Rupiah Hari Ini Berpotensi Tertekan, Transisi BI dan Sentimen Global Jadi Sorotan
Rupiah hari ini diprediksi masih tertekan. Simak sentimen transisi BI, kebijakan The Fed, geopolitik, dan proyeksi kurs Rp17.930-Rp18.100.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Kombinasi sentimen dari dalam negeri dan ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor yang berpotensi membatasi penguatan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,26 persen ke level Rp18.009 per dolar AS.
Pelemahan juga tercermin dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Senin, JISDOR berada di posisi Rp17.995 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi Jumat (24/7/2026) yang tercatat sebesar Rp17.973 per dolar AS.
Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai salah satu sentimen domestik yang membebani pasar keuangan berasal dari kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia.
Perubahan kepemimpinan tersebut dinilai dapat memicu kekhawatiran investor mengenai kesinambungan kebijakan moneter serta stabilitas pengelolaan ekonomi makro dalam jangka pendek.
Meski demikian, Rahma menilai pelaku pasar tidak perlu merespons secara berlebihan. Pasalnya, posisi kepemimpinan sementara Bank Indonesia secara otomatis dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara.
Menurutnya, Destry memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam menghadapi dinamika kebijakan Bank Indonesia maupun pasar keuangan. Karena itu, kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan diperkirakan tetap berjalan sesuai arah yang selama ini diterapkan.
"Destry merupakan orang yang telah berpengalaman di BI dan market, sehingga kebijakan BI di antaranya dalam mengelola nilai tukar dan market tetap akan sama sebagaimana yang sudah dilakukan selama ini," ujar Rahma kepada Kontan, Senin (27/7/2026).
Sentimen Global Ikut Membayangi Rupiah
Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh perkembangan pasar global. Salah satu perhatian investor tertuju pada rangkaian agenda pertemuan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga AS dan pergerakan imbal hasil obligasi global dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
"Spekulasi terkait arah kebijakan suku bunga AS dan tingkat imbal hasil obligasi global turut memberikan bayang-bayang tekanan bagi mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah," kata Rahma.
Pasar keuangan juga masih dihadapkan pada risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah. Di saat yang sama, kebijakan perdagangan dan tarif impor Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump turut menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi sentimen pasar global.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan akan sangat bergantung pada respons investor terhadap proses transisi kepemimpinan di Bank Indonesia serta arah pergerakan dana asing di pasar keuangan domestik.
Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rentang Rp17.930-Rp18.100
Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, Rahma memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.930 hingga Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan Selasa (28/7/2026).
Tekanan terhadap rupiah dinilai masih berpotensi berlanjut seiring sikap investor yang cenderung mengambil posisi wait and see. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan kebijakan domestik sekaligus dinamika ekonomi global.
Rahma menilai Bank Indonesia diperkirakan tetap mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun optimalisasi instrumen moneter lainnya.
Langkah intervensi tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas pasar dan menjaga pergerakan rupiah agar tetap berada dalam level yang terkendali.
"Tekanan pelemahan lanjutan masih akan dibayangi oleh kehati-hatian investor (wait and see) terhadap transisi kebijakan moneter di bawah Pelaksana Tugas Gubernur BI. Sementara di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan tetap akan mengoptimalkan instrumen intervensi pasar guna meredam gejolak agar rupiah tidak keluar dari level psikologisnya," tutup Rahma.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELKapolda Sumsel Resmi Lepas Personel BKO Brimob Usai Tangani Karhutla
Rozie Winata·42 menit yang lalu -
PENDIDIKANHabib Syarief Dukung Kembalinya Jurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALTertangkap Basah Ngintip Tetangga Ganti Baju, Pria di Sukarami Palembang Diamankan Warga
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALMotor Karyawan Sate Taichan Raib Digondol Maling saat Bekerja
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMSELUdara Membaik, Pemko Palembang Kembali Gelar CFD Mulai Besok
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
-
SUMSELAnggota DPR Pertanyakan Subsidi LRT Sumsel Senilai Rp300 Miliar
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
EKONOMIRico Waas Instruksikan Pembenahan Pasar Tradisional, Utamakan Pedagang
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
EKONOMIRupiah Kembali Melemah! Dibuka ke Rp18.095 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan
hendra·3 jam yang lalu -
NEWSPanglima TNI Pastikan Hak Keluarga Prajurit Gugur Terpenuhi
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan