Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada akhir perdagangan Kamis (10/4/2025) Kurs Rupiah spot ditutup pada level Rp 16.823 per dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,30% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.873 per dolar AS.
Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS sore ini. Yen Jepang mencatat penguatan terbesar yakni 1,04%, won Korea menguat 0,71%.
Sementara, ringgit Malaysia menguat 0,63%, dolar Taiwan menguat 0,34%, rupiah menguat 0,30%, dolar Singapura menguat 0,12%, pesso Filipina menguat 0,04% dan yuan China menguat 0,03% terhadap dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760
Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS. Rupee India melemah 0,50%, baht Thailand melemah 0,21%, dan dolar Hong Kong melemah 0,04% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 102,39, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 102,90.
Pada perdagangan pagi Rupiah di pasar spot lanjut menguat di awal perdagangan hari ini. Kamis (10/4), rupiah dibuka di level Rp 16.830 per dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga : Rupiah Menguat di Awal Pekan, Dolar AS Tertekan ke Rp16.770
Ini membuat rupiah menguat 0,25% dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp 16.873 per dolar AS.
Hingga pukul 09.00 WIB, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah melonjak 9,2%.
Selanjutnya, yen Jepang yang terkerek 0,55% dan ringgit Malaysia terangkat 0,38%. Disusul, dolar Taiwan yang menanjak 0,37%.
Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.833 per Dolar AS, Mata Uang Asia Kompak di Zona Hijau
Berikutnya, peso Filipina terlihat naik 0,27% dan dolar Hongkong menguat tipis 0,006% di pagi ini.
Sementara itu, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,3%.
Kemudian ada dolar Singapura yang terkoreksi 0,2% dan yuan China melemah tipis 0,04% terhadap the greenback.
Baca Juga : Rupiah Rebound ke Rp16.775, Dolar AS Tertekan Jelang Rilis Data Tenaga Kerja
(wiwin/nusantaraterkini.co)
