Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rusia dan Iran Unjuk Kekuatan di Teluk Oman saat Meningkatnya Spekulasi Serangan Militer AS

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Foto yang diabadikan pada 4 Februari 2026 ini menunjukkan pemandangan jalan di Teheran, Iran. (Foto: Xinhua)

Nusantaraterkini.co, KAIRO - Angkatan laut (AL) Iran dan Rusia menggelar latihan gabungan pada Kamis (19/2/2026) di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara, di tengah meningkatnya spekulasi mengenai kemungkinan serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Tim operasi khusus dari militer Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (Iran's Islamic Revolution Guards Corps/IRGC), dan Rusia melaksanakan operasi pembebasan kapal yang dibajak dalam latihan tersebut, menurut laporan di situs web militer Iran.

Baca Juga : Kim Jong Un Janji Dukung Tanpa Syarat Semua Kebijakan Vladimir Putin dan Rusia

Laporan tersebut mengatakan latihan melibatkan berbagai alutsista, di antaranya kapal perusak Alvand milik Iran, kapal perang peluncur rudal, helikopter, kapal pendarat, tim operasi khusus, dan speedboat tempur, papar laporan tersebut.

Baca Juga : Operasi Inggris Bongkar Jaringan Pencucian Uang Miliaran Dolar untuk Pembiayaan Perang Rusia

Latihan itu digelar menyusul latihan militer IRGC di Selat Hormuz sebelumnya pada pekan ini, yang melibatkan penutupan sementara jalur perairan strategis tersebut.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Kamis yang sama mengatakan Iran memiliki waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya, seraya memperingatkan bahwa jika tidak, maka "hal-hal yang sangat buruk" akan terjadi.

Baca Juga : Iran Tetapkan Militer Uni Eropa Teroris Usai Pernyataan Kontroversial Dubes AS

"Saya kira itu waktu yang cukup," ujar Trump kepada awak media di pesawat Air Force One.

Baca Juga : Menlu Iran Sebut Eropa Tak Lagi Relevan dalam Perundingan Nuklir, Pilih Mitra Asia

Pekan lalu, Trump memerintahkan pengerahan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, ke Timur Tengah, untuk memperkuat USS Abraham Lincoln dan pengawalnya kapal-kapal perusak rudal berpemandu yang sudah berada di kawasan tersebut.

Setelah penguatan besar-besaran armada udara dan laut AS di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir, militer AS siap melancarkan serangan terhadap Iran "paling cepat akhir pekan ini," seperti dilansir CNN pada Rabu (18/2/2026), mengutip sumber-sumber yang mengetahui hal tersebut.

Baca Juga : Komitmen Pemprov Sumut Perkuat Fasilitas Militer: Gubernur Bobby Nasution Dorong Modernisasi Markas Kodam I/BB

Axios, outlet berita AS lainnya, pada Selasa (17/2/2026) melaporkan seorang penasihat Trump memperkirakan "peluang 90 persen" bahwa serangan akan terjadi dalam beberapa pekan ke depan jika negosiasi nuklir dengan Iran gagal.

Baca Juga : IMP Sumut: Militer di Papua Perparah Krisis Kemanusiaan dan Lingkungan

Setiap operasi AS kemungkinan melibatkan operasi berskala besar selama beberapa pekan, yang berpotensi dilakukan bersama Israel, dengan menargetkan program-program nuklir dan rudal Iran, serta menimbulkan ancaman serius bagi kepemimpinan Teheran, tutur laporan Axios.

Pada Kamis malam, The Wall Street Journal (WSJ), mengutip sumber-sumber yang memahami masalah tersebut, melaporkan Trump sedang mempertimbangkan "serangan militer awal yang terbatas" terhadap Iran untuk mendesak negara itu memenuhi tuntutannya terkait kesepakatan nuklir.

"Serangan pembuka tersebut, yang jika disetujui dapat dilancarkan dalam hitungan hari, akan menargetkan sejumlah situs militer atau pemerintah," lapor WSJ, seraya menambahkan bahwa jika Iran "tetap menolak mematuhi instruksi Trump untuk menghentikan program pengayaan nuklirnya," Washington akan merespons "dengan operasi militer besar-besaran terhadap fasilitas-fasilitas rezim itu."

Iran dan AS menyelesaikan putaran kedua perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa pada Selasa lalu. Pihak Iran menggambarkan perundingan tersebut sebagai lebih "konstruktif" dibandingkan putaran pertama, sementara para pejabat AS mengakui adanya kemajuan tetapi menyatakan "masih banyak rincian yang perlu dibahas".

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Rabu menolak untuk menetapkan tenggat waktu bagi perundingan lanjutan, dengan menyatakan meskipun "ada banyak alasan dan argumen untuk melakukan serangan terhadap Iran," jalur diplomasi tetap menjadi "opsi pertama" Trump.

Mengingat situasi yang kian tegang, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk pada Rabu mendesak warga Polandia yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut dan mengimbau agar tidak melakukan perjalanan ke sana.

Tusk mengatakan dirinya tidak bermaksud memicu kepanikan, tetapi memperingatkan risiko terjadinya "konflik kekerasan" masih sangat besar.

(*/Nusantaraterkini.co) 

Sumber: Xinhua