Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Dampak Perang Israel Vs Iran Dinilai Bakal Menganggu Produksi Minyak Global

Pertikaian antara Israel dengan Iran berdampak besar bagi perekonomian global.

Nailul Huda (Foto: dok.facebook@nailulhuda)
Nailul Huda (Foto: dok.facebook@nailulhuda)
A A

nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pertikaian antara dengan besar bagi . 

Jika kedua negara ini berkepanjangan dikhawatirkan akan mengguncang stabilitas perekonomian global dan menambah ketidakpastian kondisi global.

and Law Studies (Celios) menyampaikan, dampak perang Iran vs Israel di Timur Tengah adalah akan terganggu.

" mempunyai produksi minyak bumi yang cukup besar. Ketika produksinya dikurangi karena adanya perang, maka harga minyak mentah global akan meningkat. Kenaikan ini sudah mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir pasca menyerang Iran," ucap Huda, Selasa (17/6/2025).

Dampak dari kenaikan harga, sambung Huda, adalah impor minyak bumi akan menjadi lebih mahal, terutama bagi negara net importir seperti Indonesia. Harga minyak yang meningkat akan berpengaruh kepada harga produksi bahan bakar minyak dalam negeri.

"Ketika tidak ada kenaikan harga, maka subsidi akan semakin meningkat. Dana di APBN akan semakin terkuras. Fiskal Indonesia akan semakin menurun," bebernya.

Ketika harga minyak global meningkat, inflasi global biasanya juga akan ikut meningkat. Inflasi yang tinggi ini, lanjut Huda, bisa memicu resesi ekonomi global yang mana saat ini sudah diprediksi akan semakin turun.

"Dampaknya adalah perdagangan global akan semakin terbatas, permintaan produk dari negara satu ke negara lainnya juga akan berkurang, termasuk Indonesia. Ketika inflasi tinggi pun, bank sentral akan mengerek suku bunga-nya agar dapat mengendalikan inflasi. Akibatnya cost of investment akan semakin mahal. Perputaran ekonomi global akan terasa melambat," jelas Huda.

Di sisi lain, Huda menilai bahwa Indonesia biasanya diuntungkan dengan kenaikan harga komoditas minyak global ini karena ekspor komoditas Indonesia akan semakin mahal.

"Namun memang kompensasi keuntungan ini biasanya tidak seberapa dibandingkan dengan pembengkakan subsidi BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah. Maka ini pemerintah harus jeli betul melihat peluang dan dampak dari perang Iran-Israel," tandasnya.

Dorong Jalan Damai

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR Yudha Novanza Utama berharap Pemerintah Indonesia ikut serta menyuarakan jalan damai sikapi antara Iran dan Israel yang semakin memanas. Ia menilai ketegangan ini bisa meluas dan mengganggu stabilitas global.

"Serangan timbal balik antara Iran dan Israel belakangan ini kian mengguncang situasi global. Ini pada ketidakpastian internasional yang bisa merugikan. Pemerintah harus ambil langkah dengan aktif mendorong jalan damai," kata Yudha, Selasa (17/6/2025).

Menurut Yudha, Indonesia memiliki posisi strategis di dunia internasional untuk mendorong komunitas global. Ia berharap Perserikatan Bangsaโ€‘Bangsa (PBB) dan negaraโ€‘negara berpengaruh, dapat lebih lantang menyerukan perdamaian.

"Pendekatan politik Indonesia yang bebas aktif, tidak memihak, harus dijadikan modal utama untuk mendekati negara adikuasa dan komunitas internasional, agar perang tak kembali terjadi dan menyebar dampaknya. Ini bukan hanya tentang dua negara yang bertikai, tapi tentang stabilitas global," katanya.

Legislator Golkar ini mengingatkan jika konflik bersenjata tidak segera dihentikan, dampaknya akan panjang ke sektor ekonomi hingga tata politik dunia. Ia menekankan pentingnya diplomasi dan jalur perundingan sebagai solusi utama.

"Jangan sampai menambah panjang daftar konflik dunia yang belum juga usai dari Ukraina, Gaza hingga Laut China Selatan. Atas nama kemanusiaan, perdamaian harus dijunjung tinggi oleh setiap negara," tambahnya.

Terpisah, sikap Pemerintah diwakilkan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi menjelaskan, posisi Indonesia akan terus menyerukan perdamaian dan penyelesaian secara diplomasi.

"Pemerintah tidak geser ya, jadi setiap ada konflik, setiap ada perang, pemerintah kita selalu menyerukan tiga hal, dan tidak pernah berubah sampai hari ini," kata Hasan.

Pertama, lanjut Hasan, Presiden Prabowo Subianto selalu mengecam segala bentuk agresi penyerangan terhadap negara lain. Kedua, mendorong terciptanya de-eskalasi konflik atau segera mungkin melakukan gencatan senjata.

Ketiga, pemerintahan RI juga menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan hukum internasional.

"Jadi enggak akan kemana-mana kita akan selalu dalam posisi seperti itu," katanya.

Diketahui, konflik Israel dan Iran masih berlangsung. Kementerian Kesehatan Iran mengatakan bahwa serangan Israel selama tiga hari di negara itu telah menewaskan 224 orang dan melukai lebih dari 1.200 orang.

"Setelah 65 jam agresi oleh rezim Zionis, 1.277 orang telah terluka. 224 wanita, pria, dan anak-anak telah menjadi martir," tulis juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour.

Dia menambahkan bahwa 90 persen dari mereka yang tewas adalah warga sipil.

Perang antara Iran dengan Israel saat ini terus berlanjut. Pemerintah Iran menegaskan pihaknya tidak akan bernegosiasi mengenai gencatan senjata di tengah serangan yang terus dilancarkan oleh Israel. Hal itu telah disampaikan Iran kepada dua negara mediator, yakni Qatar dan Oman. 

(cw1/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait