IHSG Hari Ini Dibayangi Keputusan The Fed, Investor Waspadai Suku Bunga Higher for Longer
IHSG hari ini berpotensi rebound terbatas, tetapi dibayangi keputusan The Fed, tekanan Wall Street, harga minyak, dan kenaikan yield US Treasury.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami rebound terbatas pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Namun, ruang penguatan indeks masih dibayangi sentimen global, terutama menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan, IHSG masih memiliki peluang untuk bergerak menguat setelah terkoreksi cukup dalam pada perdagangan sebelumnya. Meski demikian, investor dinilai tetap perlu mewaspadai volatilitas pasar menjelang pengumuman hasil rapat The Fed.
BNI Sekuritas memperkirakan area support IHSG berada di kisaran 6.400-6.450, sementara level resistance berada pada rentang 6.500-6.540.
Pada perdagangan Selasa (15/9/2026), IHSG ditutup turun 1,13% ke level 6.461,15. Pergerakan pasar berlangsung cukup berimbang, dengan 312 saham tercatat menguat, 314 saham melemah, dan 165 saham lainnya stagnan.
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia juga tercermin dari transaksi investor asing. BNI Sekuritas mencatat aksi jual bersih atau net sell investor asing sekitar Rp354 miliar.
Sejumlah saham menjadi sasaran aksi jual asing, di antaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), serta PT Astra International Tbk (ASII).
Wall Street Ikut Tertekan
Sentimen eksternal turut menjadi perhatian investor. Bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (15/9).
Dow Jones Industrial Average melemah 0,63%, S&P 500 turun 0,45%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,78%.
Menurut Fanny, tekanan di Wall Street terjadi di tengah peningkatan yield US Treasury, kekhawatiran mengenai kondisi utang, serta kenaikan harga minyak mentah.
Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor consumer discretionary menjadi sektor dengan penurunan terbesar. Sebaliknya, sektor energi menguat 2,3% seiring kenaikan harga minyak.
Harga minyak mentah Brent bahkan telah menembus US$107,8 per barel. Kenaikan tersebut menambah perhatian pasar terhadap risiko pasokan minyak global.
Di saat yang sama, kombinasi harga minyak yang tinggi dan kenaikan yield obligasi membuat investor cenderung lebih berhati-hati menjelang keputusan The Fed dan Bank of Japan (BOJ).
Pasar Menunggu Arah Kebijakan The Fed
Selain faktor eksternal, pelaku pasar domestik juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah, termasuk langkah Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam menjaga kredibilitas fiskal dan stabilitas APBN.
Dari sisi teknikal, tekanan terhadap IHSG masih terlihat. Head of Department BRIDS Chory Agung Ramdhani menyebut indeks telah menembus ke bawah MA20 di level 6.548 dan keluar dari pola rising wedge.
Pergerakan tersebut juga disertai bearish crossover pada indikator MACD, yang menunjukkan momentum pelemahan masih belum sepenuhnya berakhir.
"IHSG berpotensi melanjutkan pengujian support 6.390, dengan 6.220 sebagai support berikutnya," tulis Chory dalam riset Sapa Mentari, Rabu (16/9/2026).
Menurut BRIDS, apabila terjadi rebound, IHSG perlu melewati level 6.585 untuk membuka peluang menguji kembali area 6.705.
Perhatian utama pasar kini tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 15-16 September waktu Amerika Serikat atau 16-17 September waktu Indonesia.
BRIDS mencatat probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin berada di level 92,4%.
Namun, selain keputusan mengenai besaran suku bunga, investor juga akan mencermati panduan kebijakan atau guidance yang disampaikan bank sentral AS.
Salah satu perhatian utama adalah kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Kondisi ini menjadi semakin relevan di tengah harga minyak yang masih berada di atas US$100 per barel dan yield US Treasury tenor 10 tahun yang berada di sekitar 5%.
Saham yang Dicermati Hari Ini
Untuk perdagangan Rabu (16/9/2026), BNI Sekuritas mencermati sejumlah saham, yakni BUMI, MEDC, BIPI, TAPG, AMMN, dan RAJA.
Sementara itu, BRIDS memasukkan AMMN, BRMS, dan SRSN dalam daftar rekomendasi hariannya.
Pergerakan saham-saham tersebut tetap akan dipengaruhi sentimen pasar global serta respons investor terhadap hasil rapat The Fed yang menjadi agenda utama pasar pada pekan ini.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KRIMINALCekcok Biaya Anak Berujung Maut, Istri di OKI Tusuk Suami PNS hingga Tewas
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELBPBD Sumsel Kerahkan Helikopter Water Bombing Padamkan Karhutla Puluhan Hektare di OKI dan Muara Enim
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOHotel di Bali Berguguran, DPR Soroti Tiket Mahal hingga Infrastruktur
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
KRIMINALBawa 480 Gram Sabu dari Medan ke Aceh, Penumpang Travel Ditangkap
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
KRIMINALKasus Penganiayaan Tokoh Pers oleh Oknum Polisi Masih Berlanjut di Polres Padangsidimpuan
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
ENTERTAIMENTKartika Ong Perjalanan Hidup Dibalut jadi Lirik Lagu, Aku Bukan Yang Hilang
Akbar·2 jam yang lalu -
KOTA MEDANStrategi Pemko Medan Optimalkan PAD dan Infrastruktur dalam R-APBD Perubahan 2026
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
EKONOMIPemprov Sumut dan AS Jajaki Peluang Investasi Strategis untuk Dongkrak Perekonomian Daerah
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NASIONALDPD Dorong Menag Perkuat Toleransi dan Desak Penyelesaian Konflik Rumah Ibadah
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
Semua berita sudah ditampilkan