Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.682 per Dolar AS

Rupiah dibuka melemah ke Rp16.682 per dolar AS di tengah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, dan kenaikan cadangan devisa

Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – kembali dibuka tertekan pada awal perdagangan Senin (8/12/2025). Mengacu data Bloomberg pukul 09.23 WIB, merosot 0,20% atau 34 poin ke level Rp16.682 per .

Di saat bersamaan, AS justru melemah tipis 0,11% ke posisi 98,88. Adapun pergerakan kawasan Asia tercatat bervariasi. Baht Thailand menguat 0,04%, ringgit Malaysia naik 0,07%, dan won Korea Selatan menguat 0,26%. Sebaliknya, rupe India dan peso Filipina masing-masing terkoreksi 0,02%.

Sebelumnya, analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak lemah dan ditutup di kisaran Rp16.640–Rp16.680 per AS. Pada perdagangan akhir pekan lalu (5/12/2025), rupiah sempat ditutup menguat tipis 5 poin di level Rp16.648 per dolar AS.

Sentimen Global Masih Menghantui

Ibrahim menjelaskan, fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada prospek kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Ekspektasi pasar mengarah pada kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada Desember 2025, seiring tanda-tanda pelemahan ekonomi AS.

“Investor mulai melihat peluang pelonggaran kebijakan moneter . Data tenaga kerja AS yang menunjukkan klaim pengangguran mingguan turun ke 191.000—terendah sejak September 2022—memperkuat pandangan tersebut, meski ada potensi distorsi karena musim liburan,” ujar Ibrahim.

Selain itu, ketegangan geopolitik masih menjadi faktor eksternal yang membayangi pasar global. Perundingan AS–Rusia pekan lalu gagal membawa kemajuan menuju gencatan senjata di Ukraina, sehingga kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan dan harga minyak dunia.

Cadangan Devisa Naik, BI Jaga Stabilitas Rupiah

Dari dalam negeri, terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar. BI melaporkan pada akhir November 2025 mencapai US$150,1 miliar, meningkat dari US$149,9 miliar pada Oktober 2025.

Peningkatan cadangan devisa terutama berasal dari penerimaan pajak serta jasa, termasuk penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Kenaikan cadangan devisa ini terjadi di tengah upaya BI menstabilkan rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Kondisi tersebut dinilai cukup kuat untuk menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas makroekonomi Indonesia,” tambah Ibrahim.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru