Nusantaraterkini.co, MEDAN - Penangkaran Buaya Asam Kumbang di Jalan Bunga Raya II No 8, Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, kembali menjadi sorotan sebagai destinasi wisata utama selama liburan Tahun Baru 2025.
Sebagai taman penangkaran reptil buaya terbesar di Indonesia dengan luas sekitar dua hektare, tempat ini menawarkan pengalaman unik dan mendebarkan bagi para pengunjung.
Setelah melalui proses renovasi besar-besaran oleh Pemerintah Kota (Pemko) Medan pada tahun 2024, taman ini kini tampil lebih segar, aman, dan menarik. Kawat pembatas yang sebelumnya dinilai kurang kokoh telah diganti dengan material yang lebih kuat, memberikan rasa aman bagi pengunjung.
Baca Juga : Warga Asam Kumbang Geger, Pencarian Remaja Hanyut di Sei Belawan Berakhir Duka
Tak hanya itu, penangkaran ini juga menambahkan berbagai fasilitas baru, seperti kandang hewan lain untuk kelinci, kura-kura, biawak, ular, dan monyet. Salah satu daya tarik utama adalah akuarium buaya yang memungkinkan pengunjung melihat lebih dekat reptil raksasa ini di dalam kandang.
Shefira (23), salah satu pengunjung, mengaku terkesan dengan perubahan besar yang dilakukan.
"Sudah lama saya tidak berkunjung ke sini. Renovasi yang dilakukan membuat saya penasaran ingin melihat langsung seperti apa penangkaran ini sekarang," ujarnya saat ditemui Nusantaraterkini.co, Sabtu (4/1/2025).
Baca Juga : Penangkaran Buaya Asam Kumbang, Destinasi Edukasi dan Rekreasi yang Semakin Diminati
Ia juga menyebutkan beberapa perubahan signifikan, seperti kandang yang lebih modern, taman kecil, dan fasilitas tempat duduk santai.
"Beda banget dibanding sebelumnya," tambahnya.
Namun, tarif masuk ke taman ini mengalami kenaikan. Dari yang sebelumnya Rp10.000, kini menjadi Rp20.000 per orang. Meski demikian, pengunjung tetap antusias menikmati fasilitas yang ada. Selain itu, terdapat biaya tambahan untuk interaksi langsung, seperti foto dengan buaya seharga Rp5.000 dan memberi makan buaya dengan tarif Rp25.000.
Jemari (55), salah satu pengurus taman, mengungkapkan bahwa jumlah buaya di lokasi ini sangat banyak hingga sulit dihitung secara pasti.
"Kalau buaya kecil ada sekitar 250-300 ekor, sedangkan jumlah keseluruhan bisa mencapai ratusan," ungkapnya.
Ia menambahkan, semua buaya yang ada di taman ini merupakan spesies buaya muara dengan rentang usia dari dua tahun hingga lebih dari 50 tahun. Salah satu kandang bahkan berisi buaya dengan usia campuran, mulai dari 10 hingga 19 tahun.
Soal pemberian pakan, Jemari menjelaskan bahwa frekuensi pemberian makanan tergantung pada jumlah pengunjung.
"Biasanya kami memberi makan saat ada pengunjung. Kalau tidak ada pengunjung, ya tidak diberi makan," jelasnya.
Selama libur Tahun Baru 2025, taman ini mencatat lonjakan pengunjung yang signifikan, mencapai ratusan orang per hari. Hal ini menunjukkan daya tarik penangkaran buaya sebagai salah satu destinasi favorit di Kota Medan.
Namun, di balik antusiasme para pengunjung, Jemari mengungkapkan tantangan yang ia hadapi sebagai penjaga taman selama hampir 35 tahun.
"Di saat orang lain liburan, saya harus tetap bekerja. Libur hanya bisa diambil kalau sangat diperlukan atau sedang sakit," katanya.
(cw9/nusantaraterkini.co)
