Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

SKK Migas Akui Lifting Minyak Masih Tertahan, Bencana di Sumatera Jadi Penyebab

SKK Migas mengungkap lifting minyak nasional belum capai target APBN 2025 akibat banjir dan longsor di Sumatera yang merusak pipa migas.

Pekerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengecek proses pengapalan lifting minyak mentah produksi PHR di Dumai Terminal Oil Wharf, Dumai, Riau pada Rabu (22/12/2021). (Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto)
Pekerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengecek proses pengapalan lifting minyak mentah produksi PHR di Dumai Terminal Oil Wharf, Dumai, Riau pada Rabu (22/12/2021). (Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu () mengungkapkan capaian hingga akhir 2025 masih belum sepenuhnya menyentuh target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Gangguan infrastruktur akibat banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera menjadi faktor utama.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebutkan, hingga saat ini lifting minyak nasional tercatat sebesar 604.825 barel per hari (barrel oil per day/bopd). Angka tersebut masih terpaut 175 bopd dari sebesar 605 ribu bopd.

“Per hari ini realisasi kita 604.825 bopd. Kurangnya hanya 175 bopd. Seluruh manajemen SKK Migas turun langsung ke lapangan untuk mencari peluang agar target APBN bisa tercapai,” ujar Djoko saat peresmian proyek Area A di , Selasa (23/12/2025).

Djoko menilai, jika target dapat dicapai hingga akhir tahun, hal tersebut akan menjadi pencapaian bersejarah. Pasalnya, Indonesia sudah bertahun-tahun gagal memenuhi target APBN akibat penurunan alami produksi migas.

“Ini akan menjadi prestasi luar biasa. Sudah lama sekali kita tidak mencapai target lifting APBN karena natural decline,” tegasnya.

Ia menjelaskan, penurunan lifting kembali ke kisaran 604 ribu bopd terjadi setelah sebelumnya sempat menembus 605 ribu bopd pada bulan lalu. Penurunan itu dipicu kerusakan pipa minyak akibat bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Beberapa pipa bocor di Aceh dan Sumatera Utara, termasuk pipa Exxon yang pecah akibat longsor. Seharusnya harian kita sudah di atas 605 ribu bopd, tapi turun lagi karena gangguan tersebut,” jelas Djoko.

Untuk menutup kekurangan lifting, mengoptimalkan produksi dari sumur-sumur yang belum beroperasi penuh, serta mempercepat perbaikan jaringan pipa yang rusak.

“Sumur yang baru beroperasi separuh kita dorong jadi tiga per empat, bahkan full. Semua peluang kita maksimalkan,” katanya.

Namun demikian, Djoko mengakui perbaikan pipa tidak bisa dilakukan secara cepat karena medan yang sulit dan kondisi geografis yang berat. Sebagai solusi sementara, distribusi minyak mentah dilakukan menggunakan truk tangki.

“Kalau perbaiki pipa perlu waktu lama, harus potong dan las, medannya juga berat. Jadi sementara kita angkut pakai truk. Memang makan waktu, tapi lebih baik daripada kehilangan produksi,” ungkapnya.

Djoko menambahkan, metode distribusi darat tersebut telah dilakukan sejak akhir November dan akan terus dimaksimalkan dalam sisa waktu sekitar 10 hari terakhir tahun ini.

Sebelumnya, SKK Migas sempat memproyeksikan produksi minyak nasional bisa mencapai 625 ribu bopd pada akhir Desember 2025. Berdasarkan data per 10 November 2025, realisasi produksi minyak tercatat 606.020 bopd, melampaui target APBN.

Dengan capaian tersebut, SKK Migas optimistis rata-rata lifting minyak nasional sepanjang 2025 dapat berada di kisaran 606.000–607.000 bopd.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru