Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Selasa (22/4/2025) harga minyak mentah naik lebih dari US$ 1 per barel didorong oleh sanksi baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran serta penguatan pasar saham yang membantu memulihkan reli setelah aksi jual tajam pada sesi sebelumnya.
BACA: Harga Emas Spot Melonjak ke Rekor Tertinggi Menembus Level US$ 3.383,87 Per Ons Troi
Harga minyak mentah Brent naik sebesar US$ 1,18, atau 1,8%, menjadi US$ 67,44 per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei,
Baca Juga : Bersaksi di Sidang Tipikor, Ahok Tantang Jaksa Periksa Menteri BUMN hingga Presiden
Yang berakhir pada penyelesaian Selasa, menguat US$ 1,23, atau 2%, menjadi US$ 64,32 per barel. Kontrak WTI untuk Juni, yang lebih aktif diperdagangkan, juga naik 2% menjadiUS$ 63,47 per barel.
Pada hari sebelumnya, Brent dan WTI turun lebih dari 2% menyusul sinyal kemajuan dalam perundingan nuklir antara AS dan Iran, serta merosotnya pasar saham akibat kritik Presiden AS Donald Trump terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Selasa ini, AS mengumumkan sanksi baru yang menyasar seorang pengusaha pengiriman gas minyak cair dan minyak mentah asal Iran beserta jaringan perusahaannya.
Meskipun terdapat kemajuan dalam perundingan dengan AS, kegagalan mencapai kesepakatan dapat berdampak besar terhadap ekspor minyak Iran di tengah semakin ketatnya sanksi, kata John Kilduff, mitra di Again Capital yang berbasis di New York.
"Jika kesepakatan nuklir gagal dicapai, AS kemungkinan akan mendorong penghentian total ekspor minyak Iran. Situasinya tampak semakin mengarah ke skenario aliran nol," ujarnya.
Di sisi lain, pasar saham juga mengalami rebound pada Selasa karena muncul tanda-tanda potensi meredanya ketegangan dagang antara AS dan China.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan keyakinannya bahwa ketegangan dagang antara kedua negara akan mereda, meskipun ia mengingatkan bahwa pembicaraan dengan Beijing belum dimulai dan akan menjadi proses yang sulit.
Ketegangan antara Washington dan Beijing, ditambah kebijakan tarif terhadap hampir seluruh mitra dagang AS, telah menekan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.
Investor khawatir hal ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menurunkan permintaan minyak.
Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini. Sementara itu, para menteri keuangan dari berbagai negara berkumpul di Washington untuk mencari kesepakatan dengan pemerintahan Trump guna menurunkan tarif.
"Pengenaan tarif AS dapat memperlambat perdagangan global, mengganggu rantai pasok, serta meningkatkan biaya di berbagai sektor industri pengguna energi. Hal-hal ini secara signifikan dapat menurunkan permintaan minyak," kata Marcus McGregor, Kepala Riset Komoditas di perusahaan manajemen aset Conning.
Dari sisi suplai, persediaan minyak mentah AS dilaporkan turun hampir 4,6 juta barel pada pekan lalu, menurut sumber pasar yang mengutip data dari American Petroleum Institute.
Data resmi dari pemerintah AS terkait persediaan minyak akan dirilis pada Rabu pukul 10:30 pagi waktu setempat.
Rata-rata analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penurunan sebesar 800.000 barel dalam stok minyak mentah AS pada minggu lalu.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
