Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Banjir Halmahera Barat: Dua Warga Meninggal Dunia dan 3.444 Jiwa Terdampak

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Banjir merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, meliputi Kecamatan Ibu, Sahu Timur, Tabaru, Ibu Selatan, dan Loloda, Rabu (7/1/2026). (Foto: BPBD Halmahera Barat)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Akibat curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Rabu dini hari (7/1/2026) sekitar pukul 04.00 WIT, banjir melanda Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

Hujan deras yang berlangsung dalam waktu cukup lama menyebabkan meluapnya aliran air dan menggenangi permukiman warga serta memutus akses jalan di sejumlah wilayah.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyampaikan, kondisi ini mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu dan menimbulkan dampak signifikan bagi kehidupan sosial serta ekonomi warga setempat.

Baca Juga : Banjir Meluas di Banjar Kalsel, Pemkab Perpanjang Status Tanggap Darurat hingga 12 Januari 2026

Wilayah terdampak banjir meliputi lima kecamatan dengan sembilan desa, yaitu Kecamatan Ibu (Desa Gamlamo, Tongute Ternate, Tongute Ternate Asal, dan Gamici), Kecamatan Sahu Timur (Desa Gamoneng), Kecamatan Tabaru (Desa Duomo dan Goin), Kecamatan Ibu Selatan (Desa Talaga), serta Kecamatan Loloda (Desa Soasio).

"Dari kejadian ini, dilaporkan dua orang meninggal dunia di Desa Soasio, Kecamatan Loloda," ungkapnya dalam keterangan, Kamis (8/1/2026).

Selain itu, sebanyak 726 kepala keluarga atau sekitar 3.444 jiwa terdampak langsung, dengan sekitar 1.500 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Sementara ini menumpang di rumah warga yang tidak terdampak, sekolah, serta balai desa," jelasnya.

Muhari menyebutkan, kerugian materiil yang dialami warga akibat banjir cukup besar. Tercatat 726 unit rumah terdampak dengan rincian 34 unit rumah rusak berat, 3 unit rumah rusak sedang, dan 286 unit rumah rusak ringan.

Baca Juga : Soal Persentase Penanganan Banjir, Bupati Tapteng Irit Bicara!

Selain itu, satu unit ruko dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kondisi ini semakin memperberat beban masyarakat yang harus kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat bencana.

Dalam penanganan darurat, BPBD Kabupaten Halmahera Barat, katanya, telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk melaksanakan asesmen di lokasi terdampak. Upaya evakuasi warga juga terus dilakukan, terutama bagi kelompok rentan.

"Sebagai langkah awal pemenuhan kebutuhan dasar, BPBD telah menyalurkan bantuan berupa beras sebanyak satu ton dan 500 dus mi instan kepada masyarakat terdampak," sebutnya.

Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi bencana meliputi tenda, terpal, matras atau alas tidur, makanan siap saji, sembako, paket bayi, selimut, family kit, serta perlengkapan kebersihan.

Penanganan bencana melibatkan berbagai unsur, antara lain BPBD, TNI, Polri, Dinas Sosial, Kominfo, PLN, dan Basarnas, yang bersinergi dalam upaya penanganan darurat dan pemulihan awal.

Baca Juga : Ruslan Daud Desak Pemerintah Data Akurat Peternak Aceh Terdampak Banjir Penerima Bantuan

Berdasarkan kondisi terkini, banjir di sebagian wilayah telah mulai surut, namun curah hujan masih terpantau sangat tinggi. BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung di wilayah Halmahera Barat pada periode 5–11 Januari 2026.

Hingga saat ini, jaringan listrik dan akses komunikasi di beberapa lokasi masih terputus. Lokasi pengungsian sementara berada di rumah penduduk, SD Tongute Ternate, dan Balai Desa Tongute Ternate Asal. Melihat kondisi tersebut, diperlukan penetapan status tanggap darurat oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat guna mempercepat dan mengoptimalkan upaya penanganan bencana.

"BNPB mengimbau masyarakat Kabupaten Halmahera Barat, khususnya yang berada di wilayah rawan banjir, agar tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri serta keluarga. Warga diminta menghindari daerah rawan, segera mengungsi ke tempat aman apabila kondisi memburuk, serta mengikuti arahan dan informasi resmi dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan," pungkasnya.

(zie/Nusantaraterkini.co)