Kisah Putra, Pengusaha Rumah Makan Padang yang Banting Setir Jadi Ojol di Tengah Program MBG
Dulu Habiskan 70 Kg Beras Sehari, Kini Rumah Makan Sepi Pembeli
Putra, pengusaha rumah makan Padang di Medan, banting setir menjadi ojol setelah usaha sepi dan tutup di tengah program Makan Bergizi Gratis.
Nusantaraterkini.co, MEDAN – Seragam driver ojek online bakal menjadi pakaian baru Putra, pemuda 22 tahun asal Medan yang harus banting setir setelah usaha rumah makan Padang yang dirintisnya bersama sang kakak tak lagi mampu bertahan.
Rabu (26/8/2026), Putra mendatangi Polrestabes Medan untuk mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Dokumen itu menjadi salah satu syarat yang diperlukannya untuk mendaftar sebagai pengemudi ojek online.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Rumah makan yang dikelolanya bersama sang kakak, Nanda, di sebuah ruko dua lantai di Jalan Setiabudi, Medan, telah berhenti beroperasi setelah penjualan terus mengalami penurunan.
Usaha kuliner tersebut mereka bangun sejak 2021. Putra bertugas melayani pelanggan, sedangkan Nanda lebih banyak berada di dapur untuk menyiapkan masakan.
Bagi Putra, lokasi rumah makan sebenarnya cukup menjanjikan. Ruko yang mereka sewa sekitar Rp75 juta per tahun itu berada di tepi jalan raya dan dekat dengan sejumlah sekolah dari jenjang SD hingga SMA.
Lantai atas ruko juga dimanfaatkan sebagai tempat kos dengan delapan kamar. Sementara area rumah makan mampu menampung sekitar 30 pelanggan.
Menu yang dijual pun relatif ramah di kantong. Sebagian besar makanan dibanderol sekitar Rp12 ribu, sedangkan rendang daging sapi dijual dengan harga berbeda.
Pada masa ramai, rumah makan tersebut mampu menghabiskan hingga 70 kilogram beras dalam sehari. Aktivitas jual beli biasanya berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Namun, kondisi perlahan berubah setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan di sekolah-sekolah sekitar.
Putra mengaku tidak bisa memastikan bahwa program tersebut menjadi satu-satunya penyebab turunnya jumlah pelanggan. Akan tetapi, ia merasakan perubahan cukup signifikan sejak siswa mendapatkan makanan gratis di sekolah.
“Sejak sekolah dapat makan gratis (MBG), berkurang. Anak-anak sekolah kan sudah dapat makan,” ujar Putra.
Jika sebelumnya rumah makan mereka bisa menghabiskan sekitar 70 kilogram beras per hari, penjualan kemudian turun menjadi sekitar 50 kilogram. Bahkan, jumlah tersebut tidak selalu habis terjual.
Menurut Nanda, penurunan omzet mulai terasa sejak awal 2026. Padahal, sebelum itu pelanggan dari kalangan pelajar menjadi salah satu penopang utama usaha mereka.
Ia masih mengingat bagaimana dua orang siswa bisa memesan hingga 20 bungkus makanan sekaligus. Pesanan juga kerap meningkat setiap Jumat ketika ada siswa yang membeli makanan untuk dibagikan kepada teman-temannya.
“Sebelumnya jangan tanya, rumah makan kami kan dekat sekolah. Kadang dua anak bisa pesan 20 bungkus. Belum lagi kalau hari Jumat, ada siswa yang pesan makanan buat dibagi-bagikan,” kata Nanda.
Di tengah berkurangnya pelanggan, persoalan lain ikut menghimpit usaha mereka. Biaya sewa tempat yang cukup tinggi harus dibayar, sementara harga berbagai bahan baku makanan terus mengalami kenaikan.
Nanda mencontohkan harga ayam yang kini bisa mencapai Rp45 ribu per kilogram. Menurutnya, harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yang masih berada di bawah Rp30 ribu per kilogram.
Kenaikan harga juga dirasakan pada sejumlah bahan lainnya, termasuk cabai dan ikan.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak usaha mereka semakin sempit. Di satu sisi jumlah pembeli menurun, sementara biaya operasional dan bahan baku justru meningkat.
Pada akhirnya, rumah makan yang mereka rintis sejak 2021 itu harus berhenti beroperasi pada September tahun lalu.
Putra pun memilih mencari jalan lain untuk tetap mendapatkan penghasilan. Menjadi driver ojek online menjadi pilihan yang dianggap lebih realistis setelah usaha kuliner yang selama ini menjadi sumber penghidupannya tidak lagi berjalan.
Kini, dengan SKCK di tangan, Putra bersiap memulai babak baru. Dari balik meja rumah makan dan aroma masakan Padang, ia akan berpindah ke jalanan, mengejar rezeki dari satu orderan ke orderan berikutnya.
Sementara itu, Nanda masih berusaha mencari peluang usaha lain setelah rumah makan yang mereka bangun bersama harus tutup.
Kisah Putra menjadi gambaran kecil bagaimana pelaku usaha kuliner di sekitar sekolah menghadapi perubahan pola konsumsi, persaingan biaya, serta tekanan harga bahan baku di tengah berlangsungnya program MBG.
(Ton/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KRIMINALGeger! Jasad Bayi Perempuan Ditemukan dalam Bungkusan Kain Merah di Tembung
hendra·36 menit yang lalu -
NEWSPastikan Pemenuhan Gizi Sesuai Standar, Kapolres Binjai Audit SPPG di Sendang Rejo
hendra·1 jam yang lalu -
POLITIKSoroti Ranperda Pajak, Fraksi PKS DPRD Medan Minta Pemko Jaga Daya Beli Warga
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
PERISTIWADemo DPRD Sumut, KAMMI Soroti Seleksi KPID dan Alokasi Dana Reses
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
POLITIKNusron Wahid Akui Mundur dari Kepengurusan Golkar, Alasan Diserahkan ke Bahlil
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
-
KRIMINALCekcok Biaya Anak Berujung Maut, Istri di OKI Tusuk Suami PNS hingga Tewas
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
SUMSELBPBD Sumsel Kerahkan Helikopter Water Bombing Padamkan Karhutla Puluhan Hektare di OKI dan Muara Enim
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NEWS VIDEOHotel di Bali Berguguran, DPR Soroti Tiket Mahal hingga Infrastruktur
Fadli Tara·3 jam yang lalu -
KRIMINALBawa 480 Gram Sabu dari Medan ke Aceh, Penumpang Travel Ditangkap
Rozie Winata·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan