Nusantaraterkini.co, TAPANULI TENGAH - Bencana banjir bandang dan longsor menerjang Desa Bair yang berlokasi di kawasan pegunungan Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada Selasa (25/11/2025) lalu. Akibatnya, puluhan rumah, kebun, sungai hingga tujuh orang penduduk tertimbun material longsor.
Disisi lain, material longsor yang melenyapkan desa Bair berupa pohon-pohon serta bongkahan batu besar. Sejumlah material beton, diduga puing-puing rumah warga juga terlihat tertimbun di lokasi.
Sejumlah warga mengaku, kejadian tersebut merupakan yang pertama kali sejak perkampungan yang berlokasi pada ketinggian 73 meter di atas permukaan laut (Mdpl) itu dibuka. Ironisnya, bencana yang tak pernah disangka-sangka itu justru melenyapkan desa.
Baca Juga : Kisah Pilu Rokki: Mencari Ayah di Desa Bair Tapteng yang Lenyap Ditelan Longsor Bandang
Rokki Hutagalung (31), masih mengingat betul kejadian tersebut. Pada Selasa siang, sekitar pukul 15.30 WIB hujan turun deras, dan saat bersamaan lereng-lereng gunung mulai menunjukkan tanda-tanda longsor. Warga bersiaga hingga berganti hari. Namun, kata Rokki, hujan tak kunjung reda sampai Rabu (26/11/2025) dinihari.
Kondisi tersebut, membuat seluruh warga mengungsi ke satu-satunya rumah ibadah yang ada di desa Bair. Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Distrik IX Sibolga-Tapteng, Desa Bair, ditempati sementara oleh para warga. Kebetulan gereja itu dibangun di lokasi tinggi dan jauh dari jangkauan longsor.
"Saat warga sudah mengungsi, tinggal lah tujuh orang di kampung ini untuk jaga-jaga. Dan jam 4 pagi, habis semua kampung ini dan 7 oranglah yang hilang dari kampung ini," kata Rokki kepada Nusantaraterkini.co saat menyaksikan petugas dari petugas melakukan proses evakuasi di lokasi, Senin petang.
Baca Juga : Desa Bair Menghilang: Warga Ceritakan Detik-Detik Longsor Memusnahkan Satu Desa di Tapanuli Tengah
Desa Bair, saat ini, sudah lenyap. Sudah tak ditemukan lagi bangunan rumah, hingga jalan-jalan setapak yang dibuat dari beton. Beberapa bangkai sepeda motor dan atap rumah memang masih terlihat, namun, sejauh mata memandang, lokasi itu sudah dipenuhi oleh timbunan tanah yang berwarna kemerahan. Air yang mengalir dari perbukitan bercampur dengan warna tanah, jalurnyapun sudah mengecil.
Penyebab tampilan desa Bair itu berubah, masih membuat Rokki heran. Dia juga tidak berani menduga-duga akar penyebab longsor dan banjir itu, yang jelas, kata Rokki, bencana ini adalah yang pertama kali terjadi dan itupula yang paling dahsyat.
"Tidak pernah terjadi sebelumnya, baru kali ini. Semenjak dari nenek moyang kami, baru inilah yang terjadi. Saya tidak tahu apa penyebabnya, sepertinya dari ujung pegunungan (di belakang desa Bair) sana," ujarnya.
Penduduk desa, sebenarnya memanfaatkan hutan pegunungan dengan mengarit pohon karet, memanen nira, hingga menanam pohon durian. Kata Rokki, para penduduk tidak pernah menebang pohon untuk membuka lahan secara besar-besaran. Jikapun membutuhkan kayu, warga justru mengambilnya dari pohon yang tumbang secara alami.
Kini, selain kehilangan desa, Rokki juga kehilangan ayahnya yang diduga masih tertimbun material longsor.
Longsor dan banjir tersebut, bukan hanya menghilangkan desa Bair tetapi juga menghantam desa Aloban, yang berada di bawah Bair. Air serta material longsor merusak sebagian besar rumah-rumah penduduk desa Aloban. Sebanyak empat orang warga meninggal dunia. Dan warga telah menemukan keempatnya dua hari pasca benacana melanda.
Seiring proses evakuasi yang dilakukan oleh warga yang kemudian disusul oleh sejumlah petugas, warga desa masih trauma dengan kondisi itu.
Ananta Silalahi (37), warga desa Bair yang mengungsi di Gereja HKI, sudah 14 hari tidak bekerja. Dia duduk di pelataran gereja sambil memerhatikan anak perempuannya bermain dengan anak-anak lain di pengusian. Dia masih belum tenang pasca kejadian.
Hujan deras yang berlangsung satu hari satu malam itu, membawa bencana longsor. Material batu, tanah dan kayu besar menghantam kampung. Ananta, bersama anak dan istrinya ikut menyelamatkan diri ke gereja.
"Saya bekerja sebagai sopir angkutan umum. Saya masih trauma setelah kejadian itu. Balok-balok besar ikut terbawa air. Saya, anak dan istri kemudian mengungsi ke geraja," ujar Ananta.
Kata Ananta, sebanyak 43 rumah warga tertimbun, sementara 33 rumah lainnya hanyut terbawa banjir.
Longsor dan banjir tersebut, bukan hanya menghilangkan desa Bair tetapi juga menghantam desa Aloban, yang berada di bawah Bair. Air serta material longsor merusak sebagian besar rumah-rumah penduduk desa Aloban. Sebanyak empat orang warga meninggal dunia. Dan warga telah menemukan keempatnya dua hari pasca benacana melanda.
Poibe Hutagalung (64), masih mengingat betul detik-detik longsor dan banjir menerjang desa mereka. Saat itu, di hari kejadian, Aloban diguyur hujan, sementara Poibe sedang membeli buah durian di pusat desa. Kebetulan kejadian tersebut bertepatan dengan musim panen. Poibe, sama sekali tidak pernah mengira hujan hari itu akan membawa malapetaka ke desanya.
Ketika Poibe sudah tiba di rumah, dari teras dia menyaksikan sejumlah orang telah berlarian di bawah guyuran hujan.
"Saya heran kenapa mereka berlarian, saya sangka awalnya ada yang berkelahi," ucap Poibe.
Sesaat setelah itu, Poibe, menyaksikan apa yang terjadi sebenarnya. Warga berlarian dari terjangan banjir. Semua warga panik, begitupun dengan Poibe. Sesaat setelah itu, ia kemudian dibantu oleh anak laki-lakinya untuk menyelamatkan diri.
Tak menunggu waktu lama, banjir itu telah merusak sebagian besar rumah-rumah warga desa. Material pohon menabrak dinding-dinding rumah, menghancurkan semuanya. kantor kepala desa Aloban juga rusak parah.
"Saya berhasil lewat dari air besar itu. Apapun tidak ada lagi, sepeda motor, rumah serta isi-isinya pun sudah habis," kata Poibe.
Poibe mengelus dada, ketika disinggung soal apa penyebab longsor dan banjir tersebut. Dia tidak mampu mengutarakannya lewat kata-kata. Sebab, seperti yang dikatakan oleh Rokki, semenjak nenek moyang mereka menempati desa, bencana itu yang pertama kali terjadi.
"Saya belum pernah lihat langsung (bencana) semacam ini. Sesak hati saya melihat yang terjadi saat ini, sampai apapun tidak ada lagi," ucap Poibe.
Poibe, Rikko, dan Ananta serta ratusan warga desa dari Bair dan Aloban, saat ini, mengungsi di Gereja HKI yang berlokasi di bawah kaki gunung tepatnya, di Desa Tapian Nauli IV, Kecamatan Tapian Nauli. Sementara warga lainnya, memilih tinggal di rumah kerabat.
Bantuan-bantuan logistik berup beras, air mineral, hingga susu untuk anak-anak, terus berdatangan. Sementara pemerintah setempat kebingungan untuk mencukupi kebutuhan paling dasar kelompok perempuan dan balita.
Camat Tapian Nauli, Harrys Sihombing, mengklaim jika distribusi kebutuhan dasar itu telah disalurkan oleh pemerintah. Disisi lain, dia memohon kepada para relawan yang ingin berdonasi untuk membawa bantuan berupa pembalut dan popok untuk balita.
"Mohon maaf, yang paling utama pampers untuk anak-anak. Pembalut juga. Karena itu kebutuhan dasar," ujar Harrys saat berada di lokasi pengungsian.
Di lokasi pengungsian, bukan hanya lansia atau anak-anak saja yang bertahan. Penyandang disabilitas juga ada. Harrys, justru baru mengetahui itu.
"Tolonglah karena disabilitas itu jangan kita kesampingkan. Sebagai camat saya minta tolonglah dibantu," ujarnya.
Bencana alam tidak hanya terjadi di Tapteng. Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis pada Senin, 8 Desember 2025, pencarian korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) telah dilakukan, dan gabungan kembali menemukan 40 jenazah Senin kemarin.
"Menemukan 40 jenazah dengan rincian, untuk Aceh itu bertambah 23 dari 366 kemarin, hari ini menjadi 389 jiwa meninggal dunia," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi (Kapusdatinkom) Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya yang dikutip, Selasa (9/12/2025).
Sementara itu, untuk wilayah Sumatera Utara, tim gabungan menemukan 9 jenazah sehingga korban meninggal dunia menjadi 338 jiwa. Untuk Sumbar, korban meninggal dunia telah mencapai 234 jiwa.
Untuk diketahui, korban meninggal dunia paling banyak ditemukan di Provinsi Aceh, yang bertambah sebanyak 23 jiwa, dari 366 menjadi 389 jiwa.
"Untuk Sumatera Utara, dari 329 jasad yang sudah ditemukan per kemarin, hari ini bertambah 9, menjadi 338 jiwa meninggal dunia," tutur Abdul.
Sementara itu, untuk korban meninggal dunia di Sumatera Barat juga bertambah delapan jiwa, sehingga dari 226 jiwa menjadi 234 jiwa. 293 korban jiwa yang masih hilang akan terus dicari dengan upaya semaksimal dan seoptimal mungkin.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
