Nusantaraterkini.co, MEDAN - Perjalanan karier Mutia Atiqah, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan periode 2023–2028, bukanlah jalan yang lurus dan instan.
Berangkat dari dunia jurnalistik radio, Mutia menapaki birokrasi kepemiluan dengan modal tekad, minat, serta jejaring yang ia bangun bertahun-tahun.
Mutia mengawali karier profesionalnya sebagai jurnalis Radio Lite FM pada 2000 hingga 2012. Selama lebih dari satu dekade, ia akrab dengan dunia pemberitaan, isu pemerintahan, serta dinamika kebijakan publik.
Baca Juga : Rekapitulasi Suara di Medan Masih Selesai 17 Kecamatan, KPU Targetkan Tuntas Malam Ini
Radio menjadi ruang belajarnya memahami bagaimana informasi dibentuk dan disampaikan kepada publik.
“Waktu itu kami sering menyoroti isu pemerintahan, bicara soal kebijakan dan pelayanan publik,” kenang Mutia Atiqah.
Dari Diawasi Menjadi Pengawas
Tahun 2012 menjadi titik balik. Atas kemauan sendiri, Mutia memutuskan mendaftar sebagai anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Utara.
Baca Juga : KPU Siapkan PSU Pilgub Sumut dan Pilwalkot Medan 2024, Kesiapan Teruji di Tengah Ketegangan
Alasannya sederhana namun mendalam, ingin meningkatkan kemampuan dan melihat dunia penyiaran dari sisi yang berbeda.
“Selama ini kita orang yang diawasi. Saya ingin tahu bagaimana rasanya mengawasi,” ujarnya seraya tertawa di satu kafe yang ada di Kota Medan, Seals (30/12/2025).
Percobaan pertama tak langsung membuahkan hasil. Ia sempat tidak lulus. Namun pada kesempatan berikutnya, Mutia berhasil lolos dan menjabat sebagai anggota KPID. Pada periode kedua, ia bahkan dipercaya menjadi ketua di pertengahan masa jabatan, tepatnya pada 2020.
Baca Juga : Gugat Hasil Pilkada Medan: Pasangan Ridha-Rani Minta Pemilu Ulang ke MK
Jejaring jadi Kunci
Mutia Atiqah tak menampik bahwa jejaring dan relasi menjadi satu faktor penting dalam perjalanan kariernya. Ia mengaku banyak belajar dari interaksi dengan berbagai pihak, termasuk DPRD dan narasumber pemerintahan yang sebelumnya ia temui saat masih menjadi jurnalis.
“Kita ini hidup dari jejaring. Sampai sekarang pun saya ada di posisi ini karena jejaring,” katanya.
Baca Juga : KPU Selesaikan Rekapitulasi, Bobby Nasution-Surya Unggul di Medan
Menurut Mutia, banyak jurnalis yang berhenti mengembangkan diri. Padahal, peningkatan kapasitas dan pemahaman terhadap pola kerja institusi menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi mereka yang ingin beralih ke ranah publik.
Gagal di Bawaslu, Lolos di KPU
Sebelum akhirnya memimpin KPU Medan, Mutia sempat mencoba peruntungan di Bawaslu Sumatera Utara dan Bawaslu Kota Medan. Meski masuk 10 besar, namanya tidak tercantum dalam pengumuman akhir.
Namun tak lama berselang, pengumuman seleksi KPU Kota Medan justru membawa hasil berbeda. Mutia masuk lima besar, dan akhirnya terpilih menjadi Ketua KPU Medan.
“Waktu itu tidak banyak yang mau jadi ketua. Akhirnya saya yang terpilih,” ujarnya singkat.
Menjaga Sikap sebagai Pejabat Publik
Beralih dari jurnalis ke pejabat publik bukan perkara mudah. Mutia mengakui adanya perbedaan besar dalam suasana kerja.
Jika sebagai jurnalis ia bisa lebih bebas berekspresi, sebagai Ketua KPU ia dituntut menjaga sikap dan mempertimbangkan semua pihak.
“Semua harus dipertimbangkan tanpa mengganggu tugas utama. Itu tidak mudah,” aku Mutia Atiqah kepada nusantaraterkini.co.
Ia juga menyebut proses seleksi KPU tidak main-main, termasuk psikotes yang melibatkan TNI, serta penilaian terhadap integritas dan kemampuan personal.
Cita-cita, Hobi, dan Kebiasaan Membaca
Di luar kesibukan sebagai penyelenggara pemilu, Mutia memiliki sisi personal yang sederhana. Semasa kecil, ia bercita-cita menjadi arsitek karena gemar melihat bangunan unik saat bepergian bersama orangtuanya. Ia juga pernah tertarik menjadi polisi wanita (Polwan).
Mutia menempuh pendidikan Strata 1 (S1) di Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) dan Hukum Universitas Panca Budi yang juga S1. Kemudian ia juga menempuh pendidikan Pascasarjana di Magister Ilmu Hukum USU.
Hobinya membaca dan berolahraga. Ia rutin bermain badminton bersama tim KPU Kota Medan setiap Rabu, serta berenang pada akhir pekan.
“Sekarang ini saya sering baca tentang pemerintahan dan hukum, termasuk KUHP,” tuturnya.
Baginya, membaca adalah modal utama. “Aku cuma dengan modal baca,” katanya sambil tersenyum.
Menjaga Demokrasi Kota Medan
Kini, sebagai Ketua KPU Kota Medan periode 2023–2028, Mutia Atiqah memikul tanggungjawab besar menjaga integritas dan kualitas demokrasi di ibu kota Provinsi Sumatera Utara.
Dari ruang siaran radio hingga ruang rapat KPU, perjalanannya menjadi bukti bahwa konsistensi, minat, dan kemauan untuk terus belajar dapat membuka jalan pengabdian yang lebih luas.
(Akb/nusantaraterkini.co)
