Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Pengamat: Beban Masyarakat Bertambah jika Pertalite Diganti Bioetanol

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Murtiadi Awaluddin. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Murtiadi Awaluddin menyebutkan kebijakan terkait rencana penggantian BBM Pertalite dengan BBM Bioetanol memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara cermat, khususnya bagi sektor perekonomian.

Dia menjelaskan, satu sisi kebijakan ini dapat mengurangi subsidi besar yang selama ini diberikan kepada BBM Pertalite.

Baca Juga : Polrestabes Medan Ungkap Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, 10 Pelaku Ditangkap

Tentunya, hal ini akan mengurangi beban negara terhadap subsidi dan dana subsidi yang terkumpul dapat dialihkan ke sektor lain yang lebih mengenai langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga : BBM di Padangsidimpuan Kembali Langka, Warga Berharap Agar Cepat Normal Lagi

“Selain itu, BBM Bioetanol memiliki keunggulan dibanding Pertalite dalam hal nilai RON 95 yang menghasilkan pencemaran udara yang lebih rendah. Penggunaan bahan baku dari sumber alami juga dapat menciptakan lapangan kerja baru, sehingga dapat mengurangi pengangguran,” katanya, Kamis (9/5/2024).

Namun, lanjut Murtiadi, kebijakan ini memiliki kekurangan, mengingat harga BBM Bioetanol diperkirakan akan lebih tinggi daripada Pertalite, bahkan setara dengan harga Pertamax saat ini.

Baca Juga : Polrestabes Medan Ungkap Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Libatkan Petugas SPBU, Berikut Lokasinya

Hal ini tentunya akan memberikan beban tambahan bagi masyarakat, terutama pada penyedia jasa transportasi dan masyarakat umum yang biasanya menggunakan Pertalite dengan harga yang lebih rendah.

Baca Juga : Polisi Bongkar Modus Mafia BBM di Medan dan Deliserdang: Pakai Tangki Modifikasi, Untung hingga Rp5 Juta Sehari

“Apalagi bagi sektor transportasi, tentu penyesuaian harga transportasi akan berdampak pada kenaikan harga pada semua jenis produk, sehingga masyarakat berpendapatan rendah turut terdampak,” lanjutnya.

Murtiadi menyarankan agar pemerintah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengurangi dampak negatif dari konversi ini.

Baca Juga : DPR Dukung Bersyarat Rencana PLTN, Ratna Juwita: Jangan Gegabah dan Abaikan Energi Terbarukan Lain

Salah satunya dengan menetapkan harga BBM baru minimal sama dengan Pertalite untuk sementara waktu, serta melakukan konversi secara bertahap dimulai dari daerah berpendapatan tinggi menuju daerah pelosok.

Baca Juga : Legislator: Perlu Ada Kajian Mendalam soal Wacana Perubahan Pertalite dengan Bioetanol

“Ketiga pemerintah harus memikirkan penyediaan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat yang terdampak langsung dari program konversi ini,” tutupnya.

(cw1/nusantaraterkini.co)