Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (5/3/2025) harga minyak mentah terus turun selama tiga sesi berturut-turut di pasar apot.
Hal ini dipicu oleh rencana OPEC+ untuk meningkatkan produksi pada April serta kekhawatiran bahwa tarif baru Amerika Serikat terhadap Kanada, Meksiko, dan China akan memperlambat pertumbuhan ekonomi serta menekan permintaan bahan bakar.
Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, minyak mentah Brent turun 0,3% menjadi US$70,80 per barel. Sementara minyak WTI turun 0,9% menjadi US$67,68 per barel.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Terkoreksi Dipicu Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Volodymyr Zelenskiy
Penurunan ini terjadi setelah kontrak minyak mendekati level terendah dalam beberapa bulan pada sesi sebelumnya.
OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan produksi minyak untuk pertama kalinya sejak 2022, dengan tambahan 138.000 barel per hari mulai April.
Langkah ini merupakan awal dari rencana peningkatan bertahap untuk mengurangi pemangkasan produksi sebesar 6 juta barel per hari yang diterapkan sebelumnya.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Turun Hampir US$1
Di sisi lain, kebijakan tarif AS yang diberlakukan Presiden Donald Trump menambah tekanan pada pasar minyak.
Tarif 25% untuk semua impor dari Meksiko, 10% untuk energi dari Kanada, dan kenaikan tarif barang China hingga 20% mulai berlaku pada Selasa (4/3).
Kebijakan ini berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menekan permintaan minyak.
Baca Juga : Pasar Minyak dalam Gejolak: Premi Risiko Geopolitik Iran dan Rebut Pasokan Venezuela
Selain itu, pemerintahan Trump mengumumkan penghentian izin operasi perusahaan minyak AS, Chevron, di Venezuela.
Langkah ini berpotensi mengurangi pasokan sebesar 200.000 barel per hari, yang bisa membuat kilang AS mencari sumber minyak mentah berat alternatif dari negara lain seperti Kanada dan Meksiko—yang kini terkena tarif baru.
Sementara itu, stok minyak mentah AS turun 1,46 juta barel dalam pekan yang berakhir 28 Februari, menurut American Petroleum Institute.
Baca Juga : Harga Minyak Dunia Turun Tajam Hampir 2% Dipicu Tarif 50% Terhadap Produk Asal Uni Eropa
Investor kini menantikan data resmi pemerintah terkait persediaan minyak AS yang akan dirilis pada Rabu.
