Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sumut Bukukan Inflasi di Oktober, Ancaman Deflasi Kembali Muncul di November

Editor :  Fadli Tara
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Sumatera Utara (Sumut) (Sumber foto: Badan Pusat Statistik

Nusantaraterkini.co, Medan– Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Sumatera Utara (Sumut) mencapai 0,13% pada Oktober 2024.

Beberapa komoditas utama penyumbang inflasi meliputi tomat, bawang merah, daging ayam, dan cabai merah.

Baca Juga : Banyak Pekerja RI Masih Lulusan SD, DPR Soroti Kegagalan Negara Bangun SDM

Sepanjang tahun berjalan, laju inflasi Sumut tercatat sebesar 0,59%, yang menunjukkan kenaikan setelah tren deflasi terhenti di bulan Oktober.

Baca Juga : BPS Bongkar Borok Data Bansos Lama: NIK Ganda hingga Penerima Sudah Meninggal

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, yang dihubungi melalui WhatsApp pada Jumat (1/11/2024), mengungkapkan bahwa ancaman deflasi di bulan November kembali muncul.

Menurutnya, beberapa komoditas seperti cabai merah, daging ayam, emas perhiasan, minyak goreng, dan tomat kemungkinan akan mengalami penurunan harga di bulan ini. 

Baca Juga : Dekat dengan Sekolah Anak, Warga Hutanabolon Tapteng Gunakan Dana DTH untuk Bangun Huntara Mandiri

“Daging ayam memiliki peluang paling besar untuk menyumbang deflasi nantinya,” ujarnya.

Baca Juga : Musda Golkar, Andar Amin Harahap Terpilih Secara Aklamasi jadi Ketua DPD Sumut

Penurunan harga di berbagai komoditas, menurut Gunawan, dipengaruhi oleh lemahnya permintaan serta rendahnya harga di wilayah lain. Misalnya, harga cabai merah di Sumut yang dipengaruhi oleh penurunan harga di Jawa Timur, yang merupakan wilayah produsen utama.

Cabai merah dari Jawa Timur memasuki pasar Sumut dengan harga yang lebih murah, mencapai Rp 18.000 hingga Rp 24.000 per kilogram di Medan.

Baca Juga : Viral MBG Tercemar Ada Cacing dan Ulat, SMKN 1 Sei Rempah Desak Evaluasi SPPG

“Jika Sumut mengandalkan cabai merah dari produksi lokal, harganya bisa mencapai Rp 27.000 hingga Rp 35.000 per kilogram,” jelas Gunawan.

Baca Juga : Ditinggal Beli Takjil, Sepeda Motor Penjaga Toko Lenyap Digasak Maling

Gunawan juga memperkirakan bahwa minyak goreng dan emas perhiasan akan bergerak volatil.

Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) saat ini mengalami peningkatan hingga 4.800 ringgit per ton, namun harga minyak goreng curah di Medan masih bertahan di sekitar Rp 18.500 per kilogram. 

Selain itu, harga emas perhiasan berpotensi turun jika ketegangan geopolitik mereda dan kebijakan suku bunga The Fed ditunda.

Sementara itu, harga daging ayam di Sumut diperkirakan akan melemah, seiring dengan penurunan harga di Pulau Jawa dalam tiga hari terakhir.

Demikian juga minyak goreng curah di Sumut yang diprediksi akan turun.

Meskipun probabilitas deflasi di Sumut untuk bulan November masih di bawah 50%, Gunawan menyebutkan bahwa harga beras berpotensi naik karena musim panen mulai berakhir. 

Kenaikan harga ini bisa dicegah jika pemerintah mengintervensi pasar dengan menggelontorkan cadangan beras.

Inflasi yang tercatat di bulan Oktober ini menggambarkan kondisi ekonomi Sumut yang dinamis, dengan tekanan harga yang masih berfluktuasi di beberapa komoditas pangan utama.

(Cw9/Nusantaraterkini.co)