nusantaraterkini.co, BRASIL – Kota Rio de Janeiro, Brasil berubah menjadi medan tempur berdarah setelah aparat keamanan melancarkan operasi besar-besaran melawan jaringan narkoba terbesar di Brasil. Sedikitnya 119 orang dilaporkan tewas, termasuk empat anggota kepolisian, dalam aksi yang memicu gelombang protes dan kecaman publik.
Operasi berskala besar ini melibatkan sekitar 2.500 personel polisi dan militer, lengkap dengan kendaraan lapis baja, helikopter, dan drone tempur. Target utama adalah kelompok Red Command (Comando Vermelho), sindikat narkoba yang menguasai dua kawasan kumuh (favela) di bagian utara Rio, Penha dan Complexo de Alemao.
Gubernur Rio de Janeiro Claudio Castro menyebut penggerebekan ini sebagai operasi terbesar dalam sejarah negara bagian tersebut. Polisi menyita lebih dari 90 senapan dan setengah ton narkoba, serta menangkap 81 orang.
Baca Juga : Presiden Brasil Lula da Silva Tuduh Trump Berupaya Ciptakan PBB Baru dan jadi Pemilik Tunggal
Namun di balik keberhasilan aparat, muncul tudingan pelanggaran HAM dan kekerasan berlebihan.
Warga di kawasan favela menuduh polisi melakukan eksekusi di tempat terhadap para tersangka. Puluhan warga menggelar demonstrasi di depan kantor pemerintahan negara bagian sambil meneriakkan “pembunuh!” dan mengibarkan bendera Brasil yang dicat merah darah.
"Mereka bisa saja ditangkap hidup-hidup, kenapa harus dibunuh seperti ini? Banyak yang masih hidup dan minta tolong,” kata Silva Santos, salah satu warga yang menyaksikan operasi berdarah tersebut.
Baca Juga : Ancelotti Sanjung Penampilan Klub dan Pemain Brasil di Piala Dunia Antarklub FIFA 2025
Beberapa video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan api dan asap membumbung dari dua favela tersebut. Laporan juga menyebutkan terdengar letusan senjata di sekitar bandara internasional Rio de Janeiro.
Kementerian Pendidikan setempat menutup 46 sekolah di area tersebut, sementara Universitas Federal Rio de Janeiro membatalkan seluruh kelas malam dan meminta mahasiswa untuk mencari tempat aman.
Pasca penggerebekan, lebih dari 40 jenazah ditemukan berserakan di jalanan favela. Warga membawa jasad-jasad itu ke alun-alun utama sambil menuntut keadilan. Banyak di antaranya ditemukan dalam kondisi mengenaskan — terikat, tertembak di kepala, bahkan mengalami luka tusuk.
Baca Juga : Bandar Narkoba 26 Kg Ganja Ditembak Polisi Gegara Melawan Saat Akan Ditangkap
“Ini bukan operasi keamanan, ini pembantaian,” ujar Raull Santiago, aktivis lokal yang menuduh aparat melakukan eksekusi di luar hukum.
Sekretaris Polisi Negara Bagian, Felipe Curi, mengklaim sebagian korban merupakan anggota geng bersenjata yang menembak aparat dari area hutan dengan pakaian kamuflase. Namun ia juga menuding sebagian warga “mengubah bukti” dengan melepaskan peralatan dari jenazah.
Tragedi ini berlangsung di tengah persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) COP30 tentang perubahan iklim yang akan digelar pada 10–21 November 2025 di Brasil, dengan dihadiri pemimpin dunia, selebriti, hingga atlet internasional.
Pemerintah Brasil kini berada di bawah tekanan publik dan lembaga hukum untuk menjelaskan transparansi operasi yang menewaskan ratusan orang ini.
(Dra/nusantaraterkini.co)
