Penyebab Banjir Bandang di Pesisir Selatan Beserta Dampaknya
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Banjir bandang merupakan bencana alam yang sering kali menghantam daerah pesisir selatan, menyebabkan kerusakan yang besar dan merugikan banyak orang.
Untuk memahami fenomena ini, nusantaraterkini.co mencoba telusuri beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait dengan banjir bandang.
Baca Juga : Takut Melintas, Warga 2 Desa Aceh Tamiang Pilih Perahu Ketimbang Jembatan Gantung
1. Apa Penyebab Utama Terjadinya Banjir Bandang
Penyebab utama terjadinya banjir bandang adalah hujan lebat yang berkepanjangan atau curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat.
Hal ini dapat menyebabkan sungai-sungai yang berada di daerah pegunungan meluap, membanjiri daerah dataran rendah di sekitarnya.
Baca Juga : Pastikan Siswa Masuk Sekolah, TNI Gercep Bersihkan Lumpur Susulan di SDN Lopian 2 Tapteng
2. Apa yang Melatarbelakangi Terjadinya Banjir
Beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya banjir bandang meliputi topografi daerah, pola hujan ekstrem, penggunaan lahan yang tidak tepat, serta keberadaan bendungan atau waduk yang mungkin tidak mampu menampung volume air yang besar.
3. Apa Bedanya Banjir dengan Banjir Bandang
Baca Juga : Pilih Bertahan di Eropa, Ole Romeny Tolak Tawaran Gabung Persib Bandung
Perbedaan utama antara banjir dan banjir bandang terletak pada sumber air yang menyebabkannya dan kecepatan aliran air.
Banjir umumnya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi secara umum, sementara banjir bandang biasanya disebabkan oleh hujan lebat dalam waktu singkat atau pelepasan tiba-tiba dari waduk atau bendungan.
4. Apa yang Menyebabkan Terjadinya Bencana Banjir
Baca Juga : Kalahkan Wolves 2-1, Mikel Arteta Akui Arsenal Sempat Tampil Mengecewakan di Babak Pertama
Bencana banjir bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor alam seperti cuaca ekstrem dan topografi, serta faktor manusia seperti perubahan iklim, deforestasi, pembangunan di daerah rawan banjir, dan manajemen air yang buruk.
Banjir bandang adalah ancaman serius bagi kehidupan dan properti di daerah pesisir selatan.
Dalam menghadapi ancaman ini, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan upaya mitigasi bencana, termasuk sistem peringatan dini, pembangunan tanggul yang kuat, serta penataan ruang yang lebih bijaksana.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dampak dari banjir bandang dapat diminimalkan, dan masyarakat dapat lebih siap menghadapi bencana alam yang tak terduga.
Banjir dan Longsor di Kabupaten Pesisir Selatan, 10 Warga Ditemukan Meninggal
Sebanyak 10 orang warga ditemukan meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat, Sabtu (9/3/2024).
Baca Juga : Pria Bersimbah Darah di Pemakaman Kristen Patumbak, Diduga Korban Penganiayaan
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pesisir Selatan Doni Yusrizal mengatakan, 10 korban tersebut ditemukan dari 3 titik yang berbeda.
“Terkait korban jiwa pagi ini, cukup banyak penambahannya. Yang meninggal dunia dan berhasil ditemukan sudah ada 10 orang. Dua korban di temukan Nagari Langgai, Kecamatan Sutera, 7 korban berhasil ditemukan dan teridentifikasi di Kecamatan Koto XI Tarusan dan 1 korban lainnya ditemukan di Kecamatan Lengayang,” jelasnya lewat keterangan tertulis BNPB.
Sementara itu, korban yang masih dinyatakan hilang hingga pagi ini juga mengalami penambahan. Sebanyak 8 orang dinyatakan hilang yang berada di Kecamatan Koto XI Tarusan, dan 2 lainnya berada di Kecamatan Sutera dan Kecamatan Lengayang.
Doni mengatakan, hingga hari ini tim gabungan masih melakukan proses pencarian dan evakuasi korban. Namun, cuaca yang masih turun hujan menjadi salah satu kendala dari tim gabungan.
Sementara itu, warga yang harus mengungsi akibat kejadian banjir dan longsor ini mencapai 46.000 jiwa. Pos pengungsian tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan.
Pemenuhan logistik bagi warga terdampak dan mengungsi juga dilakukan BPBD berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat.
“Cuaca hingga pagi ini masih hujan, kemudian masih ada beberapa akses yang memang terputus sehingga sulit untuk dilewati. Namun kita terus berusaha membuka akses untuk warga yang masih terisolir dengan menggunakan perahu,” jelasnya.
Kendala lainnya, air bersih masih sulit untuk diakses hingga saat ini. Listrik terputus dan internet juga masih terkendala.
Sementara itu, untuk kerugian materil tercatat 14 rumah di Kecamatan Koto XI Terusan tertimbun longsor, 20.004 rumah terendam banjir, and 8 unit jembatan terputus.
Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir Selatan sementara telah mendirikan posko penanganan yang saat ini terpusat di Kantor BPBD Kabupaten Pesisir Selatan. Seluruh bantuan logistik baik permakanan maupun kebutuhan lainnya akan disalurkan melalui posko tersebut.
Hingga pagi ini, banjir masih menggenangi hampir di seluruh kecamatan, meskipun ketinggian air tercatat relatif sudah mulai menurun. Adapun wilayah terdampak berada di Kecamatan XI Koto Terusan, Kecamatan IV Jurai, Kecamatan Batang Kapas, Kecamatan Bayang, Kecamatan Sutera, Kecamatan Lengayang.
Kecamatan Ranah Pesisir, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan, Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, Kecamatan Lunang, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kecamatan Pancung Soal, Kecamatan Air Pura, Kecamatan Silaut. Wilayah terdampak terparah berada di Kecamatan Koto XI Tarusan.
(Akb/nusantaraterkini.co)
