Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Karhutla di Suaka Margasatwa Padang Sugihan Capai 2.300 Hektare, BKSDA Siaga Lindungi Pusat Konservasi Gajah

Karhutla di Suaka Margasatwa Padang Sugihan capai 2.300 hektare. BKSDA Sumsel siagakan 7 posko dan helikopter

Kepala Balai BKSDA Sumatera Selatan, Daniwari Widiyanto saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2026). (Foto: tia/nusantaraterkini.co)
Kepala Balai BKSDA Sumatera Selatan, Daniwari Widiyanto saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2026). (Foto: tia/nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) menyebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, mulai muncul sejak pekan pertama Agustus 2026.

Diperkirakan, kini kebakaran telah menghanguskan sekitar 2.300 hektare lahan.

“SM Padang Sugihan itu memang sejak awal Agustus ya, minggu pertama Agustus itu sudah ada beberapa fire spot yang muncul. Tapi relatif bisa dikendalikan oleh tim posko yang ada di sana,” ujar Kepala Balai BKSDA Sumatera Selatan, Daniwari Widiyanto saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2026).

Daniwari mengatakan, sejumlah titik api masih ditangani dan dipadamkan oleh tim gabungan. Penanganan dilakukan oleh Brigdal Karhutla dengan dukungan , Balai Dalkarhut Sumatera, serta TNI.

“Saat ini masih ada beberapa fire spot yang sedang ditangani, dipadamkan oleh tim gabungan yang ada di sana. Ada posko-posko dari Brigdal Karhutla, , kemudian backup dari , Balai Dalkarhut Sumatera, TNI, kemudian Satgas Darurat Bencana Asap Provinsi Sumsel juga mendukung dengan water bombing menggunakan helikopter,” jelasnya.

Menurutnya, titik-titik api lama telah berhasil dikendalikan. Namun, titik api baru kembali muncul sejak 29 Agustus di kawasan SM Padang Sugihan, khususnya sekitar Posko Tambatan.

“Untuk fire spot yang lama itu sudah bisa kita kendalikan. Tapi sejak tanggal 29 Agustus itu muncul lagi fire spot baru di SM Padang Sugihan, tepatnya di daerah Posko Tambatan. Karena memang anginnya cukup kencang, sehingga api relatif cepat menyebar,” ungkapnya.

Tim di lapangan terus melakukan pemadaman secara optimal dengan dukungan personel gabungan. Selain itu, Satgas juga mengirimkan helikopter untuk melakukan WB setiap hari.

“Tim di darat secara optimal melakukan pemadaman, dibantu oleh Manggala Agni, Balai Dalkarhut Sumatera, TNI. Kemudian Satgas juga mengirimkan helikopter untuk WB setiap hari,” lanjutnya.

Ia menuturkan penanganan tersebut mampu mengurangi dampak kebakaran yang lebih luas. Meski belum seluruh titik api berhasil dipadamkan, penyebaran api masih dapat dikendalikan.

“Dengan penanganan seperti itu, alhamdulillah dampaknya tidak terlalu besar. Memang belum bisa padam seluruhnya, tetapi setidaknya penyebarannya masih bisa kita kendalikan,” tuturnya.

Berdasarkan perhitungan terakhir, luas kawasan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 2.300 hektare. Sementara itu, total luas SM Padang Sugihan mencapai sekitar 88.000 hektare.

Di dalam kawasan tersebut terdapat 7.350 hektare yang diperuntukkan sebagai wildlife protection unit atau (PKG) Jalur 21.

Ia menyampaikan BKSDA terus berupaya agar api tidak meluas ke kawasan tempat konservasi gajah tersebut. Saat ini terdapat 29 gajah binaan di kawasan PKG Jalur 21, termasuk satu gajah yang lahir pada 17 Agustus.

“Kita tentu berharap api ini tidak sampai masuk ke area gajah. Karena di sana ada 7.350 hektare yang merupakan wildlife protection unit, Jalur 21. Di sana ada 29 gajah binaan, termasuk ada satu yang lahir tanggal 17 Agustus,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BKSDA menempatkan tujuh posko di kawasan SM Padang Sugihan. Posko tersebut berasal dari Brigdal Karhutla BKSDA Sumsel bersama masyarakat.

“Di SM Padang Sugihan itu kita sudah menempatkan tujuh posko, dari Brigdal Karhutla BKSDA Sumsel bersama masyarakat. Jadi personel ada di sana 24 jam,” tambahnya.

Keberadaan posko tersebut tidak hanya untuk melakukan pemadaman, tetapi juga sosialisasi, penjagaan, serta mempercepat respons apabila ditemukan titik api.

Tujuh posko itu juga turut mengamankan kawasan PKG Jalur 21 sebagai lokasi perlindungan dan penyelamatan satwa gajah.

Ia menjelaskan kondisi angin yang kerap berubah menjadi salah satu tantangan dalam mencegah api mendekati kawasan gajah. Karena itu, tim PKG Jalur 21 tidak hanya melakukan pemadaman dan patroli, tetapi juga pembasahan.

“Karena arah angin ini kan sering berubah, jadi tim di PKG Jalur 21 itu selain melakukan pemadaman, patroli, juga melakukan pembasahan. Jadi jangan sampai ada bara atau potongan-potongan api yang terbawa angin, kemudian menjadi api,” jelasnya.

Selain penanganan di lapangan, BKSDA juga melakukan intervensi pengelolaan hidrologi di bagian selatan Padang Sugihan. Upaya tersebut dilakukan melalui pembuatan flat gate dan sekat kanal di 10 titik.

“Di selatan Padang Sugihan itu kita juga sudah melakukan intervensi hidrologi, dengan membuat flat gate dan sekat kanal 10 titik. Itu untuk menjaga supaya air tetap ada, sehingga gambutnya tetap basah dan bisa meminimalisasi terjadinya kebakaran,” tegasnya.

Dirinya berharap berbagai langkah pencegahan tersebut dapat membantu meminimalkan potensi kebakaran di kawasan konservasi.

“Dengan intervensi-intervensi pencegahan seperti itu, kita berharap bisa meminimalisasi terjadinya kebakaran,” ucapnya.

Terkait asal api, ia menyebut terdapat laporan mengenai adanya loncatan api dari luar kawasan SM Padang Sugihan. Sejumlah kawasan di luar suaka margasatwa sebelumnya telah terbakar.

“Kalau dari laporan yang kita terima, memang ada loncatan api dari luar SM Padang Sugihan. Jadi beberapa daerah di luar SM itu sudah terbakar, kemudian karena anginnya cukup kencang, ada loncatan api yang masuk ke kawasan suaka margasatwa, sehingga menjadi fire spot di dalam,” pungkasnya.

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait