Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Nama Indonesia Tercoreng, DPR Desak Investigasi Kasus Dugaan Riset Palsu WNI di Konferensi Internasional Denmark

DPR minta kasus dugaan riset palsu WNI di konferensi ISPPD Denmark diusut transparan demi nama baik Indonesia

Bagikan:
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian. (Foto: istimewa)
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Ketua Komisi X DPR menyoroti dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi ilmiah internasional International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Denmark. 

Menurutnya, kasus tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut dan nama baik Indonesia di tingkat global.

“Peristiwa dugaan pemalsuan riset oleh sejumlah WNI dalam konferensi ISPPD di Denmark tentu harus menjadi perhatian serius, karena menyangkut dan nama baik Indonesia di forum internasional,” katanya, Kamis (28/5/2026).

Hetifah mengaku menghormati penjelasan pemerintah melalui Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, yang menyebut para pihak yang diduga terlibat bukan merupakan dosen maupun peneliti aktif. Meski demikian, ia menilai penelusuran lebih lanjut tetap diperlukan untuk mencegah munculnya spekulasi di tengah masyarakat.

“Pernyataan Mendiktisaintek bahwa pihak yang diduga terlibat bukan dosen maupun peneliti aktif perlu dihormati sebagai penjelasan awal pemerintah, namun hal tersebut tidak serta-merta menutup perlunya penelusuran lebih lanjut agar informasi yang beredar tidak menimbulkan spekulasi publik,” ujarnya.

Ia menegaskan DPR mendorong investigasi dilakukan secara objektif, transparan, dan berbasis fakta. Selain itu, klarifikasi langsung dari pihak-pihak yang dituduhkan juga dinilai penting untuk mengungkap persoalan secara utuh.

“Kami pada prinsipnya mendorong investigasi yang objektif, transparan, dan berbasis fakta. Klarifikasi langsung dari para WNI yang dituduhkan juga penting dilakukan untuk memastikan persoalan secara utuh, termasuk menelusuri apakah benar terjadi pelanggaran etik akademik, kesalahan administratif, atau bahkan kesalahpahaman dalam proses konferensi tersebut,” lanjutnya.

Hetifah menilai langkah investigasi dan klarifikasi penting agar tidak ada pihak yang dirugikan tanpa dasar yang jelas. Ia juga berharap kasus ini menjadi bahan evaluasi tata kelola riset dan publikasi ilmiah di Indonesia.

“Kasus seperti ini, ke depan, harus menjadi evaluasi tata kelola riset dan publikasi ilmiah Indonesia. Kami tentu berharap dunia akademik tetap menjaga standar integritas tinggi, karena reputasi riset nasional merupakan bagian penting dari daya saing bangsa di tingkat global,” tuturnya.

Diketahui, konferensi ilmiah internasional berlangsung pada 17–21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark. Dalam forum tersebut, sekelompok periset asal Indonesia yang terdiri atas Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang dinilai sangat impresif.

Namun belakangan muncul dugaan bahwa penelitian yang dipresentasikan merupakan hasil fabrikasi dan tidak pernah benar-benar dilakukan. Para pelaku juga diduga memalsukan identitas.

Dugaan tersebut pertama kali diungkap oleh peneliti Ida Bagus Mandhara Brasika melalui unggahan di akun Threads miliknya.

“Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah , sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark,” tulis Mandhara Brasika.

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait