Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Jumat (21/2/2025) harga minyak mentah melanjutkan kenaikannya dan menuju peningkatan mingguan.
Didorong oleh turunnya persediaan bensin dan distilat di Amerika Serikat (AS) yang meningkatkan harapan akan permintaan yang kuat, serta kekhawatiran gangguan pasokan dari Rusia yang turut menopang harga.
Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 16 sen atau 0,2% menjadi US$76,64 per barel pada pukul 01.23 GMT.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Terkoreksi Dipicu Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Volodymyr Zelenskiy
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 17 sen atau 0,2% ke US$72,65 per barel.
Kedua acuan tersebut diperkirakan mencatat kenaikan mingguan sekitar 3%.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan pada Kamis (20/2) bahwa persediaan minyak mentah AS meningkat, sementara stok bensin dan distilat mengalami penurunan akibat pemeliharaan musiman di kilang yang menyebabkan penurunan produksi.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Turun Hampir US$1
"Penurunan stok bensin dan distilat AS, serta kekhawatiran akan pasokan yang ketat di Rusia, mendukung kenaikan harga minyak," kata Toshitaka Tazawa, analis di Fujitomi Securities.
"Harapan akan potensi kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina, yang dapat meringankan sanksi terhadap Moskow, mulai memudar akibat sikap Ukraina yang semakin keras, mendorong beberapa investor untuk kembali masuk ke pasar," tambahnya.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy awal pekan ini geram atas langkah AS dan Rusia yang mencoba menegosiasikan kesepakatan damai tanpa keterlibatan Kyiv.
Serta pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyalahkan Ukraina atas konflik yang telah berlangsung tiga tahun dengan Moskow.
Namun, setelah bertemu dengan utusan Trump untuk konflik Ukraina pada Kamis, Zelenskiy menyatakan bahwa Ukraina siap bekerja cepat untuk menghasilkan perjanjian investasi dan keamanan yang kuat dengan AS.
Sementara itu, gangguan pasokan minyak tetap menjadi faktor yang menjaga harga tetap tinggi.
Rusia melaporkan bahwa aliran minyak dari Konsorsium Pipa Kaspia (CPC), jalur utama ekspor minyak mentah dari Kazakhstan, berkurang 30%-40% pada Selasa setelah serangan drone Ukraina terhadap stasiun pemompaan.
Namun, meskipun jalur ekspor utamanya melalui Rusia mengalami kerusakan, Kazakhstan justru mencatat rekor volume produksi minyak tertinggi, menurut sumber industri pada Kamis.
Belum jelas bagaimana Kazakhstan dapat mencapai rekor tersebut mengingat peningkatan produksi biasanya harus sesuai dengan kapasitas ekspor pipa.
