Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Orang Tua Korban Keracunan Tuntut MBG di Karo Dihentikan, Ungkap Hasil Lab dan Kondisi Siswa

Orang tua korban keracunan MBG di Karo mendesak program dihentikan. Mereka juga menuntut kejelasan hasil lab, hukum, dan biaya pengobatan.

Situasi rapat dengar pendapat di DPRD Kabupaten Karo soal ratusan siswa keracunan usai santap MBG. (Foto: istimewa)
Situasi rapat dengar pendapat di DPRD Kabupaten Karo soal ratusan siswa keracunan usai santap MBG. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, — Orang tua siswa yang menjadi korban keracunan Makanan Bergizi Gratis () di , Kabupaten Karo, , mendesak pemerintah menghentikan sementara pelaksanaan program tersebut di wilayah Karo.

Desakan itu menjadi salah satu dari delapan tuntutan yang disampaikan orang tua korban dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPRD Kabupaten pada Senin (7/9/2026) kemarin.

Hampir satu bulan setelah ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan , para orang tua masih mempertanyakan penanganan kasus tersebut. Mereka meminta pemerintah memberikan kepastian terkait kondisi kesehatan anak, proses hukum, penyebab keracunan, hingga tanggung jawab pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program.

"Tutup saja MBG di Karo ini. Anak kami trauma. Kami mampu memberi makan anak kami sendiri," teriak salah seorang orang tua korban saat RDP.

Dalam tuntutan pertama, para orang tua meminta Badan Gizi Nasional () bersama Pemerintah Kabupaten Karo bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan dan kebutuhan operasional selama korban menjalani perawatan.

Mereka juga meminta adanya kepastian penanganan apabila anak kembali mengalami gangguan kesehatan setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Tuntutan berikutnya berkaitan dengan kepastian proses hukum terhadap pihak yang menjadi penyedia makanan MBG. Orang tua meminta penanganan perkara dilakukan secara transparan, termasuk perkembangan penyelidikan maupun penyidikan.

Mereka juga mempertanyakan legalitas Yayasan Manunggal Kartika Jaya serta bentuk kerja sama yayasan tersebut dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi () Karo Berastagi Sempajaya.

Selain itu, orang tua meminta pertanggungjawaban Kepala , ahli gizi, dan bagian akuntansi yang terlibat dalam pengelolaan program MBG.

Hasil Pemeriksaan Sampel Makanan Dipertanyakan

Dalam RDP, orang tua juga meminta hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor) terhadap sisa makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian keracunan.

Mereka ingin pemerintah menjelaskan secara terbuka zat atau kandungan yang menyebabkan ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan.

Desakan tersebut semakin menguat setelah orang tua mengetahui hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi terhadap sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tertanggal 16 Agustus 2026, sampel nasi dinyatakan positif mengandung Bacillus cereus. Sementara itu, ikan dencis bersaus positif mengandung Staphylococcus aureus, sedangkan sampel melon positif Escherichia coli (E. coli).

Bacillus cereus juga ditemukan pada sampel muntahan salah seorang korban.

Orang tua mempertanyakan mengapa hasil pemeriksaan tersebut baru mereka ketahui saat mengikuti RDP. Mereka menilai informasi mengenai kondisi makanan yang dikonsumsi anak-anak seharusnya disampaikan secara terbuka sejak awal.

Salah seorang korban bahkan dilaporkan kembali mengalami gangguan kesehatan setelah sempat diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kondisi tersebut membuat orang tua meminta pemerintah menyediakan posko pengaduan serta kontak yang dapat dihubungi jika keluhan kesehatan kembali muncul.

Siswi Korban Keracunan Sempat Alami Gangguan Ingatan

Sementara itu, kondisi salah seorang korban di Berastagi, Febiona Br Purba, siswi SMK Bersama Berastagi, juga masih menjadi perhatian keluarganya.

Orang tua Febiona, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), mengatakan putrinya sempat mengalami gangguan ingatan setelah mengalami kejang dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan.

"Saat mengalami kejang dan dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan, di situlah dia (F) mulai hilang ingatan. Sempat bibiknya datang dan dia tidak kenal. Kawan dan adiknya pun kalau datang dia tidak kenal," ujar Elvinus, Senin (7/9/2026).

Setelah menjalani perawatan di RSU Haji Medan, Febiona sempat berada di rumah selama sekitar satu pekan. Ia kemudian menjalani kontrol lanjutan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik.

Namun, pada Sabtu (5/9/2026), Febiona kembali mengalami kejang sehingga harus dilarikan ke RSU Amanda . Setelah menjalani perawatan selama dua hari, ia kembali menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H Adam Malik.

"Kondisinya sekarang lidahnya agak masuk ke dalam. Kalau ingatannya sudah mulai pulih. Namun, masih menunggu hasil pemeriksaan dari dokter," kata Elvinus.

Pada Senin pagi, Febiona menjalani pemeriksaan electroencephalography (EEG) di RSUP H Adam Malik. Setelah itu, ia menjalani pemeriksaan lanjutan di Poliklinik Neurologi dan Psikiatri.

Terjadi pada 13 Agustus

Kasus keracunan massal tersebut terjadi pada Kamis (13/8/2026). Ratusan siswa di Berastagi harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Sebagai tindak lanjut, BGN menghentikan operasional dapur SPPG yang berkaitan dengan kasus tersebut dan mencopot kepala SPPG.

Kepala BGN Sudaryono saat menemui keluarga korban pada 16 Agustus 2026 juga menyatakan lembaganya tidak akan lepas tangan dan akan mengawal penanganan kasus hingga selesai.

RDP di tersebut dihadiri Ketua DPRD Karo, Dandim 0205/TK, Kapolres Karo, jajaran SPPG, Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, serta sejumlah instansi terkait.

(Dra/nusantaratetkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru