Nusantaraterkini.co - Dalam siaran pers, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo menyampaikan beberapa strategi jitu menurunkan stunting di Kabupaten Nias.
“Strategi paling jitu adalah mencegah lahirnya stunting baru. Itu tidak sulit karena yang hamil hanya 1.800 orang per tahun,” ujar dr Hasto saat menerima audiensi Bupati Nias Barat Khenoki Waruwu di ruang Sekretariat Stunting BKKBN Pusat, Jakarta, Rabu (24/1/2024).
Dia mengatakan, pihaknya telah melakukan beberapa perkiraan angka kelahiran dan stunting untuk Nias Barat.
Baca Juga : Kawal Program MBG, Kepala BKKBN Sumut Monitoring ke SPPG Balige
“Tempat Pak Bupati itu yang hamil dan melahirkan rata-rata setahun hanya 1.800 orang. Tetapi ingat, dari 1.800 itu yang menjadi stunting sekitar 360 karena jumlah stunting 20 persen,” ujarnya dalam siaran pers.
dr Hasto mengatakan, jika bayi yang lahir di Kabupaten Nias kira-kira 150 orang per bulan, berarti angka kelahiran per hari hanya tiga orang.
"Dari tiga bayi lahir, mungkin ada satu yang panjang badannya kurang dari 48 centimeter (cm)," katanya.
Baca Juga : Cegah Stunting, RS Adam Malik Edukasi Puskesmas se-Medan di Hari Gizi Nasional 2026
Menurutnya, intervensi bisa segera dilakukan kepada orangtua dan bayinya. Caranya, Kepala Dinas Kesehatan dan bupati tidak pulang kantor sebelum mendengar tiga orang melahirkan.
“Inilah spirit untuk mencegah lahirnya stunting baru,“ canda dr Hasto, seraya menampilkan beberapa update data.
Data yang ditampilkan bersumber dari aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (El Simil), Pemutakhiran Data PK tahun 2023, dan Verifikasi dan Validasi Data Keluarga Risiko Stunting (Verval KRS) serta SIMKAH Kementerian Agama tahun 2023.
Baca Juga : Komisi IX Soroti Evaluasi MBG 2025, Sertifikat Higiene Baru 32 Persen hingga Anggaran BPOM Dipertanyakan
Dia mengatakan, dari 1.800 orang yang melahirkan di Nias Barat setiap tahun, yang menikah tidak lebih dari 900 pasangan.
Berdasarkan data Elsimil, hanya 81 orang yang mengisi aplikasi Elsimil pada 2023 dari rata-rata 900 orang tersebut. Dan 81 orang tersebut, sebanyak 15 orang di antaranya terpantau dalam kondisi terlalu kurus.
"Jadi, jumlahnya sekitar 18,5 persen. Jangan-jangan dari 900 pasangan yang menikah itu kalau kita data semua, yang lingkar lengannya kurang dari 23,5 jumlahnya 18,5 persen,” katanya.
Baca Juga : Pemprov Sumut Siap Dukung Program BKKBN, Fokus Bahas Isu Kependudukan dan Keluarga
dr Hasto meninjau bagi mereka yang mengalami kondisi demikian, sebaiknya tidak memutuskan untuk hamil terlebih dahulu.
“Kami meminta semua yang menikah, jika belum memenuhi syarat untuk hamil, ya, jangan hamil dulu. Boleh nikah, tetapi jangan hamil dulu," pintanya.
Sesuai data yang dimiliki Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias Barat, sehari rata-rata hanya tiga pasangan yang menikah dan mereka mendapat pendampingan dari Tim Pendamping Keluarga (TPK).
dr Hasto mengatakan, BKKBN mempunyai 315 orang yang tergabung dalam TPK di Nias Barat.
“Jika dihitung rata-rata 1.800 orang yang hamil tiap tahun, berarti dari 315 orang TPK ini dalam setahun per orang (TPK) hanya mengurusi sekitar enam ibu hamil,” jelasnya.
dr Hasto juga membahas tentang faktor lain penyebab stunting, yakni sanitasi.
Dalam hal ini, sanitasi terkait dengan air bersih dan jamban.
Dia menyampaikan, data Verval KRS menyebutkan, air bersih di beberapa kecamatan di Nias Barat tidak layak minum, seperti di Kecamatan Moro’o, Kecamatan Mandrehe Utara, dan kecamatan Ulu Moro’o.
Selain itu, jamban dan rumah tidak layak huni juga banyak terdapat di tiga kecamatan tersebut.
dr Hasto berharap, Pemkab Nias Barat mengusulkan program ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk segera mendapatkan perbaikan.
“Biasanya sering diare karena air tidak bersih. Begitu berat badan naik, pasti turun lagi karena diare. Faktor air bersih penting sekali," jelasnya.
dr Hasto juga menjelaskan faktor lain yang mempengaruhi stunting, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak anak (4 Terlalu).
“Potret di Nias Barat yang jumlah anaknya banyak masih lebih banyak," terangnya.
Pada kesempatan itu, dr Hasto mengapresiasi berbagai upaya Bupati Nias Barat karena sudah menyerap anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) dengan baik.
“Kita tetap kerja keras menuju target stunting 14 persen pada 2024,“ pesannya.
(Ann/Nusantaraterkini.co)
