Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Usai Demo Tutup TPL, Aktivis Lingkungan Delima Silalahi Dikirimi Paket Bangkai Burung

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Penampakan paket bangkai burung yang dikirim ke kediaman Aktivis Lingkungan Delima Silalahi, yang diterimanya pada Jumat (30/5/2025) pagi. (Foto: Istimewa).

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Aktivis lingkungan dan pejuang hak masyarakat adat, Delima Silalahi, menerima teror berupa bangkai burung yang dikirim dalam sebuah paket ke kediamannya di Kecamatan Siborong-borong, Sumatera Utara (Sumut), Jumat (30/5/2025).

Peristiwa ini terjadi hanya tiga hari setelah aksi unjuk rasa yang menuntut penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Paket yang berisi bangkai burung berdarah itu pertama kali ditemukan oleh asisten rumah tangga sekitar pukul 08.15 WIB. Bungkusan dikemas dalam kantong plastik berwarna oranye dan dimasukkan ke dalam kardus.

Baca Juga : Salahgunakan Wewenang, Polres Siantar Sudah Tetapkan Julham Situmorang sebagai Tersangka

“Awalnya kami kira itu paket biasa. Setelah dibuka, ternyata isinya bangkai burung dengan darah yang sudah mengering,” ujar Delima saat dihubungi, Jumat sore.

Delima menduga pengiriman paket tersebut merupakan bagian dari upaya teror dan intimidasi terhadap gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, khususnya di kawasan Danau Toba.

Delima yang juga Direktur Eksekutif Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) menyatakan, teror itu muncul tak lama setelah KSPPM bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil menggelar aksi unjuk rasa menuntut penghentian operasional PT TPL, Selasa (27/5/2025).

Baca Juga : Gegara Judi Online, Pria di Semarang Gadaikan Sertifikat Rumah lalu Bunuh Diri

“Kami menduga ini terkait dengan aktivitas dan tuntutan gerakan bersama. Ada pihak-pihak yang tidak senang dengan keberadaan kami,” kata Delima.

Sebelum aksi tersebut, sempat terjadi demonstrasi tandingan yang mengatasnamakan buruh PT TPL. Dalam aksi itu, massa menuntut agar Delima, serta dua aktivis lain Roganda Simanjutak dan Rocky Pasaribu meninggalkan Tanah Batak. Mereka juga menuntut pembubaran KSPPM dan AMAN Tano Batak.

Selain teror fisik, Delima juga mengaku menerima serangan di media sosial dalam bentuk pesan intimidatif dan kampanye hitam. Ia menduga serangan dilakukan secara terorganisasi dan terencana.

Baca Juga : WADUH Siswi SMP di Magetan Bolos Sekolah 3 Bulan, Gegara Tak Dibelikan Motor

“Kami melihat pola yang masif di media sosial. Tapi semua ini tidak membuat kami gentar. Justru memperkuat semangat kami untuk terus memperjuangkan hak masyarakat adat,” ujarnya.

Hingga saat ini, KSPPM belum melaporkan peristiwa teror tersebut ke aparat kepolisian. Pihaknya memilih fokus memperkuat konsolidasi internal dan pengamanan organisasi.

Delima menegaskan bahwa gerakan penutupan PT TPL bukanlah gerakan perseorangan, melainkan gerakan kolektif masyarakat sipil yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat adat di kawasan Danau Toba.

Baca Juga : Ditinggal Sopir Nongkrong, Truk di Krembangan Surabaya Terbakar

“Teror ini bukan akhir dari perjuangan, tapi justru menjadi penyemangat. Segala bentuk pembungkaman harus kita lawan bersama,” tutupnya.

(cw7/nusantaraterkini.co)