Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Pasar Thrift Medan: Gen Z Berburu Gaya, Kritik Fast Fashion dan Rayakan Identitas

Berbelanja di pasar barang bekas adalah bentuk perlawanan kecil terhadap industri fashion cepat saji (fast fashion) yang dinilainya kapitalistik

Sejumlah sepatu bekas yang dijual di sebuah tenan milik seorang pedagang barang bekas di Market Thirft Medan, pada Selasa (30/9/2025). (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)
Sejumlah sepatu bekas yang dijual di sebuah tenan milik seorang pedagang barang bekas di Market Thirft Medan, pada Selasa (30/9/2025). (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)
A A

, MEDAN - Di balik kesibukan kendaraan yang padat di Jalan Dr. Mansyur, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, ratusan anak muda berjubel di antara deretan tenda putih.

Dari kejauhan, suasana itu mirip festival musik pop punk atau hip-hop yang berdentum dari pengeras suara yang bercampur dengan aroma-aroma branded yang dijajakan.

Puluhan tenan berjejer rapat, memajang sepatu sneakers, topi, jaket, celana jeans, hingga jam tangan bekas. Meski label “bekas” melekat, barang-barang itu bukan sembarangan. Seluruhnya layak pakai, bahkan ada yang tampak nyaris baru dengan merek global seperti Nike, Adidas, Uniqlo, atau Dickies.

“Kalau barang branded seperti ini dibeli baru, harganya bisa jutaan. Di sini, dengan ratusan ribu pun bisa dapat,” kata Conan salah satu pengunjung saat diwawancarai di lokasi, pada Selasa (30/9/2025) sore.

Baca Juga : Modus Pengusaha Sepatu Thrift di Tanjungbalai, Warga Medan Ditipu Rp15 Juta

Conan mengaku tidak sekadar mencari pakaian murah. Baginya, berbelanja di pasar barang bekas adalah bentuk perlawanan kecil terhadap cepat saji (fast fashion) yang dinilainya kapitalistik.

“Banyak baju baru diproduksi tiap bulan, tapi cepat juga dibuang. Kita mau gaya, tapi tanpa merusak bumi,” ujarnya.

Pernyataan itu sejalan dengan tren yang berkembang di kalangan . Sebuah riset global yang dilakukan ThredUp pada 2024 menunjukkan, 42 persen anak muda lebih memilih membeli barang bekas karena alasan lingkungan.

Sementara laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tekstil menyumbang hampir 10 persen emisi karbon dunia, melebihi gabungan industri penerbangan dan pelayaran.

Baca Juga : Kebakaran 204 Kios TPO Pakaian Bekas di Tanjungbalai, Polisi: Diduga Kuat Sengaja Dibakar

Di Medan Thrift Market, tren itu tampak jelas. Pengunjung tidak hanya bertransaksi, tetapi juga menjadikan ajang ini ruang berekspresi. Sebagian hadir dengan gaya pakaian eklektik celana panjang longgar, kaos tipis dilapisi kemeja oversize, atau gaun vintage berpadu sneakers modern.

“Kalau beli barang thrift, gayanya bisa unik dan beda. Kita bisa mix and match tanpa takut sama,” kata Ais, yang datang bersama teman-teman dari komunitasnya.

Penjual pun menyadari segmen pasar itu. Beng (33), mengaku baru dua tahun terakhir menekuni bisnis barang bekas impor. Ia mendapatkan pasokan dari kontainer yang masuk ke Belawan. Barang-barang itu kemudian dipilah, dicuci, dan dijual kembali di lapak-lapak seperti Medan Thrift Market.

“Anak muda sekarang lebih peduli lingkungan, tapi tetap mau stylish. Jadi thrifting ini pas sekali,” ujar Beng.

Namun, praktik ini tidak lepas dari kontroversi. Pemerintah Indonesia sebenarnya melarang impor pakaian bekas melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40 Tahun 2022 dengan alasan kesehatan dan perlindungan industri tekstil dalam negeri. Meski begitu, pasar barang bekas tetap marak di berbagai kota besar, dari Jakarta, Bandung, hingga Medan.

Baca Juga : Polri Usul Penguatan Regulasi dan Kerjasama Antar Lembaga untuk Tindak Pakaian Bekas Impor Ilegal

Bagi sejumlah pengunjung, keberadaan pasar ini justru membuka ruang kritik terhadap kapitalisme industri sandang.

“Larangan impor pakaian bekas seolah hanya melindungi pabrik besar. Padahal di sini banyak orang kecil bisa hidup, dan konsumen punya pilihan,” kata Acek, aktivis mahasiswa yang ikut datang ke arena.

Menjelang malam, kerumunan di Jalan Dr. Mansyur kian padat. Lampu-lampu tenda mulai menyala, menambah nuansa festival belanja. Di sudut lapangan, sekelompok musisi dari band atau komunitas kecil memainkan lagu-lagu punk hingga hip hop, membuat suasana semakin meriah.

Perlu diketahui, Medan Thrift Market sendiri sudah berlangsung selama empat hari dan pada 1 Oktober 2025 pasar ini akan berakhir.

(Cw7/)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait