Kepercayaan Warga Sipil, Mahasiswa hingga Buruh kepada DPRD Sumut Luntur Bersama Air Hujan
Ada sebanyak tujuh tuntutan yang kita suarakan hari ini, salah satunya adalah bubarkan Dewan Perwakilan Rakyat DPR
Nusantaraterkini.co, MEDAN - Pada Senin (1/9/2025), gerakan massa rakyat di Kota Medan kembali terjadi. Warga sipil, kaum Buruh, mahasiswa, aktivis Hak Asasi Manusia, hingga kelompok pelajar bersatu. Mereka menamakan diri sebagai Akumulasi Kemarahan Buruh dan Rakyat (Akbar) Sumatera Utara (Sumut).
Aksi yang mereka gelar tersebut jelas tuntutannya.
Mereka marah kepada pemerintah yang dianggap abai terhadap kepentingan rakyat.
Terlebih, tewasnya Affan Kurniawan saat aksi di Jakarta Pusat, menambah luka yang sudah lama mereka rawat.
Baca Juga : Janji untuk Berbenah tak Ditepati, Ketua DPRD Sumut Diteriaki Pembohong
Sejak siang Pukul 11.20 WIB, di Jalan Sisingamangaraja, tepat di depan Kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), kota Medan, sinar matahari tampak tidak kompak menembus bumi, sebelah barat dan selatan terlihat mendung, namun mereka tetap lantang menyerukan: Negara Gagal Menjamin Kesejahteraan Rakyat.
Kalimat yang ditulis di spanduk itu digenggam kuat dan dibentangkan ke hadapan publik. Bukan tanpa alasan frasa itu muncul. Mereka mengaku resah terhadap realita kekerasan yang dianggap sengaja dipertontonkan aparat ke hadapan publik. Ironsinya, lembaga perwakilan rakyat itu juga dinilai tutup mata.
“Ini bukan soal kematian Affan saja. Kita khawatir kejadian sama menyasar kerabat, teman, keluarga, anak dan cucu kita. Itu menakutkan,” kata Gana koordinator Aksi Akbar Sumut.
Meski pemerintah serta beberapa instansi lainnya mengaku bersalah dan telah meminta maaf, amarah mereka tetap tidak terbendung. Unjuk rasa tidak percaya terhadap pemerintah kemudian berhasil mengalahkan deru mesin kendaraan.
“Ada sebanyak tujuh tuntutan yang kita suarakan hari ini, salah satunya adalah bubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),” ujar Alwan Ritonga saat diwawancarai di kawasan Jalan Sisingamangaraja, Senin siang.
Sekitaran kampus UISU, tepat di perempatan jalan itu seketika membara. Massa Akbar Sumut sektor teladan membakar ban, dan berorasi menggunakan pengeras suara yang ditenteng bergantian oleh setiap orator.
Puas berorasi. Kemudian sekitar pukul 12.40 WIB para aktivis Buruh dan mahasiswa itu bertolak menuju Jalan Kesawan, Kota Medan. Pos bloc yang juga dikenal sebagai titik Nol kota Medan itu, menjadi titik pertemuan dengan massa yang lebih besar lagi.
Setelah istirahat dan menghilangkan dahaga, seketika sekitar pukul 13.40 WIB, dari setiap sudut di kawasan ruang publik itu, Aktivis HAM, pelajar, hingga warga sipil berdatangan. Seketika Posbloc menjadi lautan massa.
Mereka mengenakan pakaian berwarna hitam. Masing-masing mereka membawa poster serta simbol-simbol perlawanan. Bermacam bentuk, begitu juga dengan pesannya.
“Reformasi DPR” dan “Polisi TNI Pembunuh Rakyat” demikian tulisan dalam spanduk yang mereka buat menggunakan kuas cat dinding.
Setengah jam lebih berorasi dan menyusun barisan, massa kemudian berjalan kaki menuju DPRD Sumut. Setelah memutari Lapangan Merdeka, di simpang jalan depan Bank Mandiri mereka kembali membakar satu ban bekas.
Belum habis ban itu dibakar, langit mendung seketika. Perlahan tetes air hujan jatuh membasahi jalan, dan memadamkan api itu. Meski begitu, semangat mereka tetap membara. Tidak padam. Malah semakin menjadi.
Tiba di depan gedung DPRD Kota Medan, para massa acungkan jari tengah. Meski kemudian tiap koordinator lapangan meredamnya. Tapi itu terekam dan mewakili suasana batin demonstran.
“Bubarkan DPR, Bubarkan DPR,” berkali-kali seruan itu datang dari kerumunan. Mereka tetap menjaga waras tidak ada ricuh yang berarti.
Hanya sesaat mereka di DPRD Kota Medan itu. Pintu gerbang yang tertutup rapat diacuhkan mereka dan bertolak ke Jalan Imam Bonjol, gedung perwakilan rakyat Sumut.
Tibanya mereka di lokasi hujan semakin deras. Tidak mengenakan pakaian anti hujan atau payung untuk melindungi badan dari hujan, mereka tetap bernyanyi, berteriak lantang, pengeras suara yang ditenteng itu menjadi alat satu-satunya yang mereka gunakan.
Sementara itu, Polisi yang sejak sore itu berseragam lengkap memagari pintu gerbang gedung wakil rakyat telah berbaris memanjang. Dari dalam kendaraan polisi yang lengkap dengan meriam air diposisikan di bagian dalam gedung. Ada juga polisi yang bertameng dan lengkap dengan pelindung kepala.
Suasana cepat berubah menjadi seru-deru suara amarah. Mereka khawatir jika sebagian dari mereka bisa jadi korban kekerasan berikutnya. Namun, tidak ada bentrokan hari itu.
Meski sesekali botol air mineral melayang dari barisan massa aksi, tetapi kedua belah pihak tidak tersulut.
Baca Juga : Pria Diduga Intel Diamankan Massa di Medan, Dianggap Bikin Provokasi
Di jalanan itu, massa membentuk lingkaran. Mereka menjaga satu sama lain. Tidak ingin ada penyusup yang mengganggu. Ketika itu datang massa sigap menumpasnya.
Berjam-jam hingga hujan mulai reda perlahan. Wakil rakyat keluar dari gedung. Mereka bertemu dengan massa aksi. Ketua DPRD Sumut, Erni Ariayanti memohon maaf dan berjanji berbenah.
“Kawan-kawan kami memohon maaf sebesar-besarnya. Kali ini saya juga memohon maaf, kalian disini masih kecewa, masih marah dan itu adalah hal yang wajar,” kata Erni ditengah kerumunan massa dan dikawal polisi.
Kata-kata Erni disanggah. Saat dia ingin melanjutkan pernyataan yang dianggap tidak bermutu itu, seluruh massa berseru: Pembohong!
Saat Erni kemudian hendak mengambil pengeras suara dan mengucapkan maaf sekali lagi, massa aksi kompak menyorakinya. Bahkan mengatakan bahwa Erni dan jajaran DPRD Sumut penipu.
"Kalau kalian minta maaf berarti kalian bersalah kan? Kalau kalian bersalah, silakan undur diri, serahkan DPR ke tangan rakyat. Biar kami yang urus DPR!" teriak Dinda, seorang perempuan yang aktif menggeluti persoalan HAM di Sumut.
Mendengar itu, Erni berjanji akan berbenah. Bukan hanya dia, tapi seluruh anggota dewan itu. Meski yang hadir hanya sebagian kecil saja. Mereka mengaku punya banyak salah.
Meski begitu, narasi anggota legislatif itu tidak dipercayai massa aksi.
Mereka menyoraki Erni dan anggotanya. Saat yang bersamaan mereka lari dan dikawal polisi bertameng.
“Kami tidak percaya kalian, bubarkan DPR,” seru para massa aksi sambil membelakangi mereka sebagai tanda tidak percaya lagi.
Sebelum Maghrib menyusul, massa berbalik dan pergi meninggalkan gedung DPRD Sumut. Dan meninggalkan catatan. Bahwa kepercayaan mereka luntur kepada perwakilan rakyat itu. Hujan menyertai juang Akbar Sumut di awal September. Bulan yang juga tercatat punya cerita gelap.
(cw7/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANPemko Medan Kembangkan Layanan Publik Berbasis WhatsApp-AI
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
SEPAKBOLALiga 2: Sumsel United Raih Poin Penuh di Kandang Persiraja Banda Aceh 2-1
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu -
SUMUTPemprov Sumut dan DPR RI Komitmen Tingkatkan Pelayanan Haji 2027
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu -
KESEHATANMuara Enim Jadi Lokasi Uji Coba Reformasi JKN Kemenkes
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu -
NASIONALWamenaker: Pelindungan Peserta Pemagangan Luar Negeri Jadi Prioritas
Herman Saleh Harahap·7 jam yang lalu -
PAPUA TERKINIMRP Minta Dukungan DPD Percepat Pembentukan Provinsi Papua Utara
Herman Saleh Harahap·7 jam yang lalu -
-
EKONOMIEkspor Naik, Neraca Perdagangan Sumut Surplus US$731 Juta
Herman Saleh Harahap·8 jam yang lalu -
SUMUTDinsos Sumut Salurkan Bantuan Pascabencana ke 13.702 Keluarga
Herman Saleh Harahap·8 jam yang lalu -
NEWS VIDEOKejagung Bongkar Dugaan Korupsi Pengadaan Motor MBG Rp1,2 Triliun
Fadli Tara·8 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan