Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Tiga Pekan Bencana di Tapteng, Penyintas di Hutanabolon Sambut Natal dengan Keterbatasan

Editor:  hendra
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Gereja GKPI di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, hingga Jumat (19/12/2025) belum bisa digunakan untuk menjalankan aktivitas keagamaan serta perayaan natal 2025. Halamannya masih ditumpuki gelondongan kayu, dan pada bagian dalam masih dipenuhi lumpur tebal. (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, TAPANULI TENGAH - Tiga pekan setelah banjir dan longsor menerjang kawasan perbukitan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, jejak bencana masih jelas terlihat di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka. Lumpur belum benar-benar hilang, rumah-rumah warga rusak, dan gelondongan kayu sisa banjir masih berserakan di sekitar permukiman.

Namun, di tengah kondisi yang jauh dari pulih itu, sebagian besar penyintas tetap bersiap menyambut Natal meski dalam keterbatasan.

“Di Hutanabolon, seharusnya sejak 2 Desember kami sudah mulai merayakan Natal,” kata Poltak Tambunan 60, warga setempat, saat ditemui Nusantaraterkini.co di dekat sebuah rumah yang nyaris tertimbun tanah, Jumat (19/12/2025) siang.

Baca Juga : Doa Lintas Agama Jelang Tahun Baru 2026, Wakil Gubernur Sumut Berharap Masa Transisi Bencana Berjalan Lancar

Kecamatan Tukka dihuni lebih dari 3.000 jiwa, dengan umat Kristiani sebagai mayoritas. Struktur sosial masyarakatnya masih kuat bertumpu pada ikatan marga atau klan. Dalam momen-momen besar, terutama perayaan keagamaan seperti Natal, setiap klan memiliki tradisi dan peran masing-masing.

Poltak menjelaskan, klan-klan di Hutanabolon biasanya telah jauh-jauh hari menyiapkan perayaan Natal. Mulai dari menentukan gereja yang akan digunakan, hingga mengumpulkan dana secara kolektif.

“Kami, klan Tampubolon, bersama marga lain punya semacam arisan. Uang itu dikumpulkan dari jauh hari untuk menyambut Natal dan kebutuhan acaranya,” ujarnya.

Baca Juga : Bobby Nasution Sebut 648 Unit Huntap Sudah Groundbreaking Pascabanjir dan Longsor di Sumut

Namun, bencana banjir dan longsor yang terjadi pada penghujung November lalu mengubah seluruh rencana itu. Kondisi kampung yang masih porak-poranda membuat perayaan Natal tahun ini nyaris tak menyisakan jejak kemeriahan.

“Apa yang sudah kami siapkan tidak akan terlihat tahun ini. Natalnya tetap ada, tapi keadaannya sangat berbeda,” kata Poltak lirih.

Perubahan itu juga dirasakan Tesa Silalahi (23), calon pendeta di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Hutanabolon. Bencana yang datang mendadak membuat berbagai persiapan liturgi dan kegiatan sekolah minggu yang telah ia susun berbulan-bulan sebelumnya tak dapat terlaksana.

Baca Juga : Enam Rumah Hilang Satu Rusak Parah Usai Banjir di Tapteng, Warga Sebut Dihantam Gelondongan Kayu

“Saya sudah mempersiapkan liturgi sekolah minggu remaja dan beberapa acara. Tapi ternyata tidak bisa berjalan sesuai harapan karena bencana,” ujar Tesa saat ditemui di sela-sela aktivitas membersihkan sisa lumpur di gereja.

Ia mengakui ada rasa kecewa. Namun, pengalaman itu justru memperdalam refleksi imannya.

“Ada kekecewaan sedikit, tapi itu tidak mematahkan iman kepada Tuhan. Justru mengajarkan kami untuk menerima apa pun yang terjadi,” katanya.

Menurut Tesa, Natal tahun ini terasa sangat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya Natal identik dengan persiapan panjang dan rangkaian acara, kini perayaan berlangsung dalam kesederhanaan yang dipaksakan oleh keadaan.

“Bagaimanapun, Natal itu bukan hanya tentang perayaan yang meriah. Tapi tentang bagaimana kita menerima kasih dan kelahiran Yesus dalam kehidupan kita, dengan tetap percaya kepada Tuhan dalam segala situasi,” ujarnya.

Karena itu, bagi Tesa, Natal 2025 justru menjadi salah satu perayaan paling berkesan dalam hidupnya.

“Lebih dari Natal-Natal sebelumnya. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari kondisi ini,” ucapnya.

Di Kelurahan Hutanabolon terdapat lima gereja. Dua di antaranya mengalami kerusakan cukup parah akibat banjir dan longsor sehingga tidak dapat digunakan.

Pendeta HKBP, Paten Sidabutar, mengatakan kondisi itu memaksa jemaat untuk memusatkan perayaan Natal di gereja yang masih layak.

“Karena dua gereja rusak, seluruh jemaat akan merayakan Natal bersama di Gereja HKBP,” kata Paten.

Perlu diketahui, jumlah korban jiwa akibat rangkaian bencana di Pulau Sumatra terus meningkat. Di Sumatra Utara, jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 360 orang, berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis pada Rabu (17/12/2025).

Angka tersebut masih berpotensi bertambah, mengingat 79 orang hingga kini dilaporkan hilang dan masih dalam proses pencarian.

Kabupaten Tapanuli Tengah menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak setelah diterjang banjir bandang dan longsor pada 25 November 2025. Berdasarkan data terbaru Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, tercatat 131 orang meninggal dunia, sementara 41 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Di tingkat kecamatan, Tukka menjadi kawasan terdampak paling parah dengan 33 korban meninggal dunia dan 18 orang masih dalam pencarian. Disusul Kecamatan Pandan dengan 26 korban jiwa, serta Kecamatan Sitahuis yang mencatat 25 orang meninggal dunia dan 3 orang masih hilang.

Selain korban jiwa, bencana ini juga memaksa 10.887 warga Tapanuli Tengah mengungsi ke lokasi-lokasi penampungan darurat.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)