Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Tunjuk Prasetyo Hadi Jadi Jubir Presiden, Pengamat: Prabowo Kecewa Kinerja PCO

Jadi ini sebagai bentuk bagaimana kekecewaan Presiden sebenarnya kepada PCO yang memang kinerjanya itu tidak sesuai dengan ekspektasi

Pengamat Politik Adi Prayitno. (Foto: Istimewa)
Pengamat Politik Adi Prayitno. (Foto: Istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Presiden Prabowo belum lama ini resmi menunjuk Mensesneg Prasetyo Hadi sebagai Juru Bicara (Jubir) Kepresidenan. Lalu hal ini menimbulkan tanda tanya bagaimana saat ini peran dari Kantor Komunikasi Presiden (PCO) yang seharusnya melakukan pekerjaanya menjembatani komunikasi antara Pemerintah dan rakyat.

Pengamat politik dari PPI Adi Prayitno, menilai penunjukan Prasetyo Hadi sebagai jubir Presiden adalah bentuk kekecewaan Prabowo terhadap kinerja (PCO) yang dipimpin oleh Hasan Nasbi.

Prabowo menurut Adi, merasa kinerja PCO atau Kantor Komunikasi Kepresidenan tidaklah baik alias underperformed dan tak sesuai dengan harapan serta menimbulkan resistensi dan kegaduhan di publik.

“Jadi ini sebagai bentuk bagaimana kekecewaan Presiden sebenarnya kepada PCO yang memang kinerjanya itu tidak sesuai dengan ekspektasi,” kata Adi, Senin (21/4/2025).

Adi berpendapat ada dua hal yang kemungkinan dianggap Prabowo jika komunikasi PCO rusak kepada masyarakat. Pertama, soal PCO menanggapi teror kepala babi yang terjadi kepada jurnalis Tempo. Alih-alih memberikan pernyataan yang bersifat simpatik, PCO justru menganggap bahwa persoalan itu cukup dengan “dimasak saja”.

Dan kedua juga ada status di X yang dibuat oleh PCO, bahwa pihak-pihak yang melakukan protes dan aksi demonstrasi terkait dengan revisi Undang-Undang TNI itu adalah sifatnya provokatif dan seterusnya dan seterusnya.

Oleh karena itu, Adi memandang penunjukan Prasetyo Hadi ini adalah upaya untuk memperbaiki komunikasi politik pemerintah atau komunikasi politik Istana kepada masyarakat, karena selama ini PCO acap kali menimbulkan blunder dan kontroversi yang tak berkesudahan.

Sedangkan, Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menyarankan agar Presiden Prabowo tetap memakai jasa PCO sebagai jubir dengan menunjuk orang yang benar punya kompetensi, bukan sekadar berjasa pada Pemilihan Presiden 2024.

"Kalau mau diangkat Jubir Presiden, sebaiknya tetap ditempatkan di PCO. Hanya saja, para jubir di PCO yang diangkat seyogianya memiliki kompetensi dan integritas yang kuat, bukan karena berjasa mengantarkan Prabowo jadi Presiden," kata Jamiluddin

Lebih lanjut Jamiludin menilai, Prasetyo Hadi sebagai juru bicara presiden dapat menjadi blunder.

Sebab, tugas Prasetyo sebagai juru bicara beririsan dengan PCO yang selama ini menjadi representasi Istana.

Ia khawatir, komunikasi dari Istana justru menjadi rumit karena ada dua lembaga yang menangani persoalan tersebut. "Presiden Prabowo Subianto menunjuk Mensesneg Prasetyo Hadi menjadi Juru Bicara Presiden kiranya keliru. Penunjukan itu tentu mengagetkan karena fungsi dan tugas kerja Sekretariat Negara dengan Kantor Komunikasi Kepresidenan sangat berbeda. Karena itu aneh, kalau Mensesneg diangkat menjadi Jubir Presiden," ujar Jamiluddin.

Perbaiki Pola Komunikasi

Sementara itu, Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini mendukung penuh langkah Prabowo menunjuk Prasetyo Hadi menjadi jubir Presiden. Hal ini, terang Jazauli, demi memperbaiki pola komunikasi publik agar lebih efektif menyampaikan pesan kebijakan.

Karena bisa jadi banyak kebijakan Presiden Prabowo yang luar biasa bagus tapi tidak efektif sampai kepada publik atau terdistorsi oleh cara dan gaya penyampaian pesan yang tidak tepat," tutur Jazuli.

Jazuli ingin kebijakan Prabowo dipahami dengan baik oleh publik. Sehingga mendapat respons positif dan konstruktif dari masyarakat.

"Soal siapa yang kemudian dievaluasi dan yang ditunjuk oleh Presiden untuk menjadi juru bicara untuk mendeliver komunikasi yang lebih efektif sepenuhnya menjadi prerogatif dan kewenangan Presiden," lanjutnya.

PKS, tambah Jazuli, mendorong agar setiap menteri dan jajaran pemerintahan bisa mendeliver pesan kebijakan pemerintah yang efektif, proporsional, dan elegan. Bukan dengan gaya komunikasi yang justru memicu polemik yang kontraproduktif.

Diberitakan sebelumnya, Prasetyo mengungkap bahwa ia ditunjuk sebagai juru bicara presiden.

Prasetyo membantah penunjukan dirinya sebagai Jubir berkaitan dengan pernyataan blunder dari Kepala PCO Hasan Nasbi, tak terkecuali saat menanggapi teror kepala babi kepada wartawan Tempo. Ia menyatakan, penunjukan ini hanya untuk memperkuat komunikasi pemerintah yang belum berjalan baik.

"Ini hanya untuk memperkuat. Karena itu kan kewajiban kita. Kalau kemudian dianggap ada yang kurang, itulah makanya kita perbaiki, kita pemerintah memperbaiki," ujar Prasetyo. 

Diketahui, Presiden Prabowo Subianto menyadari pemerintahannya memiliki komunikasi yang buruk dalam menyampaikan kebijakan ke public.

“Saya sadar beberapa minggu lalu bahwa komunikasi dari pemerintah yang saya pimpin memang agak kurang. Dan itu adalah tanggung jawab saya,” kata Prabowo.

(cw1/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru