Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Takut Gunakan Jembatan Gantung, Warga di 2 Desa Lebih Pilih Perahu Penyebrangan

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Muhammad Alfi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.co, ACEH TAMIANG - Bencana banjir bandang atau hidrometrologi yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025 lalu, tidak hanya menghancurkan sejumlah pemukiman warga, melainkan juga turut menghancurkan sejumlah fasilitas umum yang ada.

Salah satu fasilitas umum yang hancur akibat tersapu banjir ialah jembatan penghubung antar dua Kecamatan yang membentang di sungai tamiang dan terletak di antara Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak dan Desa Aras Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka.

Baca Juga : Kasum TNI Tegaskan Peran Berkelanjutan TNI dalam Penanganan Bencana Sumatra

Jembatan rangka baja yang tadinya menjadi titik tumpuan bagi warga dalam melakukan mobilitas yang ada di dua kecamatan tersebut, kini telah lenyap akibat runtuh tersapu air banjir yang membawa ribuan batang kayu gelondongan itu.

Baca Juga : Ditengah Bencana, Warga Aceh Tamiang Tetap Antusias Berburu Daging Kebutuhan Meugang

Untuk memulihkan mobilitas warga khususnya dalam hal perekonomian pasca bencana di dua Kecamatan tersebut, pemerintah melalui Kementerian PUPR dan TNI pun bergegas membangun jembatan perintis yang membentang aliran sungai.

Jembatan perintis berupa jembatan gantung yang dibangun menggunakan tali sling atau tali baja dan papan yang diambil dari kayu gelondongan sisa banjir ini, selesai di bangun dalam waktu kurang dari satu bulan lamanya.

Baca Juga : Stok Beras di Gudang Bulog Sumsel Babel Melimpah, DPR RI Minta Stok Lama Disalurkan

Dengan lebar satu meter dan panjang lebih dari seratus meter yang membentang aliran sungai, jembatan gantung yang hanya dapat dilintasi oleh kendaraan jenis sepeda motor ini pun akhirnya dapat digunakan oleh warga sekitar sejak sepekan terakhir.

Baca Juga : DPR Pastikan Mie Sedaap Setop PHK, RUU PPRT hingga Perampasan Aset Masih Tahap Awal

Namun ironisnya, meskipun jembatan gantung ini telah selesai dibangun, banyak warga yang enggak menggunakannya dan lebih memilih menyebrang sungai dengan menggunakan perahu warga yang berada persis dibawah jembatan.

Bukan karena jembatan yang baru selesai dibangun tidak layak digunakan, tetapi banyak warga yang takut dengan kuatnya guncangan saat melintas di atas jembatan gantung yang hanya mengandalkan dua tali sling sebagai tumpuan tersebut.

Selain itu, banyaknya antrian kendaraan yang ingin menyebrang menggunakan jembatan juga menjadi faktor warga lebih memilih menyebrang menggunakan prahu meskipun harus membayar sepuluh ribu rupiah untuk sekali menyebrang sungai.

Muhammad Nasir, salah seorang warga mengungkapkan, jika dirinya lebih memilih menyebrang sungai dengan menggunakan perahu lantaran enggan mengantri untuk bisa menyebrang menggunakan jembatan gantung yang baru saja selesai di bangun.

Selain itu, dirinya juga khawatir dengan keselamatannya saat menggunakan jembatan gantung yang dianggap terlalu kuat guncangannya saat dilintasi sepeda motor yang ia kendarai.

"Alasannya memilih nyebrang dengan perahu karna satu malas ngantri, dan yang kedua juga jembatan itu kan kalau dilintasi kereta guncangannya kuat kali. Jadi, saya gak berani juga untuk melintas di jembatan gantung itu," ungkapnya, Selasa (24/2/2026) siang.

Sementara itu, salah seorang warga lainnya bernama Deni, yang juga merupakan pengendara yang tengah mengantri untuk melintas di atas jembatan gantung mengataka jika dirinya telah beberapa kali menyebrang sungai dengan jembatan tersebut.

Menurutnya, meskipun jembatan tersebut dianggap kurang aman namun warga tetap harus menggunakan jembatan gantung tersebut untuk dapat melakukan mobilitas.

"Sudah beberapa kali lah melintas. Memang goyang kali saat dilintasi jembatan itu, tapi ya mau gimana lagi memang cuma ini sekarang yang ada dan bisa dimanfaatkan warga untuk mobilitas," ujarnya.

Sementara, untuk kendaraan mobil maupun truk, warga yang ingin melakukan mobilitas menuju pusat kota Kabupaten Aceh Tamiang sendiri, terpaksa masih harus memutar melalui jalan lain yang memakan waktu hampir dua jam lamanya.

(Cw4/Nusantaraterkini.co)