Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Erick Thohir: Kekalahan dari Mali Jadi Pelajaran Berharga Jelang Piala Dunia

Editor:  Feriansyah Nasution
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ketum PSSI Erick Thohir saat diwawancarai usai menyaksikan laga timnas Indonesia U-17 dengan Mali U-17 pada Senin (18/8/2025) malam. (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, DELISERDANG – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menilai kekalahan Timnas Indonesia U-17 dari Mali U-17 pada final Piala Kemerdekaan 2025 sebagai pengalaman berharga bagi para pemain muda Garuda. Laga yang berlangsung di Stadion Utama Sumatera Utara, Senin (18/8/2025), berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Mali.

Baca Juga : Garuda Muda Dibantai Mali U-17, Nova Arianto: Saya Senang Tim Bisa Belajar

Menurut Erick, meski sempat tertinggal dua gol, tim asuhan Nova Arianto mampu bangkit dan memperkecil ketertinggalan sebelum akhirnya menutup babak kedua tanpa kebobolan tambahan.

“Dari awal sampai akhir mereka berlari tanpa lelah, meski jarang minum. Ketika anak-anak di-pressing, mereka bisa kembali stabil. Kita sempat tertinggal 2-0, lalu bisa mencetak gol menjadi 2-1, dan di babak kedua kita bermain seimbang,” kata Erick kepada wartawan usai menyaksikan laga, Senin malam.

Erick juga menekankan bahwa Mali bukan lawan sembarangan. Tim asal Afrika itu merupakan peringkat ketiga Piala Dunia U-17 2023 yang digelar di Indonesia.

“Ini uji coba yang luar biasa. Mali jauh lebih bagus, dan anak-anak bisa merasakan tekanan menghadapi tim sekelas itu,” ujarnya.

Pengalaman menghadapi Mali dinilai penting, apalagi Indonesia U-17 akan bersaing di fase grup bersama Brasil pada ajang internasional mendatang. Erick mengungkapkan semangat para pemain tetap tinggi.

“Ketika saya tanya soal Brasil, anak-anak menjawab, siapa tahu bisa seri. Nah, itu baru mental bangsa Indonesia. Masa depan Indonesia mesti begitu,” kata Erick.

Baca Juga : Ketua Umum PSSI Ungkap Stadion Utama Sumut Layak Jadi Kandang Timnas, Ini 3 Alasan Erick Tohir

Sebelumnya, Erick juga menilai Stadion Utama Sumatera Utara (Sumut) di Batang Kuis, Kabupaten Deliserdang, layak masuk daftar kandang tim nasional Indonesia. Ia menyebut ada tiga alasan utama yang membuat stadion berkapasitas 25.750 penonton itu pantas menggelar laga internasional.

Alasan pertama, kata Erick, terletak pada fasilitas stadion yang dirancang khusus untuk sepak bola. Arena ini baru rampung beberapa bulan lalu dengan konsep modern, mulai dari kualitas rumput, pencahayaan stadion, hingga ruang ganti pemain yang disebut setara dengan standar turnamen besar dunia.

"Kadang stadion kita dipakai juga untuk atletik, jadi kualitasnya bercampur. Tapi stadion ini spesial untuk sepak bola," ujar Erick usai menyaksikan laga Piala Kemerdekaan 2025 di stadion utama Sumut, Senin (18/8/2025) malam.

Kedua, keseriusan pemerintah daerah. Erick menyebut dukungan Gubernur, Bupati, hingga jajaran pemerintah provinsi dan kabupaten sangat terasa dalam pembangunan dan pengelolaan stadion ini.

Ia bahkan menyinggung rencana revitalisasi Stadion Teladan di Medan yang akan menambah sarana latihan timnas.

"Keseriusan daerah luar biasa. Kalau PSSI mengecewakan pemerintah daerah, sama saja kami mengecewakan masyarakat," katanya.

Adapun alasan ketiga adalah antusiasme penonton. Dalam dua hari terakhir, saat Timnas U-17 bertanding, jumlah penonton tembus 22 ribu orang.

Menurut Erick, angka itu jarang ditemui di daerah lain untuk level turnamen kelompok umur.

"Untuk pertandingan U-17 internasional, hampir tidak ada daerah yang penontonnya sepadat di Sumatera Utara," ucapnya.

(cw7/nusantaraterkini.co)