Formappi: DPR Tak Punya Kuasa Jika Belum Direstui Ketua Umum Partai
Formappi kritisi DPR yang bergantung pada restu Ketum Partai, sebut fungsi pengawasan dan demokrasi terancam
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai pengakuan sejumlah anggota DPR mengenai pentingnya restu ketua umum partai dalam menentukan sikap politik di parlemen mencerminkan persoalan serius dalam sistem demokrasi Indonesia.
Menurutnya, pernyataan Ketua Komisi II DPR Muhammad Rifqinizamy Karsayuda yang menyebut anggota DPR tidak akan bergerak tanpa "lampu hijau" dari ketua umum partai bukanlah hal baru. Sebelumnya, politikus Bambang Wuryanto juga pernah menyampaikan hal serupa.
Lucius menilai kondisi tersebut menunjukkan DPR sebagai lembaga konstitusional yang memiliki fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan justru tidak memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan.
"Kalau anggota DPR harus selalu menunggu persetujuan ketua umum partai, maka fungsi representasi sebagai wakil rakyat menjadi dipertanyakan," kata Lucius kepada Nusantaraterkini.co, Kamis (9/7/2026).
Ia berpendapat aktivitas DPR, seperti memanggil menteri maupun pimpinan lembaga negara, berpotensi kehilangan makna apabila keputusan politik akhirnya tetap bergantung pada arahan pimpinan partai.
Lebih lanjut, Lucius mempertanyakan efektivitas keberadaan 580 anggota DPR apabila keputusan strategis pada akhirnya hanya ditentukan oleh para ketua umum partai politik.
Menurutnya, persoalan menjadi semakin kompleks ketika sejumlah ketua umum partai juga menjabat sebagai menteri di kabinet atau merupakan bagian dari pemerintahan. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi fungsi pengawasan DPR terhadap pemerintah.
"DPR semestinya menjadi lembaga yang setara dengan Presiden dalam sistem ketatanegaraan. Namun jika keputusan politik harus menunggu arahan ketua umum partai yang juga menjadi bagian dari pemerintah, fungsi checks and balances menjadi lemah," ujarnya.
Lucius juga menilai situasi tersebut berpotensi membuat produk legislasi DPR lebih mencerminkan kehendak pemerintah dibandingkan hasil proses politik yang independen.
Ia menambahkan, kondisi itu dapat menjadi hambatan dalam upaya merevisi Undang-Undang Pemilu sebagai bagian dari pembenahan sistem demokrasi di Indonesia.
Sebelumnya, Ketua Komisi II DPR Muhammad Rifqinizamy Karsayuda menegaskan DPR tidak akan membahas revisi Undang-Undang Pemilu apabila belum memperoleh persetujuan dari ketua umum partai politik masing-masing.
"Bagi kami politisi, kalau belum ada green light dari ketua umum, kami tidak bergerak. Kalau kita lihat dari kelembagaan parpol, memang tidak ideal kata-kata saya ini, tapi saya harus sampaikan apa adanya," ujar Rifqinizamy.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELJob Fair Sumsel Sediakan 2.500 Lowongan, Gubernur Minta Hapus Syarat Batas Usia
Herman Saleh Harahap·12 menit yang lalu -
SUMUTKAI Sumut Tambah Jadwal KA Datuk Blambangan Rute Tebingtinggi–Siantar, Tarif Hanya Rp5 Ribu
Rozie Winata·20 menit yang lalu -
NASIONALPemerintah Pangkas Bunga UMKM Jadi 8 Persen dan Ambil Alih Kebun Ilegal
Herman Saleh Harahap·35 menit yang lalu -
NEWSSoal Penyadapan, Golkar: Jika Terbukti Makar, Tindak Tegas
Herman Saleh Harahap·44 menit yang lalu -
-
HUKUM DAN KRIMINALJokowi Ditegur Hakim Saat Sidang Kasus Roy Suryo
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALJokowi Hadiri Sidang Soal Ijazah Ditemani Kaesang dan Kahiyang
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
SUMUTSebanyak 1.341 Kejadian Kekerasan Perempuan dan Anak di Sumut Hingga November
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSPenggerebekan Pesantren Sukoharjo, DPR Minta Penegak Hukum Lebih Profesional
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSAksi Kelompok LSP Ancaman Fatal bagi Reputasi Indonesia di Arena Global
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan