Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp16.675 per Dolar AS, Namun Diprediksi Melemah Sepanjang Hari

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Karyawan melihatkan uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)

nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, Senin (10/11/2025).

Sejumlah analis memproyeksikan rupiah bakal menutup hari di kisaran Rp16.690–Rp16.740 per dolar AS, di tengah tekanan eksternal dan perlambatan ekonomi domestik.

Menurut data Bloomberg, pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal, arus keluar dana asing di pasar obligasi, serta kebijakan penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Baca Juga : Rupiah Terseret Isu Geopolitik, Dibuka Melemah ke Rp16.832 per Dolar AS

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS pada pekan lalu turut menekan kinerja rupiah. Kondisi tersebut dipicu oleh ketidakpastian fiskal di Amerika Serikat akibat penutupan pemerintahan yang berkepanjangan, membuat pasar kehilangan acuan data ekonomi resmi.

“Pelaku pasar akhirnya mengandalkan survei sektor swasta yang menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja AS. Ini memunculkan ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya,” ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.

Dari sisi eksternal lainnya, kinerja ekspor China pada Oktober 2025 tercatat menurun, setelah sempat melonjak pada bulan sebelumnya. Penurunan ini diikuti oleh kontraksi impor, yang mengakibatkan penyusutan neraca perdagangan Negeri Tirai Bambu. Lemahnya data perdagangan China turut membebani sentimen di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Baca Juga : Rupiah Terkoreksi ke Rp16.835 per Dolar AS, Pasar Nantikan Sentimen Global dan APBN

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 hanya mencapai 5,04 persen (yoy), melambat dibanding kuartal sebelumnya.

Ibrahim menilai, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan 5,2 persen sepanjang tahun.

Baca Juga : Dolar Melemah Usai Pidato Trump, Rupiah Dibuka Naik 0,30%

“Meski pemerintah optimistis pertumbuhan bisa mencapai 5,5 persen di kuartal IV, secara historis pencapaian di atas 5,5 persen sangat jarang terjadi. Dalam sepuluh tahun terakhir, kuartal IV belum pernah menembus angka tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, stimulus fiskal tanpa dukungan momentum politik atau ekonomi besar belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan hingga ke level yang diharapkan.

Cadangan Devisa Meningkat

Baca Juga : Rupiah Tertekan di Awal Pekan, Dolar AS Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi

Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Oktober 2025 naik menjadi US$149,9 miliar, dibanding posisi bulan sebelumnya sebesar US$148,7 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut, peningkatan ini didukung oleh penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

“Cadangan devisa akhir Oktober setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” kata Denny.

Rupiah Dibuka Menguat Tipis

Meski diprediksi melemah, rupiah dibuka menguat tipis pada awal perdagangan Senin pagi. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah naik 0,09% ke posisi Rp16.675 per dolar AS, sementara indeks dolar AS juga sedikit menguat 0,04% ke level 99,64.

Sejumlah mata uang Asia bergerak variatif: yen Jepang turun 0,26%, won Korea Selatan naik 0,53%, ringgit Malaysia menguat 0,12%, sedangkan peso Filipina melemah 0,53%.

Kurs Bank BNI dan BCA

Menurut laman resmi Bank Negara Indonesia (BNI) pukul 07.35 WIB, kurs dolar AS untuk transaksi Bank Notes dipatok Rp16.540 (beli) dan Rp16.840 (jual).

Sementara itu, di Bank Central Asia (BCA), kurs e-Rate pada pukul 07.34 WIB berada di Rp16.640 (beli) dan Rp16.700 (jual).

Kurs TT Counter umumnya digunakan untuk transaksi tunai di cabang, sedangkan e-Rate berlaku untuk transaksi digital dan korporasi.

Kombinasi faktor global seperti ekspektasi kebijakan The Fed, perlambatan ekonomi China dan faktor domestik seperti pertumbuhan ekonomi yang menurun menjadi penentu utama arah rupiah hari ini.

Analis memperkirakan, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif di rentang Rp16.690–Rp16.740 per dolar AS hingga penutupan perdagangan.

(Dra/nusantaraterkini.co)