Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Riwayat pasien yang tiba-tiba tidak bisa gerakkan tubuh. Ia adalah Budi Santoso (45). Ia mengeluh ketika datang ke rumah sakit tentang dirinya tidak bisa menggerakkan dengan kiri dan kaki kiri secara tiba-tiba.
Ia merasa seperti ada yang “mati rasa” di bagian kiri tubuhnya dan kesulitan untuk berbicara dengan jelas.
Budi mengaku saat itu, dua jam sebelum ia ke rumah sakit, dirinya merasa pusing berat dan mengantuk. Setelah itu, katanya, ia mendapati bahwa tubuh sabelah kiri terasa lemas dan dirinya kesulitan mengucapkan kata-kata dengan jelas.
“Gejala ini datang secara tiba-tiba tanpa adanya tanda peringatan sebelumnya,” katanya, Jumat (20/12/2024). Budi memiliki riwayat hipertensi (tekanan darah tinggi) yang cukup lama, tetapi tidak rutin mengontrol tekanan darahnya.
Dirinya sudah mengidap penyakit Hipertensi selama kuran lebih 10 tahun dan tidak ada riwayat diabetes ataupun penyakti jantung. Sebelumnya juga Budi tidak ada riwayat stroke.
Namun, orangtua Budi memiliki riwayat stroke ketika usia 50 tahun, dan tidak ada riwayat penyakti jantung atau diabetes pada keluarganya.
Baca Juga: Stroke dan Cara Mendeteksinya Sejak Dini
Pemeriksaan Fisik
Budi tampak kesulitan berbicara, dengan ucapan yang tidak jelas. Pada pemeriksaan neurologis, terdapat kelemahan pada lengan kiri dan kaki kiri (paresis), serta penurunan sensasi pada sisi kiri tubuh.
Tes lanjutan menunjukkan adanya sumbatan pada pembuluh darah otak, yang mengindikasikan stroke iskemik.
Diagnosis
Stroke Iskemik akibat Hipertensi.
Penanganan:
Budi segera diberikan terapi obat untuk mengatasi stroke dan pengendalian tekanan darah. Ia juga menjalani fisioterapi untuk memulihkan fungsi motorik tubuhnya.
Selain Buid, Siti Nuraini (38) yang sehari-hari sebagai Ibu rumah tanga (IRT) juga mengalami hal yang sama. Bedanya, Siti mendadak tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki kanan. Ia juga merasa sulit berbicara dan terkadang mulutnya terasa terkulai ke satu sisi.
Ia mengalami hal tersebut sekitar satu jam sebelum dirinya ke rumah sakit. Mulutnya terasa seperti “miring” dan tangan serta kaki kanan tidak bisa digerakkan.
Awalnya, ia merasa kebas dan pusing ringan, namun kondisi tersebut semakin memburuk hingga membuatnya panik. Siti tidak memiliki riwayat penyakit serius sebelumnya, meskipun tekanan darahnya sering sedikit tinggi, namun tidak pernah diperiksa secara rutin.
Siti mengaku dirinya tidak pernah memeriksa atau dirawat perihal penyakit Hipertensi ringan yang ia alami. Ia juga tidak ada riwayat diabetes, stroke, ataupun penyakit jantung. Ia mengaku jarang berolahraga dan sering merasa stres.
Namun, ibunya Siti memiliki riwayat Hipertensi dan diabetes. Tapi, sambungya ibunya tidak ada riwayat stroke atau penyakit jantung begitu juga dengan keluarganya yang lain.
Baca Juga: Olahraga yang Cocok Dilakukan oleh Penderita Obesitas
Pemeriksaan Fisik
Siti tampak kesulitan berbicara dengan ucapan yang tidak jelas, serta terpantau adanya kelumpuhan pada sisi kanan tubuh (hemiparesis kanan).
Tes CT scan otak menunjukkan adanya pendarahan pada bagian kiri otak, yang mengindikasikan stroke hemoragik.
Diagnosis
Stroke Hemoragik akibat Hipertensi.
Penanganan
Siti diberikan penanganan medis intensif untuk menghentikan pendarahan otak dan menurunkan tekanan darah.
Proses rehabilitasi meliputi terapi fisik dan terapi wicara untuk memulihkan kemampuan berbicara dan motorik tubuh.
Kedua riwayat pasien di atas menggambarkan beragam kondisi stroke yang dapat menyerang siapa saja, bahkan di usia muda.
Faktor-faktor seperti hipertensi, gaya hidup tidak sehat, dan kurangnya perhatian terhadap kesehatan bisa menjadi pemicu stroke.
Oleh karena itu, penting untuk menjaga pola hidup sehat, rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, serta mengetahui tanda-tanda stroke sejak dini agar penanganannya bisa dilakukan secepat mungkin.
(Akb/nusantaraterkini.co)
