Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Serangan Israel Kembali Meneror, Warga Gaza Rayakan Idul Fitri dengan Suram

Jalan-jalan yang dulunya ramai, menghiasi berbagai dekorasi dan dipenuhi gelak tawa anak-anak, kini disesaki puing-puing bangunan

Warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari wilayah Al-Shayma di Beit Lahia, Jalur Gaza utara, terlihat di sebuah jalan di Kota Gaza pada 22 Maret 2025. (Foto: Xinhua/Abdul Rahman Salama)
Warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari wilayah Al-Shayma di Beit Lahia, Jalur Gaza utara, terlihat di sebuah jalan di Kota Gaza pada 22 Maret 2025. (Foto: Xinhua/Abdul Rahman Salama)
A A

, - Selama dua tahun berturut-turut, keriaan suasana tak terlihat di Gaza. Ribuan keluarga masih mengungsi di tenda-tenda darurat, khawatir karena kehilangan rumah dan orang-orang yang mereka cintai.

Jalan-jalan yang dulunya ramai, menghiasi berbagai dekorasi dan dipenuhi gelak tawa anak-anak, kini disesaki puing-puing bangunan yang menjadi pengingat bisu akan kehancuran akibat pengeboman yang tiada henti. 

Menurut kalender Islam, umat Muslim di seluruh dunia akan merayakan hari pertama pada Minggu (30/3/2025) atau Senin (31/3/2025), tergantung pada penampakan bulan baru. Namun, di , tidak banyak yang bisa dirayakan.

Di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, Suad Abu Shahla (29) duduk di luar sebuah tenda kain yang telah koyak, mencoba menenangkan anaknya yang menangis. Ibu empat anak itu kehilangan rumahnya di Beit Lahia pada November 2024 ketika pasukan mengebom daerah tersebut.

Baca Juga: Jubir Hamas Abdul Latif al-Qanou Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza Utara

Sejak saat itu, Suad dan keluarganya harus menghadapi kondisi keras di tempat penampungan yang rapuh, yang hanya memberikan perlindungan minimal dari cuaca dingin atau panas. 

“Idul Fitri telah kehilangan maknanya di Gaza,” tutur wanita itu kepada Xinhua. "Sebelum perang, kami biasa membeli pakaian dan penganan manis untuk anak-anak. Sekarang, kami bahkan tidak mampu membeli roti."

“Anak-anak saya bertanya, 'Apakah kita akan mendapatkan baju baru? Apakah kita akan pulang ke rumah?' Namun, saya tidak dapat menjawabnya,” imbuh Suad.

Di seluruh Kota Gaza, bekas perang terlihat di mana-mana. Bangunan-bangunan yang runtuh, jalan-jalan yang terpenuhi puing, dan infrastruktur yang rusak menggambarkan dampak dari konflik tersebut.

Di kawasan organisasi al-Rimal, yang dulunya merupakan salah satu wilayah termewah di Kota Gaza, sebagian besar bangunan rata dengan tanah atau rusak parah. Mobil-mobil yang terbakar dan tiang-tiang listrik yang tumbang terlihat di jalanan yang sepi.

"Tahun lalu, meski ada perang, kami coba menciptakan suasana gembira. Kini, saya bahkan tidak mampu membeli penganan manis untuk anak-anak saya," kata Marwan Al-Haddad (37), yang mengungsi dari Beit Hanoun setelah eskalasi serangan Israel pekan lalu.

Baca Juga: Prancis Tentang Rencana Aneksasi Gaza dan Tepi Barat oleh Israel

"Bagaimana saya bisa memberi tahu anak-anak saya bahwa perang akan segera berakhir?" imbuh pria itu. “Setiap kali kami terbangun karena suara lahir, kami menyadari bahwa perdamaian masih sangat jauh.”

Situasi yang sama buruknya juga dihadapi oleh para pemilik bisnis. Di Jalan Wehda, sebuah kawasan di Kota Gaza yang sebelum perang merupakan pusat komersial yang ramai, sebagian besar toko masih tutup atau rusak. Ibrahim Siam, seorang pemilik toko penganan manis, menyesalkan bisnisnya harus menggulung tikar akibat perang.

Dulu, saya bisa menjual puluhan kilogram penganan manis saat Idul Fitri, kata Siam kepada Xinhua. “Sekarang, orang-orang hampir tidak bisa mendapatkan roti.”

Penderitaan kian parah sejak Israel melanjutkan operasi militer pada 18 Maret, setelah suasana relatif tenang selama hampir dua bulan. Beberapa keluarga sudah mulai kembali ke rumah mereka di Gaza utara, tetapi kini terpaksa mengungsi lagi.

Di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza bagian utara, aktivitas pasar tetap stagnan. Abdul Rahman al-Zein, seorang pemilik toko pakaian, mengatakan bahwa hanya sedikit orang yang mampu membeli pakaian untuk Idul Fitri. "Orang-orang fokus pada bertahan hidup."

Di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Fatima Qudeih (32) tinggal di sebuah tenda bersama ketiga anaknya sejak kehilangan rumah mereka akibat serangan udara Israel di Jabalia.

“Anak-anak saya bertanya mengapa kami tidak membeli baju baru atau pergi ke pasar seperti dulu,” kata Qudeih kepada Xinhua. "Saya mengatakan kepada mereka bahwa kami akan membekukan setelah perang berakhir, tetapi mereka sudah mulai kehilangan kepercayaan pada kata-kata saya."

Rangkaian terbaru dari serangan udara Israel telah menyebabkan sedikitnya 921 orang dan melukai 2.054 lainnya, demikian menurut otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Sabtu (29/3/2025).

Reham Odeh, seorang pakar politik yang berbasis di Jalur Gaza, mengatakan bahwa dampak konflik terhadap masyarakat Gaza sangat besar.

“Perang tidak hanya menghancurkan rumah-rumah, tetapi juga menghancurkan moral masyarakat Gaza,” tutur Odeh. Meskipun konflik berakhir hari ini, dampaknya akan bertahan selama puluhan tahun, imbuhnya.

“Ribuan keluarga kehilangan pencari nafkah, dan infrastruktur perlu dibangun kembali dari awal,” ujarnya.

(Zie/)

Sumber: Xinhua 

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru