Pengamat Ungkap Faktor Penyebab Masyarakat Kian Apatis terhadap Pilkada
Masyarakat semakin merasa kecewa karena tidak melihat adanya perubahan signifikan dalam politik kita. Selain itu, bencana alam yang melanda..
Nusantaraterkini.co, MEDAN – Fenomena tingginya angka golput dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kali ini mencerminkan semakin menguatnya rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap proses politik. Pengamat Politik sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dr. Mujahiddin, S.Sos., M.S.P., dalam wawancara eksklusif dengan Nusantaraterkini.co, mengungkapkan dua faktor utama yang memengaruhi rendahnya partisipasi publik: ketidakpuasan terhadap proses politik dan dampak bencana alam.
Menurut Mujahiddin, ketidakpercayaan masyarakat terhadap Pilkada semakin terasa, apalagi setelah Pilpres yang baru saja berlangsung.
“Masyarakat semakin merasa kecewa karena tidak melihat adanya perubahan signifikan dalam politik kita. Selain itu, bencana alam yang melanda sejumlah wilayah, seperti banjir di Medan, Deli Serdang, dan Binjai, serta beberapa titik longsor, makin memperburuk keadaan, membuat semangat masyarakat untuk terlibat dalam pilkada semakin luntur,” jelasnya dengan nada serius kepada Nusantaraterkini.co, Jumat (6/12/2024).
Lebih lanjut, Mujahiddin juga menyayangkan fenomena yang terjadi setelah hasil quick count Pilkada keluar. Masyarakat, menurutnya, menjadi enggan untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena sudah tahu hasilnya.
“Masyarakat sudah tahu hasilnya, dan tentu mereka malas untuk datang ke TPS. Ini sudah menjadi siklus politik yang terus berulang. Elit politik yang terpecah, ditambah polarisasi yang semakin tajam, membuat masyarakat merasa bahwa tidak ada pasangan calon yang benar-benar mewakili kepentingan mereka,” tambahnya.
Angka golput yang semakin tinggi, menurut Mujahiddin, mencerminkan sikap apatis masyarakat yang merasa politik tidak lagi relevan dengan kehidupan mereka.
“Dengan nilai angka golput yang tinggi, berarti masyarakat sudah apatis, apriori, yang artinya sudah masa bodoh dengan situasi saat ini. Mungkin politik yang ada saat ini sudah tidak mempresentasikan mereka,” tegasnya.
Ketidakpercayaan terhadap sistem politik, ditambah dengan ketidakmampuan politikus untuk menawarkan solusi yang nyata bagi masyarakat, membuat harapan publik untuk perubahan semakin redup.
Dengan situasi ini, Mujahiddin berharap agar pemimpin yang terpilih nantinya dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat dan memperbaiki wajah politik yang selama ini dianggap tidak sehat.
(cw9/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
-
-
NEWSVideo WBP Diduga Pesta Sabu Viral, Lapas Tebingtinggi Dirazia: Tim Gabungan Temukan Sajam Hingga Handphone
hendra·8 jam yang lalu -
SUMSELMenko Pangan Tinjau Pembakaran Perdana PSEL Palembang, Sampah Keramasan Mulai Diolah Jadi Listrik
hendra·8 jam yang lalu -
-
NASIONALTrump dan Xi Redakan Ketegangan, Dunia Menatap Babak Baru Hubungan AS-Tiongkok
hendra·9 jam yang lalu -
NEWSSurat Advokat Jadi Objek Perkara Pidana, Hasrul Benny: Ini Kriminalisasi Produk Advokat
hendra·9 jam yang lalu -
KRIMINALPolisi Gagalkan Pengiriman 296 Cartridge Etomidate dari Malaysia ke Medan, Nilainya Rp888 Juta
hendra·10 jam yang lalu -
INTERNASIONALKlaster Mewah Lapas Cibinong Diusut, Menteri Imipas Siapkan Sanksi hingga Pencopotan
hendra·10 jam yang lalu -
KRIMINALBea Cukai Gagalkan Peredaran 2,3 Juta Batang Rokok Ilegal di Kutai Kartanegara
hendra·11 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan