Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Aek Sipitu Dai, Tujuh Sumber Mata Air Ajaib dan Sakral di Samosir

Editor:  Rozie Winata
Reporter: JAS
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Suasana wisatawan merasakan Aek Sipitu Dai di Limbong Desa Aek Sipitu Dai, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. (Foto: JAS/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, SAMOSIRAek Sipitu Dai merupakan tempat sakral bersejarah bagi orang Batak dan salah satu cagar budaya yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik dari sekian banyak cagar budaya di Samosir.

Tempat ini bukan sekedar mata air biasa, melainkan tempat bersejarah bagi orang batak yang berlokasi di Limbong Desa Aek Sipitu Dai, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir.

Dalam bahasa Batak Aek Sipitu Dai memiliki arti dan makna, Aek yang berarti Air sebagai lambang kehidupan, Sipitu Dai artinya tujuh rasa yang berbeda-beda setiap salurannya, sehingga dapat diartikan air tujuh rasa.

Ketika memasuki tempat sakral Aek Sipitu Dai, akan langsung dipandu oleh Pasogit Limbong yang merupakan pengelola, pemandu sekaligus juru kunci di Aek Sipitu Dai.

Seluruh wisatawan berkunjung ke Aek Sipitu diberikan penjelasan sejarah singkat terkait Aek Sipitu Dai, nama-nama air tujuh rasa dan kegunanya.

Suasana rindang yang sejuk mendamaikan jiwa membuat kita lebih dekat dengan alam dan leluhur yang telah mewariskan peninggalan bersejarah bagi orang batak.

Baca Juga: Umat Muslim di Samosir Laksanakan Shalat Idul Adha 1446 H/2025 di Masjid Pangururan

Ketika memasuki pintu pertama Aek Sipitu Dai, di sebelah kiri terlihat batu berukuran cukup besar beberapa lubang-lubang yang dipercaya masyarakat setempat bahwa leluhur menaruh Anggir di lubang untuk ditumbuk lalu dimandikan.

Sumber mata air berasal di bawah rerimbunan pohon besar dibalik beton sebagai pembatas, tempat paling sakral atau inti sumber mata air dapat diakses untuk berdoa dan ziarah.

Pintu yang satu ini tepat di tengah-tengah tidak sembarangan dibuka untuk umum, hanya dikususkan untuk orang-orang memiliki niat tersendiri untuk berdoa dan ziarah, tertulis di pintu khusus spritual.

Peziarah spiritual biasanya membawa beras, sirih bilangan ganjil, jeruk purut (Anggir) telur ayam kampung. Bagi orang Batak telur dinamai miak-miak sebagai lambang rezeki. 

Setelah melakukan ritual, di areal khusus ini barulah peziarah diperkenankan melangkah ke pancuran selanjutnya.

Aek Sipitu Dai memiliki 7 pancuran dan memiliki nama-nama tersendiri dan manfaat yang berbeda-beda.

Pancuran pertama dinamai Pancuran Poso-poso yang berarti Pancuran untuk bayi.

Apabila ada bayi yang kurang sehat, biasanya setelah dimandikan di Pancuran Poso-poso alhasil bayi dimaksud memperoleh kesembuhan. 

Lalu, Pancuran Na Sohaguguan dialamatkan kepada anak gadis yang belum bertemu jodohnya.

Pemandu dan Orang tua akan menganjurkan anak gadisnya mandi supaya segera menemukan jodohnya.

Pancuran ketiga, Pancuran Sait Ladang. Pancuran ini berarti untuk keluarga yang sudah berumah tangga, namun belum direstui keturunan. 

Kemudian, pancuran keempat dinamai Sibaso Bolon dalam pelengertian Batak sendiri, adalah perempuan ahli kesehatan khususnya dalam membantu persalinan ibu hamil atau sering disebut bidan atau perawat.

Selanjutnya melangkah ke Pancuran kelima atau Passur Pangulu Raja yang ruangannya tersendiri.

Pancuran kelima ini letaknya lebih rendah dibanding pancuran lainnya, yang berarti seorang raja harus bisa mengayomi masyarakatnya. 

"Harus rendah hati, tidak bisa semena-mena walau pun dia seorang raja," ucapnya.

Baca Juga: Dukung Percepatan Ekonomi, Bupati Samosir, Dewan Ekonomi Nasional dan PT. JCO Tinjau Lahan Investasi Kawasan Pertanian Terpadu

Pancuran kelima ini dulunya digunakan para Raja-raja Bius untuk mandi. Orang yang datang ke Pancuran kelima ini bertujuan mengambil jabatan, naik pangkat dan dimudahkan rezekinya. 

Tempat ini dibuat tersendiri, karena bagi seorang raja itu tentu membutuhkan konsentrasi dalam semedinya. 

Selanjutnya Pancuran keenam yang berada di setelahnya dan khusus untuk Guru Tata Bulan (Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan juga Silau Raja).

Passur Guru Tatea Bulan yang disebut Passur Doli ini dikhususkan untuk keturunan Guru Tatea Bulan.

Marga-marga Batak keturunan Guru Tatea Bulan yang datang di sini meminta perolehan kesehatan dan rezeki serta diberkati di perantauan. 

Sedangkan pancuran ketujuh khusus untuk kelompok marga menantu yang terlahir dari kelompok marga Sumba. Demikian juga dengan Pasur Hela, untuk memehon banyak rezeki.

Pasogit mengatakan bahwa Aek Sipitu Dai dikunjungi dari berbagai kalangan bahkan mancanegara.

"Aek Sipitu Dai memiliki keistimewaan tersendiri sehingga tidak hanya orang batak yang datang tetapi semua kalangan bahkan turis-turis mancanegara," pungkasnya.

Pasogit melanjutkan, bahwa Aek Sipitu Dai didatangi bukan sekedar berwisata melainkan berziarah dan memberishkan diri.

"Pengunjung yang berdatangan biasanya untuk berwisata dan ziarah rohani serta membersihkan diri memohon berkat leluhur untuk menyampaikan doa-doa dan harapan melalui Aek Sipitu Dai kepada sang Pencipta," ujarnya.

Ia juga menganjurkan penulis untuk berdoa di Pancuran kedua karena masih gadis.

"Kamu masih lajang dan gadis yang sudah dewasa, saja anjurkan untuk kamu pancuran kedua agar jodoh mu di pertemukan, jiwa sudah memilik kekasih doakan kekasihmu pasti nanti akan ada petunjuk dan dipermudah apakah dia jodohmu. Ada baiknya ajak lah dia kemari untuk berwisata atau berliburan sekaligus berziarah ke Bonapasogit nantinya akan terlihat dia jodohmu atau tidak," tambahnya.

Seusai pengarahan dari Pasogit, penulis merasakan Aek Sipitu Dai mulai pancuran pertama hingga ke tujuh. Untuk rasa setiap pancuran hampir mirip seperti asam jeruk purut yang sangat segar namun di pancuran ke lima seperti air yang sangat jernih tanpa ada rasa jeruk purut.

Tidak heran, banyak pengunjung berdatangan sekalian mengisi deregen untuk menampung Aek Sipitu Dai yg nantinya digunakan sebagai obat, pengambilan air harus dari pancuran pertama hingga ke tujuh.

Masyarakat setempat percaya bahwa Aek Sipitu Dai air yang sakral mujarap untuk segala penyakit dan dipercaya Aek Sipitu Dai mampu mengabulkan permohonan yang datang kesana.

(JAS/Nusantaraterkini.co)