Wacana Bahasa Asing di SD Dikritik, Kesiapan dan Kesejahteraan Guru Dinilai Lebih Prioritas
Wacana bahasa asing di SD mendapat sorotan. Pengamat menilai kesiapan dan kesejahteraan guru harus diprioritaskan sebelum kebijakan diterapkan.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Rencana penguatan pembelajaran bahasa asing sejak jenjang sekolah dasar (SD) mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Wacana tersebut dinilai penting untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia menghadapi persaingan global, namun penerapannya perlu disesuaikan dengan kesiapan guru, sarana pendidikan, serta kondisi pembiayaan pendidikan nasional.
Pengamat pendidikan UIN Jakarta, Jejen Musfah, menilai tidak semua bahasa asing perlu dijadikan pembelajaran wajib bagi seluruh siswa. Menurutnya, bahasa Inggris dan bahasa Arab dapat menjadi prioritas, sementara bahasa asing lainnya seperti Mandarin, Jepang, dan Korea dapat ditawarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler sesuai minat dan bakat siswa.
“Tidak bisa semua bahasa asing diwajibkan. Cukup Arab dan Inggris yang wajib, sementara lainnya dijadikan ekstrakurikuler sesuai minat siswa,” ujar Jejen Musfah kepada Nusantaraterkini.co, Sabtu (15/6/2026).
Ia menilai penerapan berbagai bahasa asing sebagai mata pelajaran wajib berpotensi menambah persoalan baru, terutama karena saat ini masih terdapat kekurangan guru di sejumlah bidang studi. Penambahan mata pelajaran juga membutuhkan tenaga pendidik baru, sementara kesejahteraan guru yang ada dinilai masih perlu mendapat perhatian serius.
Menurut Jejen, bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea memang semakin penting untuk dipelajari. Namun, tidak semua siswa harus menguasai seluruh bahasa tersebut. Pemerintah dapat menyiapkan sebagian siswa agar memiliki kemampuan khusus pada salah satu bahasa sesuai potensi dan kebutuhan mereka.
“Yang penting ada siswa yang disiapkan untuk menguasai satu dari ketiganya,” katanya.
Jejen juga meminta pemerintah melakukan kajian mendalam sebelum menerapkan kebijakan baru di bidang pendidikan. Menurutnya, kebijakan penambahan mata pelajaran akan berdampak langsung terhadap kebutuhan anggaran dan ketersediaan tenaga pendidik.
“Setiap kebijakan berdampak pada pendanaan. Sementara kondisi kita defisit. Jadi, yang lahir adalah kebijakan yang benar-benar penting dan mendesak,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembelajaran berbagai bahasa asing memang penting, tetapi belum tentu menjadi kebutuhan yang paling mendesak dibandingkan pemenuhan kekurangan guru dan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.
“Penuhi kebutuhan kekurangan guru dulu dan sejahterakan guru melalui kebijakan gaji minimal,” tegasnya.
Dukung Penguatan Bahasa Asing
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pembelajaran bahasa asing sejak jenjang SD.
Menurut Lalu Hadrian, kemampuan bahasa asing semakin dibutuhkan di tengah dunia yang terbuka dan kompetitif. Penguasaan bahasa asing sejak usia dini dinilai dapat membantu siswa membangun kemampuan komunikasi dan interaksi di tingkat global.
“nusantaraterkini.co/tag/pembelajaran-bahasa-asing" class="article-tag-link" rel="tag">Pembelajaran bahasa asing sejak SD sangat penting. Anak-anak harus dipersiapkan agar memiliki kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi di tingkat global,” ujar Lalu Hadrian.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kebijakan tersebut harus dibarengi dengan kesiapan sistem pendidikan, khususnya kompetensi guru. Jangan sampai pemerintah menetapkan target penguasaan bahasa asing tanpa memastikan tenaga pendidik memiliki kemampuan yang memadai.
Selain kompetensi guru, pemerintah juga diminta menyiapkan sarana dan prasarana pendukung. Salah satunya berupa laboratorium bahasa serta perangkat pembelajaran digital yang dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan memahami bahasa asing.
“Sarana dan prasarana juga harus mendukung. Kalau kita ingin pembelajaran bahasa asing berkualitas, sekolah harus memiliki fasilitas yang memadai, termasuk laboratorium bahasa dan perangkat pembelajaran digital yang menarik,” jelasnya.
Lalu Hadrian juga mengingatkan agar peningkatan kualitas pembelajaran tidak dipisahkan dari persoalan kesejahteraan guru. Menurutnya, guru merupakan aktor utama dalam keberhasilan setiap kebijakan pendidikan.
“Jangan sampai guru hanya diminta mengajar anak-anak dengan baik, tetapi kesejahteraan mereka masih rendah. Kalau ingin pembelajaran yang baik dan berkualitas, maka kesejahteraan guru juga harus baik,” tegasnya.
Ia mendorong pemerintah memastikan guru memperoleh penghasilan dan jaminan kesejahteraan yang layak, sekaligus mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan.
“Tanpa kesejahteraan yang baik, guru akan sulit memberikan pembelajaran secara optimal. Karena itu, peningkatan kesejahteraan guru tidak boleh ditawar,” pungkasnya.
Bahasa Asing di SD Bersifat Pengenalan
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menjelaskan, pembelajaran bahasa asing di tingkat SD yang sedang disiapkan pemerintah pada dasarnya berupa pengenalan, bukan menjadikan seluruh bahasa asing sebagai mata pelajaran wajib.
“Jadi yang dimaksud itu bukan bahasa dalam pengertian sebagai mata pelajaran khusus, tapi lebih pada pengenalan bahasa asing, khususnya untuk yang SD,” kata Mu'ti.
Untuk bahasa Inggris, pemerintah telah menyiapkan kebijakan yang menjadikannya mata pelajaran wajib mulai kelas III SD pada 2027.
“Kalau yang bahasa Inggris kan memang nanti tahun 2027 bahasa Inggris sudah menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas tiga SD,” ujarnya.
Mu'ti juga menyebut sejumlah sekolah telah mengajarkan bahasa asing selain bahasa Inggris, seperti Mandarin dan Korea. Bahkan, terdapat negara-negara yang menawarkan bantuan tenaga pengajar untuk mendukung pembelajaran bahasa masing-masing di sekolah Indonesia.
“Beberapa sekolah kan sudah mengajarkan bahasa asing selain bahasa Inggris, juga ada bahasa Mandarin, bahasa Korea. Dan ada beberapa negara yang memang menawarkan untuk mereka menyediakan tenaga yang bisa membantu dalam pembelajaran bahasa asing sesuai dengan negara mereka masing-masing,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pentingnya penguasaan bahasa asing bagi generasi muda Indonesia. Menurut Prabowo, kemampuan tersebut dapat membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda, termasuk dalam memperoleh pekerjaan.
“Pelajaran apa pun kita akan kumpulkan guru-guru terbaik, termasuk bahasa asing. Bahasa asing mutlak harus kita kuasai,” kata Prabowo.
Prabowo menyampaikan bahwa pembelajaran bahasa asing akan mulai diperkenalkan sejak siswa duduk di kelas I SD. Bahasa yang disebut antara lain Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, dan Prancis.
“Kita akan mulai bahasa asing untuk anak-anak kita mulai dari SD. SD kelas 1 mereka harus mulai bahasa asing,” ujar Prabowo.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSTNI Raih Empat Rekor MURI Melalui Kegiatan Bersama Masyarakat
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NEWSMagangHub Batch 2 Dimulai Hari Ini, Peserta Diminta Bersiap
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
E-SportKlasemen MPL ID S18: TLID Kokoh di Puncak, EVOS Beri Kejutan, Peluang RRQ Menipis
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSWorld Cleanup Day 2026, Wali Kota Binjai Ajak Warga Jadikan Gotong Royong Budaya
hendra·9 jam yang lalu -
E-SportKejar Peningkatan Prestasi Nasional, ESI Sumut Gelar Kejurprov Esport 2026
Herman Saleh Harahap·9 jam yang lalu -
KRIMINALVideo Porno “A Day in My Life” Viral, Dua Pria Gay di Bogor Diamankan Polisi
hendra·9 jam yang lalu -
E-SportJungler Magang Rendyyy Bersinar Gantikan Alberttt, EVOS Tumbangkan TLID 2-1
Herman Saleh Harahap·9 jam yang lalu -
NEWSSekda Lampung Tengah Welly Adiwantra Ditahan, Terseret Kasus 382 Honorer di Metro
hendra·10 jam yang lalu -
SUMSELTerbukti Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pemuda 21 Tahun Diringkus Satreskrim Polres OKU
hendra·12 jam yang lalu -
KESEHATANKasus Influenza A Meningkat di Indonesia, Kenali Gejala, Cara Penularan dan Pencegahannya
hendra·12 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan