Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Pasar Properti Indonesia Lesu, Pertumbuhan Harga Capai Titik Terendah Sejak 2003 ​

Pertumbuhan harga properti Indonesia kuartal I-2026 hanya 0,62 persen, terendah sejak 2003 akibat lemahnya daya beli.

Ilustrasi property.(foto: istimewa)
Ilustrasi property.(foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.coJAKARTA – Sektor di Indonesia tengah menghadapi tantangan berat pada awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari , Senin (11/5/2026), indeks pada kuartal I-2026 tercatat hanya tumbuh sebesar 0,62 persen secara tahunan (year on year/yoy). 

Angka ini menandai laju pertumbuhan paling lambat dalam 23 tahun terakhir atau sejak pengumpulan data perdana dilakukan pada tahun 2003.

​Perlambatan ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan performa kuartal IV-2025 yang masih mampu tumbuh di angka 0,83 persen. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa industri real estat sedang tertekan oleh dinamika ekonomi makro yang kurang menguntungkan. 

Menurunnya daya beli masyarakat akibat gelombang pemutusan hubungan kerja () di berbagai sektor industri membuat calon konsumen kini jauh lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana untuk hunian.

​Tekanan pasar ini merata di hampir seluruh segmen hunian. Segmen mencatatkan kenaikan paling rendah, yakni hanya 0,50 persen. 

Sementara itu, yang selama ini menjadi tulang punggung pasar hanya tumbuh 0,88 persen, dan segmen tercatat tumbuh tipis 0,61 persen. Situasi ini diperparah dengan sikap perbankan yang semakin selektif dalam menyalurkan kredit guna memitigasi meningkatnya risiko konsumen.

Secara geografis, koreksi harga terjadi di mayoritas dari 18 kota besar yang dipantau. Banjarmasin tercatat sebagai wilayah dengan koreksi terdalam, disusul Surabaya yang mengalami kontraksi harga sebesar 0,27 persen. Pelemahan di kota-kota besar berbasis industri ini mengindikasikan dampak ekonomi yang mulai meluas ke sektor properti.

Meski demikian, situasi ini dinilai menciptakan momentum bagi investor atau pembeli yang memiliki likuiditas kuat. Dengan pertumbuhan harga yang berada di titik nadir, pasar kini mulai bergeser menjadi , di mana posisi tawar pembeli jauh lebih kuat dibandingkan pengembang.

Menghadapi tren ini, para pengembang diperkirakan akan mulai mengubah strategi dengan lebih fokus pada efisiensi biaya konstruksi dan penyediaan fasilitas esensial guna mempertahankan minat pasar.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait