaman gelondongan kayu dari arah pegunungan.

Baca Juga : Solidaritas Lintas Provinsi: Pemprov Bengkulu Ulurkan Tangan Bantu Pemulihan Bencana di Sumut

Hujan deras turun sudah seminggu terjadi terhitung sejak Rabu, 19 November 2025 hingga Selasa pagi. Namun warga tak mengira aliran sungai Aek Sibundong di dekat permukiman tiba-tiba berubah menjadi arus deras yang membawa lumpur, batu, serta kayu gelondongan. Material kayu tersebutlah yang diduga menghantam rumah warga.

"Selama malam itu sekitar jam sebelas malam air sudah naik ke rumah. Saya curiga karena tidak pernah sebelumya. Sudah 40 tahun saya tinggal di Sorkam dan tak pernah seperti ini," ujar Satridal Sinaga (40), warga Kelurahan Sorkam saat ditemui, di Kelurahan Sorkam, Jumat (12/12/2025).

Baca Juga : Aceh Sepakat Sumut Salurkan Donasi Rp500 Juta untuk Korban Banjir Aceh

Hujan deras disertai banjir di Kecamatan Sorkam telah sering terjadi. Kata Satridal, kondisi itu akan membuat air sungai meluap dan menyebabkan banjir. Namun, hanya akan membuat air tergenan di pemukiman. Tak ada arus deras ataupun gelondongan kayu. Akan tetapi, peristiwa November itu berbeda, bahkan membuat sejumlah warga trauma. Terkhusus lansia dan perempuan.

"Kalau material yang dibawa air saya kurang tahu saat kejadian. Tetapi, banyak kayu yang nyangkut setelah banjir surut, kayaknya juga kayu itu yang mendorong 6 rumah (termasuk rumah satridal) ini makanya hanyut," ucap Satridal. 

Pantauan di lapangan, selain rusak parah, sebagian rumah warga juga mengalami kerusakan. Jalanan masih berlumpur dan air sungai masih keruh. Ruas sungai juga mengalami pelebaran diduga akibat dikikis air.

Sementara warga, saat ini, menggunakan air bekas banjir yang tergenang di parit-parit depan rumah untuk mencuci benda serta barang-barang yang berlumpur.

Baca Juga : Prabowo: Pemerintah Siapkan Rencana Penggantian Rumah Warga Terdampak di Bener Meriah

Warga yang kehilangan rumah kini membangun gubuk kecil secara mandiri untuk bertahan. Termasuk Satridal.

Sebelumnya telah diberitakan, Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu, mengungkapkan hingga kini masih terdapat 19 desa dan satu kecamatan yang terisolir akibat banjir dan longsor besar yang melanda sejak 25 November 2025. Kondisi tersebut membuat Pemkab memperpanjang masa tanggap darurat selama 14 hari ke depan.

Adapun desa-desa yang belum dapat diakses yakni Simarpinggan, Panggaringan, Sialogo, Parjalihotan Baru, Muara Sibuntuon, Bonan Dolok, Mardame, Naga Timbul, Rampa, Simaninggir, Nauli, Bair, Aloban, Mela Dolok, Tapian Nauli Saur Manggita, Sigiring-giring, Sait Nihuta Kalangan B, Hutanabolon, dan Sipange.

Baca Juga : Miris, Karena Presiden Mau Datang, Tenda Pengungsi Bertulis BNPB di Jembatan Tamiang Baru Didirikan

Masinton menegaskan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah alat berat untuk membuka akses dan menormalisasi sungai yang tertutup material kayu serta lumpur akibat banjir bandang.

“Kami butuh alat berat, eskavator, beko, beko loader lengkap dengan penjepit kayu untuk membuka akses dan menurunkan debit air,” kata Masinton.

Menurutnya, tujuh aliran sungai di Tapteng kini dipenuhi gelondongan kayu dan sedimen. Akibat penyumbatan tersebut, aliran air meluap keluar dari jalur sungai hingga menggenangi rumah-rumah warga.

Baca Juga : Dua Pekan Pascabanjir, Posko Pengungsian Baru Didirikan Saat Kunjungan Prabowo

Masinton memperkirakan kayu yang menumpuk telah mencapai ratusan ribu kubik. Berdasarkan tinjauannya selama sembilan bulan menjabat, banyak perbukitan di Tapteng berubah menjadi kebun sawit, sementara hutan dibabat hingga meninggalkan tumpukan batang kayu.

“Saya cek langsung ke bukit-bukit. Banyak yang dikeruk, hutan dipotong pakai senso lalu ditanami sawit. Data BPS juga mencatat deforestasi Tapteng melonjak dari sekitar 16 ribu hektar pada 2023 menjadi lebih dari 40.800 hektar pada 2024,” ungkapnya.

(Cw7/Nusantararerkini.co)