Siapakah Ketua Majelis Sholawat Sekar Langit yang Ikut Tertawa Saat Gus Mifta Menghina Secara Kasar Penjual Es Teh
Profil Sosok Habib Zaidan Bin Yahya Ketua Majelis Sholawat Sekar Langit yang Ikut Tertawa Saat Gus Mifta Menghina Penjual Es Teh di Magelang
Nusantaraterkini.co, Jakarta - Profil Sosok Habib Zaidan Bin Yahya Ketua Majelis Sholawat Sekar Langit yang Ikut Tertawa Saat Gus Mifta Menghina Penjual Es Teh di Magelang
Nama Gus Miftah kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan dirinya melontarkan kata-kata kasar kepada seorang penjual es teh viral di media sosial.
BACA: Pernyataan Full Gus Miftah Meminta Maaf, Ngaku Sudah Ditegur Seskab
Video yang beredar luas ini membuat Gus Miftah, yang dikenal sebagai seorang tokoh agama dan Utusan Khusus Presiden, menduduki posisi teratas dalam trending topik Twitter.
Kontroversi ini memicu berbagai reaksi, baik dari masyarakat maupun tokoh-tokoh agama lainnya.
Kejadian yang Memicu Kontroversi
Dalam video tersebut, Gus Miftah tampak sedang berbicara dengan seorang penjual es teh yang menawarkan dagangannya agar diborong.
Namun, alih-alih memberikan respons yang hangat, Gus Miftah justru melontarkan kata "gobl*k" yang dianggap tidak pantas, terutama bagi seorang tokoh publik seperti dirinya.
BACA: Pendakwah Gus Miftah Minta Maaf usai Diduga Hina Pedagang Es Teh
Kata-kata tersebut langsung menuai kecaman dari warganet, yang merasa kecewa dengan sikap yang ditunjukkan oleh seorang pendakwah yang seharusnya memberi contoh baik kepada masyarakat.
Klarifikasi dari Habib Zaidan
Setelah video tersebut viral, banyak yang menyoroti sikap Gus Miftah, termasuk Habib Zaidan Bin Yahya, seorang pendakwah muda yang juga hadir dalam acara tersebut.
Habib Zaidan, yang terlihat tertawa saat Gus Miftah melontarkan kata kasar, kemudian mengunggah video klarifikasi untuk menjelaskan kejadian tersebut.
Dalam klarifikasinya, Habib Zaidan menyatakan bahwa karakter dakwah Gus Miftah memang selalu seperti itu. "Jadi sebenarnya memang karakter dakwahnya Gus Miftah itu seperti itu. Jadi, kalau saya mau menyalahkan juga bukan kapasitas saya," ujar Habib Zaidan dalam video yang diunggah pada 3 Desember 2024.
Habib Zaidan menegaskan bahwa gaya dakwah Gus Miftah memang cenderung santai dan terbuka, bahkan menyentuh kalangan yang kurang baik.
Oleh karena itu, menurutnya, perkataan yang terlontar dalam video tersebut bukanlah sesuatu yang disengaja.
Spontanitas dalam Dakwah
Habib Zaidan juga menjelaskan bahwa kata-kata kasar yang diucapkan Gus Miftah seharusnya dipahami sebagai kalimat-kalimat spontan, bukan sebagai perkataan yang sengaja diucapkan.
"Satu lagi, beliau kalau memberi kalimat-kalimat seperti itu kalimat-kalimat spontan. Jadi, bukan kalimat yang disengaja," tambahnya.
Namun, klarifikasi ini justru memicu lebih banyak reaksi negatif dari warganet. Banyak yang menganggap bahwa penjelasan Habib Zaidan malah mewajarkan tindakan kasar Gus Miftah, yang seharusnya tidak terjadi, terutama dalam acara yang dihadiri banyak orang. "Kalimatnya spontan? Kalau spontan begitu, berarti sudah kebiasaan dong? Apalagi di acara yang dihadiri ribuan orang," tulis salah seorang pengguna Twitter.
Pro dan Kontra di Kalangan Warganet
Reaksi terhadap klarifikasi Habib Zaidan sangat beragam. Beberapa warganet merasa bahwa meskipun Gus Miftah memborong dagangan penjual es teh sebagai bentuk permintaan maaf, tindakan tersebut tidak cukup untuk menutupi rasa malu yang ditimbulkan.
"Makanan minuman paling mahal 300an, tapi rasa malu yang diberikan membekas selamanya," tulis salah satu komentar yang mengkritik sikap Gus Miftah.
Di sisi lain, ada juga yang memandang positif tindakan Gus Miftah setelah kejadian tersebut.
Beberapa pengguna Twitter menyebutkan bahwa banyak orang yang datang memberikan dukungan kepada penjual es teh tersebut, bahkan ada yang memberikan bantuan finansial.
"Hikmahnya sekarang bapak penjual es teh kabarnya banyak didatangi orang yang memberi support dan membantu finansialnya," tulis seorang warganet yang melihat sisi positif dari kejadian ini.
Pentingnya Etika dalam Dakwah
Kontroversi ini mengingatkan kita semua akan pentingnya etika dalam berdakwah, terutama bagi mereka yang memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Gus Miftah, sebagai seorang pendakwah sekaligus utusan presiden, memiliki tanggung jawab untuk menjaga ucapan dan perilakunya, karena hal tersebut dapat menjadi contoh bagi banyak orang.
Sebagai tokoh publik, setiap tindakan dan kata-kata yang dikeluarkan tidak hanya akan mempengaruhi citra dirinya, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap masyarakat luas.
(nusantaraterkini.co/win)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
EKONOMIIHSG Masih Dibayangi Aksi Jual Asing, Ini Saham yang Layak Dicermati Hari Ini
hendra·2 menit yang lalu -
KRIMINALPolisi Bekuk Pelaku Pembobolan Ruang Guru SMP Muhammadiyah 3 Palembang
Rozie Winata·8 menit yang lalu -
EKONOMIDPR Desak Pemerintah Perkuat Perlindungan UMKM dari Impor Ilegal dan Persaingan Tidak Sehat
Rozie Winata·18 menit yang lalu -
SUMSELPemprov Sumsel Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Selama Sebulan, Warga Diimbau Manfaatkan Diskon dan Bebas Denda
Rozie Winata·50 menit yang lalu -
SEPAKBOLAKejar Agresivitas Gol, John Herdman Optimis Bawa Indonesia ke Final ASEAN Cup 2026
Rozie Winata·59 menit yang lalu -
SUMUTPemko Padangsidimpuan dan Satgas PRR Genjot Percepatan Rekontruksi Pascabencana
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
INTERNASIONALKrisis Demografi: Populasi Jepang Anjlok 2,5 Persen dalam Sensus Terbaru
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMATERA TERKINIWabup Pasaman Apresiasi Program Jemari Kejaksaan Negeri
Herman Saleh Harahap·9 jam yang lalu -
OLAHRAGAIndonesia Tempati Peringkat 13 Perolehan Medali Asian Games 2026
Herman Saleh Harahap·9 jam yang lalu -
Semua berita sudah ditampilkan