Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, BI Perkuat Strategi Stabilkan Nilai Tukar

Rupiah kembali melemah ke Rp18.100 per dolar AS. BI memperkuat intervensi pasar valas dan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Rabu (29/7/2026) pagi, rupiah tercatat menembus level Rp18.100 per .

Mengutip data Bloomberg, pada pukul 10.05 WIB berada di posisi Rp18.100 per . Mata uang Garuda melemah 17 poin atau sekitar 0,09 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah ke kisaran Rp18 ribuan terjadi di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap kondisi perekonomian global serta perubahan kepemimpinan di (), setelah Perry Warjiyo mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada Senin lalu.

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar, BI memastikan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi sekaligus menjaga momentum pertumbuhan .

Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas , Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan salah satu fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).

Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, BI akan mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter dan intervensi di . Salah satu strategi yang digunakan adalah melalui pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain intervensi di pasar valas, BI juga akan mengoptimalkan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (). Kebijakan tersebut turut diperkuat dengan fasilitas insentif swap dan DNDF hedging.

Erwin menjelaskan, kombinasi berbagai instrumen tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menciptakan kondisi yang mendukung masuknya aliran modal asing ke domestik.

"Berbagai instrumen, termasuk di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing," katanya.

Selain menjaga stabilitas rupiah, BI juga akan memperkuat strategi pengelolaan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Pengelolaan SRBI akan terus disesuaikan dengan kebutuhan likuiditas pasar agar kebijakan moneter tetap efektif.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas pasar keuangan, kecukupan likuiditas perbankan, serta daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing.

Tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian karena pergerakan nilai tukar memiliki dampak luas terhadap perekonomian. Pelemahan rupiah dapat memengaruhi biaya impor, tekanan inflasi, hingga kondisi pasar keuangan dalam negeri.

Dengan kondisi ketidakpastian global yang masih berlangsung, kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting yang akan terus dicermati pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan rupiah ke depan.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait