Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Media sosial viral sebuah foto yang memperlihatkan lima tokoh muda NU berpose bersama Presiden Israel. Foto mereka bersama Presiden Israel ini langsung heboh di dunia maya, bahkan menjadi trending topik di X.
Menanggapi itu, banyak kalangan bersuara lantang menentang bahkan mengecam para tokoh muda NU itu, karena dinilai tidak paham dengan situasi kondisi di mana Indonesia adalah pihak yang sangat anti dengan Israel karena kebiadabannya menghabisi rakyat Palestina.
Baca Juga : Harlah 100 Tahun, Gus Hilmy: NU Harus Terus Relevan dan Memberi Manfaat
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB, Luqman Hakim menilai kecewa atas bertemunya lima orang Nahdliyin dengan Presiden Israel, Isaac Herzog yang dinilai pertemuan itu tidaklah elok.
Baca Juga : Nikah Siri Terancam 4,5 Tahun Penjara, Gus Hilmy: Overkriminalisasi
"Saya tidak tahu apa tujuan mereka (warga NU) berlima pergi ke Israel. Tetapi pertemuan mereka dengan Presiden Israel menurut saya tidaklah elok dan berpotensi melukai perasaan masyarakat luas yang meyakini kemerdekaan adalah hak segala bangsa, termasuk hak bangsa Palestina. Saya sendiri tentu kecewa dengan peristiwa ini," ujarnya, Selasa (16/7/2024).
Luqman menegaskan posisi Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina. Dia mengatakan Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan yang harus dihentikan oleh internasional.
"Saya sudah berkali menyampaikan agar bangsa Indonesia meningkatkan dukungan kepada perjuangan kemerdekaan Palestina dengan menginisiasi pendekatan dukungan militer bersama negara-negara lain di dunia," kata Luqman.
"Kenapa pendekatan militer diperlukan dalam mendukung Palestina? Karena menurut saya yang terjadi bukan hanya penjajahan Israel kepada Palestina. Tetapi sudah pada level genosida yang bertujuan memusnahkan bangsa Palestina dari muka bumi, dengan membunuh kaum perempuan dan anak-anak. Ya, Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan yang harus segera dihentikan oleh masyarakat Internasional," jelasnya.
Luqman pun mendukung rencana PBNU memanggil kelima nahdliyin itu. Sebab, katanya, pertemuan tersebut tak membawa manfaat bagi Palestina, Indonesia, dan PBNU.
"Saya mendukung rencana PBNU memanggil mereka untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawaban. Karena menurut saya, pertemuan mereka dengan Presiden Israel sama sekali tidak ada manfaat bagi Palestina, bagi Indonesia dan bagi NU itu sendiri. Yang mereka peroleh hanyalah publisitas dan sensasi sesaat, yang celakanya menimbulkan luka bagi masyarakat luas," ujarnya.
"Maka, menurut saya, sudah tepat rencana PBNU memanggil mereka untuk mendapatkan pembinaan, meski mereka berangkat ke sana atas nama pribadi-pribadi," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Jakarta, Dailami Firdaus, mengecam kunjungan lima Nahdliyin yang bertemu Presiden Israel, Isaac Herzog. Dailami mengatakan sikap Pemerintah Indonesia sudah tegas menentang Israel dan mendukung Palestina.
"Pemerintah Indonesia sudah secara tegas mengutuk tindakan tersebut, menentang Israel dan mendukung rakyat Palestina. Kelima oknum yang dikenal sebagai aktivis Nahdlatul Ulama ini jelas melukai perasaan kita semua, saya sangat miris," ujarnya.
Dailami meminta pemerintah Indonesia maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengambil tindakan tegas. Dia bahkan meminta kelimanya diberi sanksi.
"Secara kasat mata tentu mereka sudah jelas tidak patuh pada kebijakan pemerintah Indonesia," ujar anak mantan Da'i kondang Hj Tutty Awaliyah ini.
Dailami mengatakan sanksi tegas harus diberikan untuk mencegah hal serupa terulang. Sebab, katanya, mestinya lima Nahdliyin sebagai umat Islam memiliki keberpihakan kepada sesama muslim.
"Saat ini sudah menggema gerakan All Eyes on Rafah sebagai bentuk perlawanan kepada kejahatan dan kekejaman Israel. Apa sebab mereka sebagai sesama muslim sampai tidak punya empati?" ungkapnya.
Wakil Ketua Badan Kerja Sama Parlemen DPD RI ini mengajak agar umat Islam di Indonesia terus bahu-membahu membantu dan jangan menyakiti rakyat Palestina.
"Saya minta semua jangan lupa sejarah, Palestina adalah yang kali pertama mengakui kedaulatan Republik Indonesia saat masa penjajahan. Pada 6 September 1944, Mufti Besar Palestina, Amin Al-Husaini menyampaikan kepada dunia terkait dukungan terbuka atas kemerdekaan Indonesia," ujarnya.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mewakili Pemerintah menyatakan jika kunjungan lima orang Nahdliyin (sebutan bagi anggota atau simpatisan Nahdlatul Ulama), bertemu Presiden Israel Isaac Herzog di Israel tidak berhubungan dengan posisi resmi pemerintahan Indonesia.
“Kemlu tidak dalam posisi untuk memberikan komentar terkait kunjungan tersebut, yang memang tidak terkait dalam bentuk apapun dengan posisi resmi Pemerintah RI,” kata juru bicara Kemlu Roy Soemirat.
Lukai Hati Nahdliyin
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyayangkan aksi kunjungan lima orang pemuda yang menemui Presiden Isaac Herzog.
Gus Ipul menegaskan, kunjungan mereka ke Israel adalah tindakan yang sangat tidak bijaksana di tengah situasi yang memanas antara Israel dan Palestina.
Terlebih, kata Gus Ipul, NU sebagai organisasi selalu berada di barisan depan mengutuk serangan Israel yang dilakukan terus menerus sejak Oktober 2023. Kunjungan mereka ke Israel sangat melukai hati Nahdliyin.
“Kepergian mereka ke Israel mendapatkan banyak kecaman yang nyata. Kunjungan itu juga melukai perasaan kita semua,” kata Gus Ipul.
Ia mengatakan, PBNU saat ini sedang mendalami persoalan ini dan segera memanggil mereka untuk dimintai tabayun atau klarifikasi.
“Yang bersangkutan akan dipanggil untuk dimintai keterangan dan penjelasan lebih dalam tentang maksud tujuannya, latar belakang dan siapa yang memberangkatkan serta hal-hal prinsip lainnya,” ujar Gus Ipul.
PBNU juga akan segera memanggil pimpinan organisasi badan otonom dan lembaga yang menjadi tempat mereka bernaung.
“Ketua umum (Gus Yahya) juga akan memanggil pimpinan banom dan lembaga yang menjadi pengabdian yang bersangkutan,” kata Gus Ipul.
Gus Ipul menegaskan, jika ditemukan unsur pelanggaran organisasi mereka akan diberhentikan dari statusnya sebagai pengurus lembaga atau banom.
Sebelumnya, beredar di media sosial sebuah foto yang menarasikan lima orang Nahdliyin bertemu dengan Presiden Israel, Herzog. Seorang pengguna media sosial X bernama Ismail Fahmi lewat akun @ismailfahmi membagikan tangkapan layar sebuah foto yang tampak menunjukkan pertemuan antara Presiden Israel dengan sejumlah orang. Tangkapan layar yang dibagikan Ismail merupakan postingan foto yang dibagikan @zenmaarif di akun Instagram-nya.
Di judul foto itu dituliskan sejumlah orang yang ada di foto berbincang langsung dengan presiden Israel. Pemilik akun @zenmaarif mengaku bertemu Herzog bersama rombongan di Istana Presiden Israel untuk membahas “konflik” Hamas-Israel dan hubungan Indonesia-Israel.
"Alih-alih demonstrasi di jalanan, saya lebih suka berdiskusi dan mengungkap gagasan. Terkait konflik antara Hamas-Israel, dan relasi Indonesia-Israel. Saya bersama rombongan berdialog langsung dengan Presiden Israel, Isaac Herzog,” tulis @zenmaarif.
Kunjungan lima orang Nahdliyin tersebut dilakukan di tengah serangan Israel yang masih berlangsung di Jalur Gaza, wilayah kantong Palestina. Serangan tersebut telah menewaskan sedikitnya 38.443 orang dan melukai 88.481 lainnya di Gaza sejak 7 Oktober 2023.
(cw1/nusantaraterkini.co)
