Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Produk Made in China Pikat Hati Konsumen di Seluruh Dunia dengan Citra Baru

Generasi baru mainan desainer koleksi seperti Labubu mengubah wajah industri ini dengan mengekspor tidak hanya produk, tetapi juga cerita dan nilai

Mainan bertema Labubu, boneka berbulu yang populer dari perusahaan mainan China Pop Mart, terlihat dalam upacara pembukaan toko offline baru Pop Mart di Bangkok, Thailand, pada 5 Juli 2024. (Foto: Xinhua/Sun Weitong)
Mainan bertema Labubu, boneka berbulu yang populer dari perusahaan mainan China Pop Mart, terlihat dalam upacara pembukaan toko offline baru Pop Mart di Bangkok, Thailand, pada 5 Juli 2024. (Foto: Xinhua/Sun Weitong)
A A

, BEIJING - , sebuah karakter yang diterbitkan dengan gigi mencolok dari jenama , kini menjadi fenomena global.

Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan-perusahaan negara tersebut membentuk kembali citra internasional mereka melalui inovasi, narasi budaya, dan globalisasi kekayaan intelektual (IP) dalam negeri.

telah lama menjadi produsen dan pengekspor terbesar di dunia. Secara historis, sebagian besar output ini terdiri dari barang-barang berbiaya rendah yang dibuat untuk merek-merek tunggal.

Namun kini, generasi baru mainan desainer koleksi seperti mengubah wajah industri ini dengan mengekspor tidak hanya produk, tetapi juga cerita dan nilai emosional.

BACA JUGA: Puluhan Bus Listrik asal China Bakal Mengaspal di Jakarta

, produsen mainan asal Beijing di balik Labubu dan karakter IP asli lainnya, termasuk salah satu perusahaan yang memimpin perubahan ini.

Didukung oleh antusiasme internasional, perusahaan ini mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 165 hingga 170 persen dalam basis tahunan (year on year /yoy) pada kuartal pertama (Q1) 2025, dengan pendapatan luar negeri melonjak 475 hingga 480 persen (yoy).

Pop Mart bukan satu-satunya yang meningkatkan upaya pembangunan merek di pasar mainan global. Produsen mainan China, TOP TOY, kini mengoperasikan lebih dari 280 toko di seluruh dunia, dan 52TOYS melaporkan peningkatan bisnis sebesar 300 persen di Thailand pada tahun 2024.

Popularitas viral Labubu dan mainan serupa menyoroti industri budaya China yang sedang berkembang pesat, yang muncul sebagai ciri khas ekspor China.

Industri budaya China mencatat pertumbuhan yang stabil pada tahun 2024, dengan 78.000 perusahaan yang disurvei menghasilkan pendapatan sebesar 14,15 triliun yuan (1 yuan = Rp2.260) atau sekitar 1,97 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp16.237), naik 6 persen (yoy). Perusahaan-perusahaan ini melaporkan laba gabungan sebesar 1,29 triliun yuan, meningkat 10,8 persen dibandingkan tahun 2023.

Industri gim juga menjadi contoh mencolok bagaimana budaya Tiongkok merambah konsumen global. "Black Myth: Wukong," gim video 3A dengan grafis mutakhir, menarik perhatian banyak penggemar internasional, dengan cuplikan pemainnya berasal dari luar Tiongkok. Sementara itu, gim populer seperti "Genshin Impact" dan "Honkai: Star Rail" terus masuk dalam daftar unduhan teratas di lebih dari 100 negara dan kawasan.

Data dari Asosiasi Penerbit Audio-Video dan Digital China (China Audio-video and Digital Publishing Association/CADPA) menunjukkan bahwa produk gim buatan China menghasilkan pendapatan luar negeri sebesar 18,56 miliar dolar AS pada tahun 2024, tumbuh 13,39 persen dari tahun sebelumnya. 

BACA JUGA: Pemuda Indonesia Harry Kurniawan Kagumi Teknik Pembuatan Batik di China

Jaringan pabrik China yang luas, mencakup setiap kategori industri yang diklasifikasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), masih menjadi tulang punggung kebangkitan budaya ini. Bagi Pop Mart, keunggulan manufaktur adalah bagian penting dalam mewujudkan visi kreatif menjadi kenyataan. Pengalaman bertahun-tahun memungkinkan pabrik-pabrik di China memenuhi bahkan standar desain yang paling rinci, seperti menciptakan komponen khusus hanya untuk membuat mata boneka terlihat lebih mengilap dan ekspresif.

"Jika Anda bisa membuat mainan untuk Pop Mart, Anda bisa membuat mainan desainer apa pun di dunia," kata pemilik sebuah pabrik yang bekerja sama dengan Pop Mart. 

Transisi dari mengekspor produk menjadi mengekspor merek dan IP adalah hasil alami dari evolusi ekonomi Tiongkok, kata Lan Qingxin, seorang profesor di University of International Business and Economics.

“Ini menunjukkan peningkatan struktur industri China dan semakin matangnya perusahaan-perusahaan China dalam operasi internasional mereka,” imbuh Lan.

(Zie/)

Sumber: Xinhua 

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait